Kopitaloka sore itu sunyi, hanya denting sendok yang sesekali bertemu cangkir, dan suara rintik hujan kecil di luar jendela. Egi baru saja selesai menggiling biji kopi saat Raya datang, tanpa laptop hari ini, hanya membawa sebuah buku catatan kecil berwarna biru.
"Aku mau kopi spesial, boleh?" tanya Raya sambil meletakkan catatannya di meja bar.
"Spesial seperti apa?" balas Egi, menahan senyum.
"Bebas. Yang penting, dibuat dari tangan yang lagi bahagia."
Egi tertawa pelan. Ada sesuatu di mata Raya yang berbeda hari itu: lebih ringan, lebih dekat.
Ia membuatkan flat white dengan hati-hati, mencoba menuangkan perasaannya lewat tiap gerakan kecil. Saat menyerahkan cangkir itu ke Raya, ia mendapati gadis itu sudah menulis sesuatu di sampul buku catatannya.
"Mau lihat?" tanya Raya, mendongak.