Sekitar tiga bulan sebelum acara pekan kreativitas di kampus, Egi pernah berada pada situasi finansial yang sangat parah. Setelah membayar sewa kost bulanan, uang yang ada di dompetnya hanya sisa beberapa lembar saja. Dua-tiga kali dipakai membayar makan bakal habis.
Maka dia memutuskan untuk berhemat dengan pola yang dirancangnya sendiri: makan cukup sekali dalam sehari, sisanya cukup diganjal dengan es teh manis. Menurut perhitungannya cara ini bisa memperpanjang sisa uangnya untuk empat hari ke depan. Cukup waktu untuk berjualan ikan cupang dan mendapat tambahan uang makan dari situ.
Pada hari ke-empat, ternyata penjual ikan hias yang jadi langganannya minta tempo untuk membayar esok harinya. Egi berjalan pulang dengan wajah kusut dan langkah lunglai, hoodie abu-abu favoritnya menyerap sisa rintik hujan yang baru saja reda.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan. Tugas-tugas kuliah menumpuk, organisasi kampus menuntut waktu, dan di atas semua itu, keinginannya untuk mandiri semakin menguat. Ia tak ingin selamanya bergantung pada kiriman uang dari rumah. Ia ingin mengukir jalannya sendiri, meski baru dengan langkah-langkah kecil.
Saat melewati gang sempit di belakang kampus, matanya terpaku pada selembar kertas yang menempel di tiang listrik yang berkarat. Kertas itu bergoyang pelan tertiup angin, seolah melambai kepadanya.
Dengan rasa penasaran, Egi mendekat.