Di Balik Cadar Sang Pengganti

Titah Kesumawardani
Chapter #2

Mahar Neraka

Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar Shanum justru terasa semakin berat, pengap, dan menyesakkan napas. Baru saja menunaikan salat Magrib, Shanum tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih bersimpuh di atas sajadah, dengan mukena putih yang masih rapi melingkar di tubuh dan kepalanya. Di dalam keheningan yang menyelimuti ruangan itu, bayang-bayang wajah pria yang baru saja bertemu dengannya terus bergelayut kuat di dalam pikirannya. Ghazi Rayyan Alfarizzi. Wajah yang diakui banyak orang sangat tampan dan sempurna, namun memiliki sepasang mata yang sedingin es dan mampu membekukan aliran darah siapa pun yang berani menatapnya.

"Rayyan..." bisik Shanum lirih, nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang penuh ketakutan dan kepedihan.

Nama yang terdengar gagah, agung, dan penuh wibawa di telinga orang lain, namun bagi Shanum, bunyi nama itu persis seperti isyarat berakhirnya segala kebebasan, harapan, dan masa depan yang pernah ia impikan selama ini.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan namun tegas terdengar memecah keheningan malam itu. Shanum sama sekali tidak menjawab atau menyuruh masuk, namun pintu kamar itu perlahan terdorong terbuka. Ibunya, Sri Wulandari, melangkah masuk dengan langkah yang terlihat berat dan ragu. Raut wajahnya tampak kaku dan kikuk, seolah wanita itu sadar betul bahwa ia sedang memasuki wilayah pribadi seseorang yang baru saja ia khianati dan lukai hatinya dengan kejam.

Shanum tidak menoleh sedikit pun. Di sudut bibirnya yang tertutup kain mukena, tersungging senyum sinis yang pahit, sebuah senyum yang penuh dengan luka, kekecewaan, dan sarkasme yang mendalam. Dengan gerakan yang sengaja dibuat perlahan dan penuh penekanan, Shanum melipat sajadahnya dengan rapi, seolah ingin memberi isyarat jelas bahwa percakapan dan hubungan batinnya dengan Tuhan jauh lebih suci, berharga, dan penting daripada kehadiran ibunya saat ini.

Sri melangkah mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di sisi yang berhadapan dengan Shanum. Ia mengulurkan tangannya, menyodorkan sebuah kotak perhiasan kecil berbalut beludru berwarna merah marun yang terlihat sangat mahal dan berkelas.

"Shanum... Ini untukmu. Pakailah besok saat akad nikah dilangsungkan. Ini adalah perhiasan peninggalan nenekmu, barang yang sangat berharga dan tak ternilai harganya," ujar Sri dengan nada suara yang sengaja dipaksakan terdengar lembut, manis, dan penuh kasih sayang.

Shanum menatap kotak itu dengan pandangan kosong dan dingin, lalu perlahan mengalihkan tatapannya menatap wajah ibunya. Ia meneliti sosok wanita yang melahirkannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan sorot mata yang menyelidik, tajam, dan penuh dugaan buruk.

"Apa ini, Bu?" tanya Shanum dengan nada datar dan tanpa ekspresi sama sekali. "Apakah ini semacam uang tebusan? Atau sekadar sogokan murah agar aku tidak merasa terlalu sakit, terlalu hancur, atau terlalu marah saat kalian berdua melemparkanku masuk ke dalam kandang singa buas besok pagi?"

Sri tersentak hebat, tangannya yang masih terulur menahan kotak perhiasan itu gemetar pelan. "Shanum, jangan bicara sembarangan dan menuduh Ibu begitu. Ibu hanya ingin kau terlihat cantik, rapi, dan layak saat berdiri di pelaminan nanti."

"Cantik untuk siapa, Bu?" potong Shanum dengan cepat dan nada suara yang mulai meninggi namun tetap terkontrol. "Cantik untuk pria yang baru saja mengancam akan menjebloskan Ayah ke dalam penjara dan menghancurkan masa depan keluarga kita? Atau cantik agar keluarga ini tidak merasa malu dan dipermalukan oleh orang lain karena telah berhasil menjual anak pertamanya dengan harga segumpal harta dan sebuah kotak perhiasan?"

Shanum berdiri perlahan, menjauhkan dirinya dari ibunya seolah-olah wanita itu membawa penyakit menular yang mematikan. "Coba katakan padaku, Bu. Apakah Ibu dan Ayah bisa merasa tenang dan damai malam ini? Apakah kalian bisa tidur nyenyak dengan lelap setelah tahu bahwa besok pagi anakmu ini akan terikat selamanya, terperangkap, dan hidup di bawah kekuasaan pria yang dikenal kejam, bengis, dan tak berperasaan hanya karena kalian terlalu pengecut untuk berani menghadapi kesalahan dan masalah yang kalian buat sendiri?"

Awalnya, Sri hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam. Matanya mulai berkaca-kaca, menampakkan gurat kesedihan dan penyesalan yang tampak tulus. Namun, seiring dengan setiap kata-kata tajam Shanum yang terus menghujam dan membongkar kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan, raut wajah Sri perlahan berubah. Rasa bersalah dan penyesalan itu perlahan terkikis habis oleh ego serta keinginan membela diri yang kuat. Ia ikut berdiri, menatap Shanum dengan wajah yang mengeras dan kaku. Kesedihan di wajahnya lenyap, berganti menjadi amarah yang meledak-ledak.

"Cukup, Shanum! Berhenti bersikap seolah-olah kaulah satu-satunya korban yang paling menderita dan paling malang di dunia ini!" bentak Sri, suaranya meninggi dan bergema di dinding kamar yang sunyi itu. "Kau seharusnya bersyukur dan berterima kasih pada takdir! Kau tahu tidak berapa banyak wanita di luar sana yang rela mengemis, rela berkorban apa saja hanya untuk bisa dilirik, diperhatikan, atau dinikahi oleh Tuan Rayyan itu? Dia pria yang kaya raya, gagah, berkuasa, dan memiliki segalanya. Menikah dengannya sama sekali bukan musibah atau kutukan, melainkan sebuah anugerah besar yang patut kau syukuri!"

Shanum tertegun diam di tempatnya. Kalimat ibunya itu terasa seperti tamparan keras yang mendarat tepat di pipinya, memberikan rasa perih yang luar biasa namun menyadarkannya sepenuhnya. Ia tak menyangka, wanita yang telah mengandung dan melahirkannya justru berpikiran sejauh itu.

"Bersyukur?" ulang Shanum pelan dengan nada tidak percaya. "Ibu menyuruhku bersyukur dan berterima kasih karena harus menikah dengan pria yang secara terang-terangan memeras, mengancam, dan menindas keluarga kita?"

"Dia tidak akan melakukan hal semacam itu jika keluargamu sendiri tidak memiliki celah, kesalahan, dan dosa yang bisa dijadikan alasan!" Sri membela dirinya dan suaminya dengan sengit. "Pernikahan ini adalah jalan keluar terbaik, paling aman, dan paling menguntungkan bagi kita semua. Kau akan tinggal di rumah mewah yang besar, memakai pakaian berharga mahal, hidup berkecukupan tanpa kekurangan apa pun, dan semua utang serta masalah perusahaan Ayah akan lunas dan selesai seketika. Syifa juga bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, aman, dan bahagia tanpa rasa takut. Kaulah kakak tertua, sudah sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban mutlak bagimu untuk berkorban sedikit demi kebahagiaan adikmu dan keselamatan orang tuamu!"

Shanum merasakan dadanya semakin sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan itu tiba-tiba saja habis dan lenyap. Ia menatap ibunya dengan pandangan yang hancur lebur, namun suaranya tetap terdengar tenang, sebuah ketenangan yang justru terasa jauh lebih menakutkan daripada teriakan kemarahan.

"Ibu..." suara Shanum bergetar hebat, menahan rasa sakit yang merambat ke seluruh urat sarafnya. "Pernahkah Ibu... Sedikit saja... Menyayangiku? Bukan sebagai alat penyelamat keluarga, bukan sebagai pengganti Syifa yang penakut, bukan sebagai barang tukar, melainkan sebagai Shanum, anak kandung Ibu yang bernyawa dan punya perasaan ini?"

Pertanyaan sederhana namun menyakitkan itu menggantung lama di udara yang hening. Untuk sesaat, suasana kamar menjadi sangat sunyi dan mencekam. Sri menatap mata Shanum yang basah dan memohon jawaban, namun alih-alih bergerak memeluk anaknya atau mengucapkan kata-kata penenang, wanita itu justru buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak sanggup, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena ia sadar betul bahwa jawabannya hanya akan melukai hati anaknya dan juga harga dirinya sendiri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai jawaban atau penjelasan, Sri meraih kembali kotak perhiasan yang tadi ia sodorkan dengan gerakan kasar, lalu berbalik badan dan melangkah keluar dari kamar Shanum dengan langkah cepat. Pintu kamar dibanting keras di belakangnya, menimbulkan bunyi gaduh yang menyayat hati dan meninggalkan Shanum kembali dalam kegelapan serta kesunyian yang jauh lebih dalam, lebih dingin, dan lebih menyedihkan dari sebelumnya.

Shanum terjatuh lemas di atas lantai yang dingin, tepat di samping sajadah yang baru saja ia lipat rapi. Jawaban atas pertanyaannya tadi tidak diberikan lewat ucapan, melainkan lewat kepergian ibunya yang tak mau menatapnya lagi. Jawaban itu jelas, nyata, dan menyakitkan.

"Benar..." bisik Shanum lirih pada kegelapan yang menaunginya. "Aku memang tidak pernah dianggap sebagai anak bagi mereka. Aku hanyalah sebuah aset berharga yang selama ini mereka simpan dengan rapi, dan hari ini akhirnya berhasil mereka cairkan untuk menutupi kerugian dan kesalahan mereka."

Malam itu, Shanum sama sekali tidak lagi menangis. Air matanya yang tumpah sejak sore tadi seolah telah mengering dan habis, digantikan oleh lapisan es tebal yang perlahan membekukan isi hatinya, perasaannya, dan harapannya terhadap keluarganya. Ia bangkit berdiri dengan susah payah, lalu melangkah mendekati cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Ia menatap pantulan bayangannya sendiri: seorang wanita yang tampak suci, bersih, dan tenang dengan mukena putih yang menutupi tubuhnya, namun menyimpan luka yang begitu dalam, perih, dan menganga lebar di dalam jiwanya.

Ia berbalik, lalu meraih kain cadar hitam yang tergeletak rapi di atas meja rias. Dengan gerakan mantap dan tegas, ia memakainya, menutupi seluruh bagian wajahnya hingga hanya menyisakan sepasang mata bening yang kini menampakkan kilatan tekad yang kuat. Besok, di Masjid Jami' Al-Hidayah, ia tidak akan datang berdiri di sana sebagai seorang pengantin yang penuh harapan, bahagia, dan berbunga-bunga menantikan masa depan indah. Ia akan datang sebagai seorang pejuang yang siap menghadapi pertempuran berat. Jika Ghazi Rayyan Alfarizzi mengira ia bisa memiliki, menguasai, dan menundukkan dirinya sepenuhnya, maka pria itu harus bersiap menghadapi jiwa wanita yang tidak akan pernah bisa ia taklukkan, ia patahkan, atau ia ubah sesuai keinginannya.

Shanum mematikan lampu kamarnya, membiarkan ruangan itu kembali tenggelam dalam kegelapan. Di bawah sisa cahaya remang bulan yang menembus celah jendela, ia menguatkan hati dan bertekad satu hal yang pasti: Mulai saat ini, ia harus dan akan menyelamatkan dirinya sendiri, karena sudah sangat jelas dan terbukti, keluarganya tidak akan pernah mau atau mampu melakukan hal itu untuknya.

Fajar akan segera tiba, dan bersamaan dengan datangnya cahaya pagi itu, babak baru dalam kehidupan Shanum yang penuh duri, rintangan, dan kepahitan akan segera dimulai. Pernikahan yang dipaksakan, suami yang berhati batu dan kejam, serta keluarga yang penuh pengkhianatan—Shanum berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menghadapi mereka semua satu per satu dengan kepala tegak dan harga diri yang tak akan ia biarkan terinjak-injak lagi.


*

*


Fajar menyingsing dengan langit yang berwarna abu-abu suram dan mendung, seolah-olah alam pun turut berduka dan enggan menyaksikan peristiwa menyedihkan yang akan terjadi hari ini. Sejak pukul empat pagi, keheningan kamar Shanum telah pecah dan digantikan oleh keriuhan kehadiran seorang perias pengantin yang dipanggil khusus oleh ibunya. Berbagai peralatan kosmetik bermerek dan berharga mahal berderet rapi di atas meja rias, namun Shanum hanya duduk mematung di depan cermin dengan tatapan kosong dan hampa, matanya terus menatap langit di luar jendela tanpa minat sedikit pun.

"Nona Shanum, mari kita mulai dari perawatan dasar dan persiapan kulitnya dulu ya. Kulit Nona sebenarnya sangat halus, bersih, dan bagus sekali. Saya yakin hasilnya nanti akan terlihat sangat sempurna dan mempesona," ucap si perias dengan nada ceria yang sengaja dipaksakan, berusaha menciptakan suasana gembira yang sama sekali tidak dirasakan oleh Shanum.

Lihat selengkapnya