Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #20

LANGIT YANG AMBRUK DALAM DIAM

Sabtu sore. Kopitaloka lebih sunyi dari biasanya. Hujan baru saja berhenti, menyisakan sisa embun di kaca jendela. Egi duduk di meja paling dekat dengan rak buku, mengenakan hoodie abu-abunya yang mulai usang. Di tangannya, secarik kertas kecil berisi kata-kata yang ia susun semalaman.

Raya datang, mengenakan sweater biru tua, rambutnya diikat seadanya. Senyum kecilnya masih sama seperti biasa, hangat dan tenang. Tapi bagi Egi, hari ini dunia terasa berbeda. Terlalu penuh, terlalu cepat.

Mereka berbincang ringan lebih dulu. Tentang cuaca, tentang buku, tentang tugas-tugas yang menumpuk. Lalu, di tengah percakapan itu, Egi mengeluarkan kertas kecilnya, lalu menatap Raya dengan mata yang sedikit gemetar.

"Raya..."

Gadis itu mengangkat wajahnya, menunggu.

"Aku suka sama kamu," kata Egi, suara seraknya nyaris kalah oleh suara hujan kecil yang kembali turun. "Aku suka caramu tersenyum, caramu diam sambil ngetik, caramu nahan tawa kalau aku salah buatin kopi. Aku suka semuanya."

Raya diam. Matanya teduh, tapi ada riak kecil yang sulit ditebak.

"Aku mau..." Egi menarik napas, "aku mau kita... jadi lebih dari teman."

Hening.

Lihat selengkapnya