Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #15

LATTE SALAH DAN BUKU KELIRU

Hari-hari pertama Egi di Kopitaloka terasa seperti latihan sabar. Ia belajar membersihkan mesin espresso, mencatat rasio pour over, sampai menghafal seluk-beluk menu sederhana yang hanya terdiri dari kopi hitam, cappuccino, flat white, dan beberapa teh pilihan.

Sena tak banyak bicara saat mengajarinya. Ia hanya menunjukkan sekali, lalu membiarkan Egi belajar dengan caranya sendiri. Kadang berhasil, lebih sering tidak. Tapi di antara percikan uap dan aroma kopi, Egi menemukan kegembiraan kecil: bahwa tak semua hal harus sempurna untuk menjadi berharga.

Suatu sore, saat hujan rintik-rintik menggelayuti jendela Kopitaloka, seorang pelanggan masuk. Gadis berambut sebahu, mengenakan sweater krem dan membawa laptop serta beberapa buku tebal. Ia mengambil tempat di pojok, di bawah rak buku bertuliskan "Bacaan Untuk Yang Mau Diam Sedikit Lebih Lama".

Egi memperhatikan dari balik meja bar, berusaha mengingat tugasnya: senyum, tanya pesanan, lalu catat dengan rapi.

"Flat white, tolong," kata gadis itu, suaranya tenang tapi jelas.

"Baik," jawab Egi, sedikit gugup.

Di dapur kecil, Egi buru-buru menyiapkan pesanan. Namun karena musik lembut di latar belakang dan degup jantungnya yang entah kenapa makin cepat, ia salah dengar. Ia malah membuat cappuccino dengan busa tebal di atasnya.

Lihat selengkapnya