Titah menatap lekat jalanan yang sunyi senyap di hadapannya. Pandangannya beralir ke kiri dan ke kanan, raut cemas tak bisa ia sembunyikan di wajah cantiknya. Di tangannya, sebuah senjata api rakitannya sendiri sudah siap digunakan.
Berulang kali ia menurunkan dan menaikkan kaca mobil, memastikan tak ada satu pun mata yang mencurigai keberadaannya.
"Sial! Kenapa lama sekali?" gerutunya kasar sambil menepuk kemudi.
Matanya melirik jam di pergelangan tangan. Sudah pukul sepuluh malam. Mengapa target yang ia tunggu tak kunjung muncul?
Langit di atasnya kini tertutup awan hitam pekat. Tak ada bintang yang bersinar, hanya guruh yang sesekali menggelegar memecah keheningan.
"Sebentar lagi hujan akan turun. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya," gumamnya pelan.
Ia segera turun dari mobil. Dengan tenang, ia menyembunyikan senjatanya ke dalam saku blazer, lalu membuka kap mobil seolah sedang memeriksa kerusakan. Di luar ia tampak tenang, namun di dalam dada, jantungnya berdegup kencang karena takut dan gelisah.
"Jika misi ini gagal, bukan hanya pekerjaanku yang hilang. Nyawaku pun menjadi taruhannya," batinnya dengan wajah yang perlahan memucat.
Tak lama kemudian, dari arah berlawanan tampak sebuah mobil sport mewah melaju kencang. Titah mengamati kendaraan itu saksama, hingga akhirnya senyum kemenangan terukir di bibirnya. Rasa takutnya seketika lenyap berganti tekad bulat.
Ia membungkuk, pura-pura sibuk mengutak-atik bagian mesin.
Pria yang mengemudikan mobil itu—seorang lelaki tampan bermata cokelat indah—perlahan menurunkan kecepatannya. Ia melihat sosok gadis yang tampak kebingungan di pinggir jalan sepi itu.
"Gadis apa yang berani berada di tempat seperti ini malam-malam begini? Bukankah daerah ini dikenal rawan perampokan?" batinnya heran.
Rasa penasaran membuatnya berhenti. Ia turun dan menghampiri gadis berblazer hitam itu.
"Permisi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
Titah menoleh seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok di hadapannya. Ia menelan ludah dengan susah payah.
Inikah orang yang ditunggunya?
"Siapa kamu?" tanyanya sambil mundur selangkah.
"Saya hanya kebetulan lewat. Saya melihat Nona tampak kesulitan. Apakah ada kerusakan? Boleh saya bantu?" tawarnya lagi.
"Tidak perlu," jawab Titah ketus.
Pria itu justru tersenyum tipis. Ia mendekat ke arah kap mobil dan melihat sekilas.
"Sepertinya ada kabel yang lepas, Nona. Biar saya perbaiki. Sambil menunggu, lebih baik Nona berdiri di dekat sini. Tempat ini sepi dan berbahaya jika Nona menjauh," ujarnya sambil mulai bekerja.
"Baiklah," sahut Titah singkat, namun di sudut bibirnya terukir senyum yang aneh.
Beberapa menit berlalu, mesin mobil pun berhasil dihidupkan kembali.
"Selesai sudah," katanya sambil menepuk-nepuk debu di tangannya.
"Terima kasih," jawab Titah masih dengan senyum itu. Perlahan ia memasukkan tangannya ke dalam saku blazer.
"Eh, tidak usah dibayar. Saya menolong dengan ikhlas," tolak pria itu sopan.
"Sekali lagi terima kasih... Tapi ini adalah bayaran yang paling pas untukmu."
Setelah mengucap itu, tangan Titah meraih sesuatu dari dalam saku.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Hembusan napas panjang keluar dari bibirnya. Titah meniup ujung laras pistol dengan senyum penuh kemenangan. Empat kali pelatuk ditarik, dan kini pria di hadapannya tergeletak bersimbah darah.
Ia menembak tepat di kepala dan perut pria yang baru saja menolongnya itu.
Afgansyah Reza—pria yang tampak berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun—menatapnya dengan pandangan sayu. Tubuhnya yang lemah berusaha merangkak, tangannya gemetar meraih ujung pakaian Titah.
"A... Apa yang ka...mu lakukan..." suaranya tersendat, nyaris tak terdengar di antara rintihan kesakitan.
Dengan senyum getir, Titah berjongkok tepat di hadapan wajah pria yang mulai memucat itu.