Di Balik Headline Investigasi

Azerhays
Chapter #18

Bab 18: Pengakuan Ilman

Malam itu, angin bertiup agak kencang di area rooftop gedung parkir tua yang terletak tidak jauh dari kawasan niaga Sudirman. Tempat ini sepi, hanya ada beberapa motor milik penjaga gedung dan deretan lampu kota yang menyala seperti hamparan kunang-kunang listrik di bawah sana. Ilman berdiri bersandar pada pagar pembatas semen yang sudah agak berlumut, membiarkan angin malam menerpa kemeja flanelnya yang tidak lagi dilapisi jas mewah.

Di sampingnya, Indira berdiri dengan melipat kedua tangan di dada. Dia mengenakan mantel tipis warna cokelat muda, wajahnya tampak pucat di bawah temaram cahaya lampu merkuri gedung parkir. Pertemuan dengan ibunya di Menteng tadi siang masih menyisakan luka yang menganga di batinnya.

"Kamu kelihatan banyak pikiran sejak kita ketemu di Kopi Tiam kemarin, Ra," ucap Ilman membuka suara, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka selama beberapa menit. "Apa Frans melakukan pergerakan lagi di kantor?"

Indira menghela napas panjang, tatapannya dilemparkan jauh ke arah gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh. "Bukan Frans, Man. Tapi Mamaku. Beliau... beliau sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Pihak keluargaku sudah melacak latar belakangmu dan mereka tahu kamu bukan auditor dari Singapura. Mama memperingatkanku dengan sangat keras untuk berhenti menemuimu."

Lihat selengkapnya