“BANGUUUNNNN!”
Hampir setiap pagi suara teriakan melengking dan nyaring itu nyaris menghancurkan gendang telinga. Merenggut paksa mimpi indah yang tidak bisa lagi diulang, menarik paksa nyawa yang masih sedang melayang di alam bawah sadar.
Tidak ada yang berani membantah jika sang ratu rumah sudah melangkah keluar kandang.
Suara ocehan diiringi dengan suara spatula yang bergelut dengan wajan menciptakan irama yang sangat menyiksa pendengaran, lebih bising ketimbang sirene pemadam kebakaran.
Benar kata orang, suara yang mampu mengalahkan alarm adalah suara Mama.
Beni keluar kamar lebih dulu dengan kemeja putih membalut tubuhnya yang tinggi dan berisi, celana bahan warna hitam dan rambut yang klimis terlihat rapi dan gagah. Disusul kedua anak laki-lakinya membuka pintu kamar dengan seragam Sekolah Dasar yang masih berantakan membalut tubuh mungilnya dan rambut acak-acakan.
Aroma harum makanan menyeruak di udara, menembus paksa Indera penciuman dan berhasil menggugah selera. Lintang dan Bintang berlari, berlomba untuk siapa yang lebih dulu duduk dekat Ayah.
“Ih aku duluan!” Lintang mendorong Bintang yang memaksa mengambil alih kursi Lintang tepat di samping Ayah.
“Ih aku!” Bintang tidak mau kalah, dia membalas dorongan Lintang. Sempat terjadi cekcok di meja makan sampai Mirna melerai.
“Udah! Kebiasaan, deh. Itu duduk di samping kiri Ayah, kan, masih bisa.”
Beni hanya tertawa melihat kelakuan kedua jagoannya.
“Kamu Abang harus ngalah!” Bintang mendorong Lintang.
“Kamu Adik yang harus ngalah!” Lintang tidak mau kalah, dia membalas dorongan Bintang.
“Udah! Mama bilang apa barusan?” Mirna menengahi.
Kedua bocah itu menatap Beni, dengan sorot mata berbinar, meminta bantuan untuk menentukan pilihan. Namun, justru Beni hanya mengedikkan bahu, memberi isyarat pada kedua anaknya untuk menentukan keputusan sendiri, siapa yang mengalah dan menuruti perkataan Mama sebagai ratu di rumah yang perkataannya tidak bisa dibantah.
Akhirnya Lintang mengalah, meskipun wajahnya cemberut dan air mata sudah menggenang di kelopak, dia tidak mau kena omel Mama.
Tiga piring nasi goreng dengan telur ceplok sudah terhidang cantik di atas meja. Kepulan asap di udara membuat mereka langsung menyantap dengan lahap.
“Pelan-pelan, loh, masih panas banget.” Mirna menyungging senyum, rasa bahagianya tidak bisa dipungkiri tiap kali melihat suami dan anak-anaknya menikmati masakannya dengan lahap tanpa ada protes dan kritik soal rasa.
Mirna bahagia setiap kali melihat anak-anak dan suaminya tertidur lelap dengan posisi yang sama persis. Atau ketika mereka sedang bermain dan bercanda, tertawa terbahak-bahak meskipun setelah itu salah satu di antara anaknya pasti selalu ada yang menangis.
Meskipun rasa lelahnya muncul juga, tetapi dia sangat bersyukur mempunyai suami seperti Beni yang selalu membantu menjaga dan mengajak main anak-anaknya, terkadang juga membantu pekerjaan rumah. Tidak seperti kebanyakan suami yang patriarki tidak peduli dengan urusan anak dan pekerjaan rumah, membebani semuanya pada istri dan tidak memikirkan bagaimana lelahnya menjadi seorang istri sekaligus ibu dengan anak yang selisih usia hanya satu tahun, membuat mereka sering kali tidak akur, tidak ada yang mau mengalah dan ingin selalu menang.
Bahkan setiap sarapan atau makan siang, Lintang selalu mendekatkan piringnya ke piring Bintang untuk meneliti apakah porsinya sudah sama dengan adiknya atau belum. Tiap kali Mirna membuat susu, Lintang selalu merapatkan gelasnya untuk memastikan kalau sudah di satu garis yang sama karena kalau berbeda sedikit saja, Lintang bisa tantrum. Tiada hari tanpa pertengkaran kedua anaknya, terkadang membuat kepala Mirna serasa mau meledak. Ditambah lagi, Beni bukannya membantu melerai justru malah menertawakan.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk mereka menghabiskan waktu sarapan. Waktu menunjukkan tepat pukul enam, Mirna mengambil ransel anak-anaknya dan tas suaminya yang semula di sofa ruang tengah dan memasukkan kotak bekal yang sudah dia siapkan dari pagi buta ke dalam tas.
Lintang berlari menghampiri Mirna untuk meminta dirapikan pakaian dan rambutnya yang masih sangat berantakan. Disusul Bintang yang tidak mau kalah.
“Adik sama Ayah, ya, rapiin-nya,” Mirna mengelus lembut pipi Bintang. ”Mama rapiin baju Abang.”
“Wle ... siap-siap rambut kamu bakalan berdiri semua kayak kesetrum haha....” Lintang mengejek tapi itu tidak membuat Bintang marah, justru dia terlihat tidak peduli dan berlari menghampiri Beni.