Kemewahan rumah keluarga Adiputra di kawasan Menteng selalu berhasil mengintimidasi siapa saja yang melangkah masuk. Lantai marmer Carrara yang dingin memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal Bohemia yang megah di ruang keluarga utama. Dinding-dindingnya dihiasi oleh lukisan-lukisan maestro seni rupa bernilai miliaran rupiah, mempertegas posisi sang pemilik rumah di puncak piramida sosial.
Indira baru saja melangkah melewati pintu depan ketika suara denting cangkir teh porselen mewah yang beradu dengan tatakannya memecah keheningan ruangan. Di atas sofa beludru warna krem, duduk sang ibu, Natalia Adiputra. Wanita paruh baya itu tampil sangat impresif dengan kebaya modern sutra dan tatanan rambut sanggul yang rapi tanpa cela. Matanya yang tajam menatap ke arah Indira yang tampak lelah.
"Duduk sebentar, Indira. Ada hal penting yang perlu Mama bicarakan dengan kamu," ujar Natalia, nadanya terdengar sangat halus namun memiliki otoritas kediktatoran keluarga yang tidak bisa dibantah.
Indira menghela napas pendek, melangkah mendekat lalu duduk di single sofa yang berseberangan dengan ibunya. "Ada apa, Mah? Dira agak lelah, hari ini jadwal meeting di kantor lumayan padat."