Sudah tiga hari sejak Raya menyerahkan naskah itu. Tiga hari penuh kopi, keyboard, dan pura-pura sibuk.
Setiap ia duduk di sudut jendela, pikirannya bukan tentang naskah baru—melainkan map polos yang kini entah ada di mana. Apakah Egi sudah membacanya? Apakah dia paham? Apakah dia... merasa itu tentang dirinya?
Egi tetap seperti biasa. Menyapa dengan senyum tipis, sesekali melempar lelucon, dan membuat flat white yang kini nyaris sempurna. Tapi tidak ada satu kata pun tentang naskah itu.
Dan itu membuat Raya makin gelisah.
Sampai hari ini.
Egi meletakkan secangkir kopi di meja Raya. Tak ada label nama, tak ada ucapan. Hanya diam, lalu duduk di kursi seberang. Mata mereka bertemu. Ada jeda. Lama.
“Tokoh laki-laki di cerita itu,” ujar Egi akhirnya. “Dia... terasa nyata.”
Raya menahan napas. “Iya?”