Di Balik Headline Investigasi

Azerhays
Chapter #24

Bab 24: Dilema Jurnalis

Suara gemercik air hujan yang menghantam jendela kaca safe house di Jakarta Barat malam itu terdengar bagai ketukan vonis mati bagi Ilman. Di atas meja kayu bundar, map kuning kunyit berisi data shell companies dari PPATK itu tergeletak terbuka. Lembaran kertas yang memuat nama absolut Bambang Adiputra seolah memancarkan radiasi yang membakar kewarasan Ilman sejak sore tadi.

Indira berdiri di dekat meja, kedua tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang sembap menatap lembaran dokumen itu, lalu beralih menatap Ilman dengan pandangan yang mengerikan. Perpaduan antara syok, penolakan, dan rasa dikhianati yang teramat sangat.

"Kamu mau menaikkan berita ini juga, Ilman?" suara Indira bergetar hebat, nadanya melengking menahan amarah yang siap meledak. "Skandal tambang kemarin belum cukup buat menghancurkan nama baik Papaku? Sekarang kamu mau menuduh beliau memimpin kartel pangan? Kamu mau bikin Papa membusuk di penjara seumur hidup?"

Lihat selengkapnya