Suara ketukan halus jemari Indira pada meja kayu di ruang kerjanya terdengar berirama, memecah keheningan jam makan siang yang biasanya diisi oleh obrolan bising para staf eksekutif di kafetaria lantai bawah. Pintu ruangan kerja Indira terkunci rapat dari dalam, lengkap dengan tanda “Do Not Disturb” yang sengaja digantung di gagang pintu luar.
Ilman duduk di seberangnya, kembali mengenakan topengnya sebagai 'Raden Ilman' dengan setelan jas necisnya, karena siapa pun bisa saja mengintip dari balik kaca buram koridor. Namun, di antara mereka berdua, barriers formalitas itu sudah runtuh sepenuhnya sejak malam kejadian di balcony hotel.
"Ini gila, Ilman. Kalau sampai Chief Compliance Officer kita tahu aku membuka akses cloud storage ini, security protocol mereka bakal langsung trigger notifikasi ke pusat," kata Indira dengan suara setengah berbisik. Dia menggeser layar tabletnya ke arah Ilman, menampilkan folder terenkripsi yang berisi data pengapalan batu bara mentah dari pelabuhan tikus di Kalimantan.