Aroma sisa hujan semalam masih menempel pada aspal jalanan ketika taksi online premium yang ditumpangi Indira berhenti tepat di depan sebuah bangunan Kopi Tiam tua di sudut bilangan Jakarta Selatan. Indira turun dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Pagi ini, dia sengaja tidak meminta sopir pribadinya untuk mengantar, sebuah tindakan distorsi rutinitas yang sengaja ia lakukan demi bisa menghirup udara bebas tanpa pengawasan ajudan ayahnya. Dia melangkah masuk, menyapu pandangan ke seisi ruangan yang dipenuhi deretan kursi kayu jalinan rotan yang sebagian sudah tampak usang dimakan usia.
Di sudut dekat jendela yang menghadap langsung ke arah riuh rendah pedagang asongan, Ilman sudah duduk menunggu. Pria itu mengenakan kemeja katun kasual berwarna olive green dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan garis-garis otot lengannya yang kokoh. Di depannya tergeletak sebuah buku catatan saku bergaris yang penuh dengan coretan tinta hitam, berdampingan dengan segelas es kopi susu lokal yang bunyinya gemerincing setiap kali es batunya mencair.
"Sudah lama menunggu, Man?" tanya Indira seraya menarik kursi kayu di hadapan Ilman. Suaranya terdengar lembut namun membawa sisa-sisa kelelahan dari malam yang panjang tanpa tidur.
Ilman mendongak, matanya seketika melembut begitu menangkap sosok Indira. "Baru sekitar lima belas menit, Ra. Aku sengaja datang lebih awal untuk memetakan jalur evakuasi dan memastikan tidak ada wajah-wajah familier dari orang-orang suruhan Frans di sekitar area ini. Kamu mau pesan sesuatu? Kopi Tiam di sini punya butter toast yang lumayan otentik."