Suasana di ruang tamu kediaman keluarga Adiningrum terasa sebeku es. Aroma teh melati yang biasanya menenangkan, kini justru tercium menjijikkan dan membuat perut Shanum mual. Di balik selembar kain hitam yang menutupi seluruh wajahnya, hanya tersisa sepasang mata bening yang kini menyala menahan amarah. Shanum menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya, seolah tak mengenali pria yang selama ini ia hormati itu.
Di hadapannya, Bambang Adiningrum duduk terpekur dengan wajah yang tampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Sementara di sudut ruangan, Syifa, adik kandung Shanum, bersimpuh di lantai sambil mengeluarkan isakan tangis yang terdengar dibuat-buat dan berlebihan.
"Tidak, Yah. Shanum tidak bisa melakukan hal ini," suara Shanum terdengar lembut karena teredam kain cadar, namun ketegasan dan penolakannya sama sekali tidak goyah.
Bambang menggebrak permukaan meja jati di hadapannya hingga benda-benda di atasnya bergetar. "Lalu siapa lagi kalau bukan kau? Adikmu ketakutan setengah mati! Dia secara tidak sengaja merusak kesepakatan bisnis paling besar yang pernah keluarga kita lakukan dengan keluarga Alfarizzi. Dan satu-satunya cara agar kita tidak jatuh miskin, hancur lebur, bahkan dipenjara, adalah dengan memenuhi janji pernikahan ini!"
Shanum mengalihkan pandangannya ke arah Syifa dengan perasaan perih yang menusuk dada. "Syifa sendiri yang menjanjikan dirinya untuk dinikahkan dengan Ghazi Alfarizzi. Sekarang, setelah dia tahu betapa dingin, kejam, dan mengerikannya pria itu, kenapa justru aku yang harus menjadi tumbal demi menyelamatkan kesalahan dia?"
Syifa merangkak mendekat ke arah kakaknya, tangan mungilnya terulur hendak memegang ujung pakaian Shanum, namun urung bergerak saat ia menangkap sorot mata tajam dan dingin yang dilontarkan kakaknya.
"Kak... Tolong aku. Kabar yang beredar itu benar. Ghazi itu sama sekali tidak punya hati nurani. Aku dengar dia tidak segan-segan menghancurkan hidup dan masa depan orang lain hanya karena masalah sepele yang menyinggung egonya. Aku takut, Kak! Aku pasti tidak akan kuat hidup di samping pria mengerikan seperti dia," rengek Syifa penuh kepura-puraan.
"Dan kau kira aku tidak memiliki rasa takut yang sama?" Shanum berdiri tegak, lalu merapikan ujung abaya hitam panjang yang ia kenakan dengan gerakan tenang namun penuh wibawa.
Shanum tahu persis siapa sosok bernama Ghazi Rayyan Alfarizzi itu. Seorang konglomerat muda yang sangat sukses, berpengaruh luas, namun dikenal bertangan besi dan kejam tanpa ampun. Hal yang lebih membuat Shanum merasa resah dan gelisah adalah fakta bahwa Ghazi dikenal sebagai pria yang tidak memedulikan nilai-nilai agama dan norma kebaikan.
Menikah dengan pria seperti itu, bagi Shanum, sama saja dengan melompat masuk ke dalam sumur gelap yang tidak memiliki dasar, tempat di mana cahaya dan kebaikan tidak akan pernah bisa menjangkaunya.
"Shanum..." suara ibunya, Sri Wulandari, terdengar parau dan memelas. "Hanya kau yang memiliki keteguhan hati dan kekuatan untuk bisa menghadapi pria sekeras dan seberbahaya itu. Kau teguh pada pendirianmu, kau memiliki prinsip hidup yang kuat, dan kau pandai menjaga diri. Tolong... Selamatkan masa depan keluarga kita. Perusahaan Ayah akan segera disita oleh pihak berwenang besok pagi jika akad nikah ini batal dilakukan."
Tepat saat Shanum hendak melontarkan kata-kata penolakan yang tegas dan keras, pintu besar ruang tamu itu tiba-tiba terbuka lebar tanpa ada yang mengetuk atau mempersilakan. Seorang pria berdiri tegak di sana, mengenakan setelan jas gelap yang dipadukan dengan kemeja hitam yang sangat rapi dan mahal. Aura yang ia pancarkan begitu mendominasi dan kuat, membuat ruangan yang luas dan mewah itu seketika terasa sempit, pengap, dan menekan.
Tidak ada keraguan sedikit pun. Sosok yang berdiri di sana adalah Ghazi Rayyan Alfarizzi.
Sepasang mata elangnya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan yang mengintimidasi, sebelum akhirnya berhenti dan tertuju tepat pada sosok Shanum. Ia tampak sedikit tertegun dan terkejut, seolah tidak menyangka bahwa calon pengantin pengganti yang dipilih untuknya adalah seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuh dan wajahnya, hingga hanya menyisakan sepasang mata bening yang kini menatapnya tajam, seolah mampu menembus dan membaca isi hati gelapnya.
Ghazi melangkah masuk dengan santai dan tanpa permisi. Suara hentakan sepatu kulitnya yang berat beradu dengan lantai marmer yang dingin, menciptakan irama langkah yang terdengar mengancam dan membuat nyali siapa saja yang mendengarnya ciut seketika.
"Aku datang ke sini bukan untuk mendengarkan sandiwara penolakan yang menyedihkan ini," suara Ghazi terdengar rendah, berat, dan penuh penekanan yang membuat suasana semakin mencekam.
Ia berhenti berdiri tepat di hadapan Shanum, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat. Meski tubuh dan wajah Shanum tertutup rapat oleh kain, ia bisa merasakan betapa tajam dan menyelidiknya tatapan mata pria itu, seolah ingin merobek cadar yang ia kenakan demi melihat wajah di baliknya. Ghazi merundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Shanum, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat dingin, datar, dan berbahaya.
"Kau pikir kain cadar yang kau pakai itu mampu melindungimu dari kewajiban dan takdir yang menantimu ini? Pilihannya sangat sederhana, Nona. Kau duduk tenang di sampingku saat akad nikah dilaksanakan besok pagi, atau kau berdiri diam dan saksikan ayahmu sendiri diseret oleh petugas ke penjara karena kasus penggelapan dana dan penipuan bisnis yang baru saja berhasil kutemukan buktinya."