Hari-hari berlalu seperti lembar-lembar kalender yang diterbangkan angin. Egi makin terbiasa dengan ritme Kopitaloka: aroma kopi di pagi hari, denting lonceng di pintu, suara halaman buku yang dibalik pelan, dan tentu saja, kehadiran Raya di sudut favoritnya.
Mereka tak selalu bicara panjang. Kadang hanya bertukar senyum, kadang hanya sapaan singkat saat Egi mengantarkan kopi. Tapi ada sesuatu dalam keheningan itu yang perlahan tumbuh. Seperti benih kecil yang tidak butuh disiram berlebihan untuk tetap hidup.
Suatu sore, saat Egi mengantar secangkir flat white — kali ini tanpa salah — ia melihat laptop Raya penuh dengan draft-draft kalimat. Ada satu yang terhenti di layar, seolah ragu untuk diselesaikan:
"Ada rasa yang tumbuh di antara jeda, yang tak tahu harus ditanam atau dibiarkan liar."
Egi menahan diri untuk tidak bertanya. Tapi di dalam dirinya, kalimat itu bergetar, seolah mengetuk sesuatu yang belum pernah ia buka.