Aroma uap dari humidifier di ruang kerja Indira tercium seperti kombinasi minyak esensial lavender dan kertas lembaran baru. Jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi di atas meja marmer abu-abu milik Indira, sudah tersaji dua cangkir macchiato hangat. Di seberangnya, Ilman duduk dengan melipat kaki santai, berusaha menampilkan gestur corporate guy yang paling meyakinkan yang dia punya.
Hari ini, Indira sengaja mengundang Ilman ke ruangannya dengan alasan melakukan alignment data keuangan triwulan. Namun, Ilman tahu betul ini bukan sekadar meeting biasa. Ini adalah sesi interogasi terselubung.
"Saya sudah meninjau ulang catatan feedback yang Anda kirim kemarin, Pak Ilman," Indira membuka obrolan sambil membuka iPad-nya secara elegan. "Ada beberapa poin menarik tentang free cash flow kami. Tapi saya agak bingung dengan pendekatan analisis Anda. Anda banyak menyoroti operational expenditure di lapangan, tapi mengabaikan tax shield dari depresiasi aset alat berat kita. Itu agak... unusual untuk seorang senior auditor lulusan Singapura."
Ilman mempertahankan senyum tipis di wajahnya, meski di dalam hati dia mengutuk tim legal R-News yang mungkin kurang detail menyusun formula angka-angka itu. Dia menyesap kopinya perlahan, mengulur waktu dua detik untuk menyusun kalimat.