Laptop terbuka. Cursor berkedip di pojok kanan atas halaman kosong. Tapi kali ini, Raya tidak bimbang.
Ia tahu siapa yang akan ditulisnya hari ini.
Tokoh barunya bukan sosok gagah, bukan pula pria berlidah manis. Ia bukan pahlawan dalam balutan armor, bukan juga karakter tragis yang penuh luka masa lalu.
Ia hanya seorang lelaki—yang tidak punya nama. Yang selalu datang dengan dua cangkir kopi, dan diam-diam mengerti dunia tanpa harus banyak bertanya.
Dalam ceritanya, lelaki itu bekerja di kedai kecil, memakai celemek dan kadang lupa merapikan rambut. Ia tidak puitis, tapi komentarnya sering membuat si tokoh utama diam-diam ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan.
Raya menulis dengan lancar. Jari-jarinya bergerak seperti sudah lama menahan cerita itu. Dan ketika naskah draft bab pertama selesai, dia mencetaknya diam-diam.