Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #9

END of ACT I

Hari berganti. Waktu tetap berjalan, meski rasanya lambat di hati yang belum bisa menentukan arah.

Raya masih datang ke Kopitaloka, masih duduk di pojok jendela yang sama. Flat white-nya kini nyaris selalu pas. Tapi ada yang berubah, meski tak bisa dijelaskan.

Egi tetap menyapa, tetap membuatkan kopi, tetap... diam.

Dan Raya? Masih menulis. Tapi tidak sebanyak dulu. Kata-kata terasa berat, seperti harus melewati kabut dalam dadanya dulu sebelum sampai ke layar.

Hari itu, saat senja merambat turun, Egi menghampirinya lagi. Tapi bukan membawa kopi—melainkan secarik kertas. Bukan naskah, bukan puisi. Hanya gambar sketsa cepat—tangan Egi yang menggambarkan seorang perempuan duduk di depan laptop, rambutnya diikat asal, dengan wajah serius.

Raya menatap gambar itu. Lalu menatap Egi.

“Kamu gambar ini?”

Egi mengangguk. “Dari sudut bar. Kamu sering kayak gitu.”

“Kenapa kasih ke aku?”

Egi menunduk sebentar. “Karena... aku pengin kamu tahu bahwa ada yang memperhatikan, bahkan saat kamu nggak sadar.”

Lihat selengkapnya