Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #3

SUKA CITA

“Nanti di rumah Oma jangan pada nakal, ya? Harus nurut sama Oma, jangan bikin Oma marah, kasihan Oma,” Mirna mengingatkan sembari memakaikan ransel kecil ke punggung Lintang dan Bintang. Karena selalu saja ada ulah mereka yang membuat Oma marah. Entah Lintang yang sering kali usil dan membuat Bintang menangis, atau Bintang yang tiba-tiba menghilang dan pulang-pulang dengan baju basah, pun berlumuran lumpur sambil membawa katak.

Setiap hari Sabtu, Lintang dan Bintang akan pergi bermain ke rumah Oma untuk menginap dan pulang di hari Minggu siang. Rumah Oma berada di salah satu kompleks asri dengan lingkungan yang hangat, di halaman rumahnya terdapat banyak pohon buah, seperti Mangga, Jambu, Ceremai dan Rambutan. Kebetulan Oma tinggal sendiri di rumah karena Kakek sudah meninggal dua tahun lalu dan semua anak-anak Oma sudah berumah tangga, salah satunya Ayah.

Tiap kali ke sana, Lintang dan Bintang selalu memanjat pohon satu per satu untuk hanya sekadar bermain-main, saling lempar melempar dengan buah.  Sering kali Oma marah karena buah yang diambil masih pentil atau masih sangat muda.

“Dengerin kata-kata Mama.”

“Iya siap ... Mama yang cantik,” mereka berdua menggoda Mirna yang langsung mengusap wajah kedua anaknya itu sembari senyum mesem-mesem.

“Mama beneran nggak ikut?” tanya Bintang memastikan. “Mama mau sendirian di rumah, memangnya tidak takut?”

“Nanti ada Wewe Gombel, Ma—” Lintang bergidik ngeri.

“Kamu kok bilangnya gitu? Ngga boleh gitu Abang!” Bintang kesal, kepalan tangan mungilnya refleks memukul bahu Lintang.

“Heh! Udah!” Mirna melerai. “Belum juga berangkat udah berantem, Mama barusan bilang apa? Masih hangat, loh, Mama bilang.”

Kedua bocah itu menunduk, saling melirik satu sama lain dengan tatapan jengkel.

“Mama nggak enak badan, mau istirahat aja di rumah. Nggak bakal ada Wewe Gombel—”

“Wewe gombel nggak suka ibu-ibu—” timpal Beni yang tiba-tiba muncul dengan pakaian yang sudah rapi. “Sukanya anak kecil kayak kalian berdua. Kalau bandel, udah pasti bakal diculik Wewe Gombel, mau?”

Lintang dan Bintang menggeleng histeris, seraut wajahnya sudah panik—takut—tapi Beni justru tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kedua anaknya yang sangat lucu.

“Yah, udah, deh, seneng banget bikin anaknya takut ...,” Mirna mendelik. Berpaling menatap kedua anaknya, mengusap lembut rambutnya. “Ya udah, gih, berangkat. Hati-hati di jalan, nanti kabarin Mama kalau sudah sampai, ya?”

“Ok, Ma!” Lintang dan Bintang menyahut serentak. “Kita pergi dulu. Ayo, Ayah.”

“Kita suit dulu, siapa yang duduk di depan sama Ayah?” Lintang mengambil ancang-ancang. Keduanya akhirnya melakukan suit, Bintang memasang kepalan tangan dan Lintang memasang kelima jari terbuka. “Kertas makan batu, kalah. Kertas yang menang,” kata Lintang sambil kelima jari mungilnya menangkup ke kepalan tangan Bintang. “Horeeee aku menang.”

“Ih tapi, kan, batu lebih berat!” Bintang tidak terima kekalahannya. “Kertasnya bisa sobek, dong!”

“Ya nggak bisa, tetap aja batu yang di bungkus kertas, batunya nggak bisa kemana-mana, wleeee!”

Alhasil, Bintang mengalah dan terpaksa mempersilakan Lintang duduk di depan, di samping Ayah. Dengan wajah cemberut dan tidak terima.

“Sama aja, sayang, duduk di depan atau di belakang, kan, tetep sama Ayah,” Beni menengahi, sambil mengusap lembut kepala Bintang. Akhirnya Bintang mau masuk ke dalam mobil. “Ya udah, kita berangkat dulu, ya, Ma.”

“Hati-hati, jangan ngebut. Anak-anak pakai seat belt, ya, kamu juga,” Mirna merapikan pakaian dan rambut Beni.

“Iya.”

“Ayah ayooooo!” teriakan melengking itu terdengar serentak dari dalam mobil. Beni dan Mirna menoleh, tertawa ketika melihat anak-anaknya sudah tidak sabar untuk pergi.

Beni masuk ke dalam mobil.

“Dadah. Hati-hati sayangnya Mama!”

***

Suara derum mesin mobil terdengar dari arah kejauhan yang semakin mendekat. Lintang dan Bintang melonggokkan kepalanya keluar jendela dan berteriak ketika melihat Oma yang sedang menyapu halaman. “OMAAAA!!”

Oma menoleh, ketika melihat cucu kesayangannya tiba dan turun dari mobil yang diparkir di halaman rumah Oma. “Cucu-cucu Oma udah datang,” Oma menyimpan sapu lidi yang digenggamnya, mencuci tangannya di keran air dekat garasi, mengeringkan tangannya dengan kain kering. Dan menghampiri cucu-cucunya yang berlari untuk memeluknya. “Kok baru datang? Biasanya pagi-pagi sudah di sini?”

“Gara-gara Abang, Oma, tadi bangunnya telat,” sahut Bintang.

“Kok tumben telat bangunnya?”

“Soalnya semalem begadang, nonton bola bareng Ayah.”

“Bintang nggak ikut nonton?”

Bintang menggeleng.

“Dia nggak suka bola, Oma, kayak perempuan,” jawab Lintang cepat, sambil tertawa cekikikan dan langsung mendapat pukulan Bintang yang mendarat tepat di bahunya.

Wajah Bintang memerah, dia cemberut. “Emangnya semua cowok harus suka bola?”

Lihat selengkapnya