Di Antara Dua Musim

Indra Afriza Arsad
Chapter #21

END OF ACT II

Beberapa hari setelah pengakuan yang gagal itu, Egi menjalani hari-harinya di Kopitaloka seperti biasa — setidaknya di mata orang lain. Ia tetap datang tepat waktu, tetap membuat kopi, tetap tersenyum pada pelanggan.

Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mati.

Ia menghindari sudut tempat biasa Raya duduk. Ia sibuk mengelap meja-meja kosong berulang-ulang, seolah berharap bisa menghapus rasa sakit dari hatinya. Ia berbicara seperlunya, bahkan pada Sena. Hanya kopi dan tugas yang mengisi waktunya.

Raya tetap datang. Kadang-kadang ia menyapanya, dan Egi membalas dengan senyum yang dipaksakan. Ia tidak bisa marah pada Raya. Ia tahu itu bukan salah gadis itu. Tapi tetap saja, rasa perih itu ada, menggerogoti perlahan.

Malam-malamnya menjadi lebih panjang. Ia terjaga di atas ranjang sempitnya, menatap plafon yang gelap. Pertanyaan-pertanyaan bodoh berputar di kepalanya: "Kenapa bukan aku? Apa yang kurang dariku? Apa aku terlalu cepat? Terlalu biasa?"

Tidak ada jawaban.

Lihat selengkapnya