Kopitaloka sore itu lebih sibuk dari biasanya. Hujan deras mengguyur kota, membuat banyak pengunjung memilih berteduh lebih lama sambil memesan kopi tambahan. Egi sibuk bolak-balik dari dapur kecil ke bar, sesekali melirik sudut favorit tempat Raya biasa duduk.
Raya ada di sana, seperti biasa. Tapi hari ini, ia tidak sendiri.
Sena duduk di meja yang sama, membawa dua cangkir kopi. Mereka berbicara pelan, tertawa kecil, sesekali mata Raya berbinar dengan cara yang berbeda. Bukan seperti saat ia ngobrol santai dengan Egi. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih lama mengendap di tatapannya.
Dari balik mesin espresso, Egi memperhatikan tanpa sadar. Ia tidak mendengar kata-kata mereka, tapi ia bisa membaca bahasa tubuhnya. Bagaimana Raya sedikit condong ke depan, bagaimana tawa kecilnya terdengar lebih ringan.
Ada sesuatu yang menusuk perlahan di dada Egi. Bukan kemarahan, bukan cemburu membabi buta. Lebih seperti rasa takut: takut bahwa apa yang ia rasakan, apa yang perlahan tumbuh di hatinya, mungkin hanya sepihak.