Kamar kosan Ilman di daerah Palmerah malam itu rasanya lebih sempit dari biasanya. Di atas kasur busanya yang dilapis seprai bermotif garis-garisnya sudah agak pudar, berserakan beberapa barang baru yang kelihatan asing banget di kamarnya. Ada dua setel setelan jas necis warna navy dan abu-abu gelap potongan slim-fit, beberapa kemeja katun premium yang kalau dipegang kainnya terasa halus banget, sepatu pantofel kulit model oxford merek lokal yang mengilap, sampai sebuah jam tangan analog yang talinya dari kulit asli.
Semua barang bermerek itu dikirim langsung oleh tim legal R-News sore tadi, lengkap dengan sebuah dompet kulit baru yang isinya lumayan bikin Ilman geleng-geleng kepala.
Ilman duduk di lantai semen yang dilapisi karpet plastik bermotif kayu, bersandar ke pintu lemari bajunya. Di depannya, dia memandangi sebuah kartu tanda pengenal berbahan plastik tebal dengan logo hologram yang mengilap kalau kena lampu neon kamarnya. Di kartu itu tertulis nama: Raden Ilman Sudarso, dengan jabatan mentereng di bawahnya: Senior Corporate Auditor & Investment Representative. Foto wajah Ilman di sana kelihatan rapi banget, rambutnya klimis pakai pomade, beda jauh sama penampilannya sekarang yang cuma pakai kaus oblong hitam bolong kecil di pundak dan celana pendek jins belel.
"Raden Ilman..." gumam Ilman pelan, mencicipi nama barunya sendiri di lidah. Terdengar terlalu elite buat cowok yang biasanya sarapan bubur ayam gerobakan di pinggir jalan ibu kota.