Pukul sebelas lewat dua belas menit malam, Winsha Soemandoro masih belum tidur.
Bukan karena jadwalnya padat. Bukan juga karena sedang menyiapkan lagu baru. Ia sedang duduk bersila di atas kasur, memakai piyama bergambar bebek, sambil menatap sebuah video dirinya sendiri yang baru diunggah ke media sosial.
Di layar, Winsha yang lain tersenyum manis ke kamera.
“Jangan lupa makan, ya! Kalian harus sehat, biar bisa terus nemenin aku.”
Winsha yang asli mendengus. “Sok bijak banget, sih.”
Ia menekan tombol komentar. Dalam hitungan menit, ribuan pesan muncul. Ada yang memuji suaranya, ada yang mengirimkan gambar buatan penggemar, ada pula yang berdebat apakah rambut pendek atau panjang lebih cocok untuknya. Seseorang bahkan menulis bahwa ia rela tidak menikah seumur hidup demi Winsha.
“Waduh,” gumamnya. “Jangan begitu, Kak. Aku aja belum tentu bisa masak nasi.”
Ia tertawa sendiri, lalu menjatuhkan ponsel ke bantal.
Winsha memang terbiasa dengan perhatian. Sejak debut, wajahnya muncul di papan iklan, televisi, majalah, dan layar ponsel orang yang bahkan belum pernah ia temui. Lagu-lagunya diputar di pusat perbelanjaan; jadwal konsernya habis terjual; namanya disebut-sebut sebagai salah satu solois paling menjanjikan di negeri itu.
Orang-orang sering mengira hidupnya sempurna. Ayahnya pengusaha terkenal, rumahnya luas, dan hampir semua pintu terbuka untuknya. Namun, karier musiknya bukan hadiah dari keluarga. Ia mengikuti audisi, berlatih sampai suaranya serak, dan pernah menangis di ruang latihan karena gagal mencapai nada yang menurut pelatihnya seharusnya mudah.
Ayahnya selalu mendukung. Hanya saja, dukungan itu sering datang dari balik rapat, panggilan telepon, atau perjalanan bisnis. Di rumah, orang yang paling sering memastikan Winsha sudah makan adalah Pak Harun, kepala pelayan keluarga yang telah bekerja sejak ia kecil.
Malam itu, Pak Harun mengetuk pintu.
“Nona, besok mobil berangkat pukul tujuh.”
“Pukul tujuh pagi atau tujuh malam, Pak?”
“Kalau malam, saya tidak perlu membangunkan Nona sekarang.”