Sore itu, udara membawa aroma tanah basah yang samar, bercampur dengan debu kota dan wangi sisa hujan. Egi berdiri di depan sebuah bangunan tua berlantai satu, dengan papan kayu kecil tergantung di atas pintu masuk bertuliskan "Kopitaloka". Huruf-hurufnya tak sempurna, sedikit pudar, seakan menolak jadi bagian dari dunia yang terlalu tergesa.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu.
Suara lonceng kecil berdenting, disambut udara hangat yang dipenuhi aroma kopi segar dan kayu tua. Ruangan itu tidak besar, tapi terasa lega. Rak buku memenuhi satu sisi dinding, meja-meja kayu tersebar dengan jarak cukup lega, lampu-lampu temaram menggantung rendah menciptakan suasana yang hampir seperti ruang tamu seorang teman lama.
Saat itu hujan mendadak turun kembali, fokus Egi langsung buyar. Alih-alih langsung menemui pemilik kedai untuk menyampaikan maksud kedatangannya, Ia hanya memesan teh panas termurah yang tersedia. Lalu duduk di bangku paling belakang. Sendirian.
Selama hampir dua jam. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada percakapan besar. Tidak ada momen sinematik. Hanya seorang anak muda yang sedang bingung memikirkan hidup. Dan seorang pemilik kedai yang membiarkannya duduk tanpa merasa diusir.
Ketika hendak pulang, Egi menyadari dompetnya tertinggal di rumah. Wajahnya langsung pucat. Ia sudah siap dimarahi. Siap dipermalukan. Siap diminta meninggalkan kartu identitas. Namun Sena, si pemilik kedai, hanya tertawa.
"Besok juga boleh."
"Hah?"
"Bayarnya."
"Serius?"
"Emang saya kelihatan bercanda?"
Egi langsung pamit pulang dengan rasa bersalah, seraya berjanji untuk kembali lagi besok. Dia sampai lupa bahwa kedatangannya hari itu sebenarnya mau menanyakan soal lowongan sebagai barista.