Di Balik Cahaya

Mauna Yātrī
Chapter #2

BAB II — KELINCI DAN SEPASANG MATA

BAB 2 — KELINCI DAN SEPASANG MATA

Studio podcast itu nyaman, penuh tanaman hias dan lampu hangat. Winsha duduk di sofa dengan satu kaki dilipat, mengenakan sweter krem dan rok hitam. Di depannya, dua pembawa acara sibuk memeriksa daftar pertanyaan.

“Pertanyaan terakhir,” kata Dimas, sang pembawa acara. “Kalau Winsha bukan penyanyi, kira-kira bakal jadi apa?”

“Dokter hewan.”

“Serius?”

“Enggak. Aku takut lihat darah.”

Dimas tertawa. “Terus?”

“Pemilik toko roti. Tapi kemungkinan besar tokonya bangkrut karena rotinya aku makan sendiri.”

“Setidaknya jujur.”

“Aku selalu jujur. Kecuali kalau ditanya berapa kali aku snooze alarm.”

Percakapan mengalir ringan. Mereka membahas lagu baru, kebiasaan Winsha sebelum naik panggung, dan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Ketika ditanya tentang hewan kesukaannya, wajah Winsha langsung cerah.

“Aku suka kelinci. Mereka lucu banget. Tapi sayang, kadang kalau mau nangkep susah, larinya cepat banget.” Ia tertawa, menirukan gerakan kelinci melompat. “Pernah aku pegang satu, mau kubelai-belai, eh malah nyakar tangan aku. Lihat, nih.”

Ia mengangkat tangan. Bekas luka kecil terlihat di dekat pergelangan.

“Jadi korban kelinci sendiri,” kata Dimas.

“Parah. Aku sudah kasih cinta, dibalas kekerasan.” Winsha memasang wajah sedih berlebihan. “Aku cuma mau menyayanginya. Huh.”

Seluruh studio tertawa. Bahkan kru kamera yang berdiri di belakang monitor ikut tersenyum.

Namun, di sebuah ruangan yang jauh dari studio itu, seseorang menonton rekaman langsung podcast melalui layar laptop.

Orang itu tidak tertawa.

Lihat selengkapnya