Indira mendorong pintu kaca berat yang mengarah ke area balcony terbuka di lantai lima gedung hotel. Hawa malam Jakarta yang hangat dan berpolusi langsung menyergap mereka, berbanding terbalik dengan dinginnya AC di dalam ballroom. Dari tempat mereka berdiri, gemerlap lampu jalanan Sudirman-Thamrin terlihat seperti garis-garis cahaya yang membelah kegelapan malam.
Indira berbalik, menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas balcony besi tempa. Dia melipat kedua tangannya di dada, mencoba menahan tubuhnya yang sedikit menggigil, bukan karena dingin, tapi karena tekanan emosional yang terlalu besar.
"Jelaskan semuanya, Ilman. Dan jangan berani-berani pakai kebohongan korporat lagi di depan saya," tuntut Indira, matanya menatap Ilman dengan tajam di bawah temaram cahaya bulan.
Ilman melangkah mendekat, namun tetap menjaga personal space agar Indira tidak merasa terancam. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana tuxedo-nya. "Nama saya Ilman Sudarso. Saya jurnalis divisi investigasi R-News. Penyamaran ini adalah perintah langsung dari jajaran redaksi tertinggi kami karena Apex Coal Technologies sedang masuk dalam radar mega korupsi triliunan rupiah yang melibatkan aliran dana gelap ke pejabat kementerian."
Indira tertawa sinis, menoleh ke arah pemandangan kota. "Dan Anda pikir dengan menjatuhkan perusahaan tempat saya bekerja, Anda bisa jadi pahlawan? Anda tahu apa yang akan terjadi kalau skandal ini pecah? Ribuan buruh tambang kehilangan pekerjaan, dan nama baik keluarga saya..." Indira menjeda kalimatnya, suaranya mendadak tercekat.