Suara bising mesin cetak di lantai bawah lamat-lamat masih terdengar sampai ke lantai tujuh gedung R-News. Bau kopi saset rasa gula aren yang seadanya, yang diseduh pakai air dispenser setengah panas, kecium memenuhi kubikel kerja Ilman Sudarso. Di mejanya yang berantakan, ada puntung rokok yang lupa dibuang di dalam asbak kaleng, tumpukan kertas draf yang dicoret-coret pulpen merah, sama ponselnya yang dari tadi sore nggak berhenti bergetar karena grup WhatsApp liputan lapangan yang semakin ramai.
Ilman bersandar di kursi kerjanya yang busanya sudah agak kempes dibalut kulit palsu retak-retak. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa terlalu kaku. Matanya yang lelah dan agak merah menatap malas ke arah layar monitor komputer duapuluh empat inci di depannya. Di layar itu, ada ketikan laporan investigasi soal kasus pembalakan liar yang baru aja dia rampungkan setelah begadang dua hari berturut-turut.
Melihat angka di sudut kanan bawah komputernya, Ilman cuma bisa menghela napas panjang. Umurnya sudah dua puluh sembilan tahun. Di usia segini, teman-teman SMA-nya di kampung halaman rata-rata sudah pada sibuk mikirin cicilan rumah KPR atau nganter anak mereka masuk TK. Sementara dia? Ilman masih betah ngejomblo dan menghabiskan malam-malamnya di kantor berita, ditemani lampu neon yang kedip-kedip seakan mau mati.
Kalau diingat-ingat lagi, waktu rasanya cepat banget berlalu. Dua belas tahun yang lalu, Ilman cuma seorang anak daerah yang nekat merantau ke Jakarta. Modal pas-pasan, cuma bawa satu koper kain lungsuran kakaknya, sama logat bicara yang masih kaku banget waktu pertama kali turun di Terminal Pulogadung. Tapi dia beruntung. Lolos seleksi di universitas negeri top di Jakarta, masuk jurusan Ilmu Komunikasi, dan ambil spesialisasi jurnalistik. Karena otaknya encer dan dasarnya dia memang ambisius, Ilman bisa lulus cepet dalam waktu tiga setengah tahun aja, langsung dapet gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dengan predikat yang lumayan mentereng.
Setelah lulus, dia nggak langsung enak. Ilman sempat ngerasain jadi reporter lapangan yang luntang-lantung. Pernah kerja serabutan di beberapa media sekaligus demi bisa bayar kosan di daerah Palmerah. Mulai dari ngejar-ngejar pejabat di gedung DPR, ikutan desak-desakan pas demo buruh, sampai nungguin rilis kasus kriminal di polsek tengah malam sambil digigit nyamuk. Satu hal yang pasti, Ilman selalu menolak 'jale' alias amplop titipan dengan tujuan menyogok kuli tinta dari para pengusaha, pejabat, dan antek-antek oligarki yang ia liput. Tujuh tahun dia nempa diri di lapangan kayak begitu, sampai akhirnya sekarang dia dipercaya jadi jurnalis senior di divisi investigasi R-News, sebuah grup media besar yang punya stasiun TV sendiri, portal berita online, koran cetak, sampai akun-akun media sosial yang pengikutnya jutaan orang.
"Man! Dipanggil Pak Baskoro ke ruangannya sekarang. Nggak pake lama ya, ditungguin tuh," tiba-tiba suara serak khas perokok milik Mas Joko, redaktur pelaksana mereka, membuyarkan lamunan Ilman. Cowok itu melongok dari balik sekat kubikel sambil memegang kertas coret-coretan.
"Iya, Mas. Beresin ini bentar," sahut Ilman santai.