Perasaan bahagia dan haru tidak bisa Mirna sembunyikan tiap kali melihat malaikat kecilnya tertidur lelap di kasur. Dia harus menerima dengan lapang dada kalau waktu tidurnya harus kembali berantakan. Waktu yang seharusnya dia menutup mata dan beristirahat, justru harus terbangun dengan suara tangisan bayi yang minta disusui. Kantung mata hitam yang terbentuk di sekitar matanya sudah membuktikan betapa lelahnya menjadi seorang ibu. Belum lagi kalau kedua anak laki-lakinya sudah berbuat onar yang membuat kepala Mirna serasa mau meledak.
Namun, untung saja Beni tipikal suami peka dan siaga, sering kali Beni menggantikan Mirna untuk bangun tengah malam dan memberi susu untuk putri kecilnya. Meski dia harus mengorbankan waktu istirahatnya karena keesokan paginya harus berangkat bekerja, tetapi pengorbanan itu tidak sia-sia ketika dia mendekap bayinya dan melihat bibir mungilnya menghisap botol susu sementara tangan mungilnya berpegangan depan dada, seolah menganggap Beni adalah tameng besar yang bisa melindunginya seumur hidup.
“MAMAAAAA ... BINTANG NGOMPOL!” suara cempreng milik Lintang terdengar di balik pintu kamar Beni dan Mirna, diiringi suara gedoran pintu yang tidak manusiawi dan jeritan tangisan yang sayup-sayup terdengar.
Beni memejamkan mata pasrah, napas beratnya berembus menandakan bahwa usahanya menenangkan Gemilang sia-sia, baru saja dia berhasil menidurkan kembali bayi kecilnya kini harus kembali terbangun dan menangis karena suara heboh dari Lintang.
Mirna pun ikut terbangun, padahal baru saja dia memejamkan mata. “Kenapa, sih, Mas?”
“Itu Bintang ngompol katanya. Biar aku yang cek, kamu bisa nidurin Gemi lagi?”
Mirna mengangguk. Beni menyerahkan bayi kecil itu ke pangkuan Mirna dan bergegas membuka pintu untuk menghentikan suara gaduh yang diciptakan Lintang.
“Kenapa?” tanya Beni ketika melihat Lintang sudah tidak pakai baju. “Loh ... baju Abang mana?”
“Itu ... Ayah ... kena ompol Bintang,” katanya dengan mata berbinar. “Bintang ngompol banyak banget, Ayah, sampai kena Abang.”
Beni mengembuskan napas berat. Dia mengelus lembut kepala Lintang dan menuntunnya menuju kamar kedua anaknya. Setelah pintu dibuka, terdengar jelas suara cempreng dari tangisan Bintang memenuhi ruangan. Pemandangan yang Beni tangkap pertama kali adalah keadaan kamar yang sangat berantakan, seprai terlepas dari kasur dan terlihat sangat basah, guling dan bantal berserakan di lantai, belum lagi mainan yang berceceran di mana-mana. Beni menghela napas berat, dia menggelengkan kepala frustrasi, melihat keadaan kamar anaknya yang seperti kapal pecah berkeping-keping.
“Ini gimana beresinnya ...,” gumamnya. Kedua bola matanya mengitari sekitar. Suara tangis Bintang terdengar jelas tetapi tidak ada anaknya itu di dalam sana. “Bintang mana?”
“Itu ngumpet, Yah—” Lintang menunjuk ke arah lemari. “Dia takut di marahin Mama.”
“Ngumpet di dalem lemari?”
“Bukan, di belakang lemari.”
Beni berjalan menghampiri, mengintip ke belakang lemari dan benar saja, terlihat Bintang sedang duduk di pojokan sambil menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua lutut yang ditekuk. “Nak ....”
Ketika mendengar suara Beni, refleks Bintang mengangkat wajahnya. Tangisnya semakin pecah. “A—Ayaaahhh ....”
“Udah nggak apa-apa, sayang, sini jangan di situ. Di situ kotor nanti ada kecoa,” Beni mengulurkan tangannya dan langsung diapit Bintang. Beni menghapus air mata di wajah anaknya itu, tersenyum simpul berusaha menenangkan jagoannya yang menangis sesenggukan. “Udah nggak apa-apa, sekarang Bintang bersih-bersih, ganti baju. Bisa, kan, sendiri?”
Bintang mengangguk.
“Ya udah, gih ...,” Beni berpaling menatap Lintang yang masih berdiri di depan pintu. “Abang juga sekalian bersih-bersih, gih, sama Adik. Nanti Ayah siapin bajunya. Jangan ada yang saling ejek, jangan berantem, kalau ada keributan nanti Ayah bangunin Mama, mau?”
Mereka berdua menggeleng serentak dengan seraut wajah panik.
“Ya udah, jangan lama-lama di kamar mandi, Ayah beresin ini dulu.”
Mereka berdua berlari menuju kamar mandi. Tanpa drama dan tanpa pertengkaran. Mereka lebih baik menuruti perkataan Ayah ketimbang kena omel Mama yang tiada habisnya.
Beni mengembuskan napas jengah, berkacak pinggang. Bingung harus dimulai dari mana dan bingung apa yang harus dia lakukan. Alhasil, hal yang pertama dia lakukan adalah menarik seprai basah itu dan membiarkan kasurnya telanjang tidak dibalut seprai. Lalu kemudian Beni merapikan mainan yang berserakan untuk dimasukkan ke dalam box.
***
Semenjak insiden Bintang mengompol dan membasahi baju Lintang, akhirnya Lintang merengek ke Ayah dan Mama untuk kamarnya dipisah dengan Bintang. Dia tidak mau kena ompol Bintang untuk ke sekian kalinya.
Alhasil, mau tidak mau Ayah dan Mama menuruti kemauan Lintang karena jengah juga mendengar rengekan Lintang yang tiap hari tiada henti. Gudang belakang yang awalnya menjadi tempat penyimpanan barang-barang bekas, Beni ubah fungsi menjadi kamar Lintang.
Sudah dua tahun Lintang menempati kamar tidurnya yang baru. Kini terlihat sangat signifikan perbedaan antara Lintang dan Bintang, dari kebiasaan hingga karakter yang mulai muncul di antara keduanya, mungkin karena seiring bertambahnya usia.
Perubahan keduanya begitu sangat pesat, Lintang sebagai seorang kakak tertua menjadi lebih sangat pendiam, Lintang lebih menyukai keheningan dan lebih sedikit bicara. Sementara Bintang justru semakin terlihat pecicilan, tidak mau kalah melekat pada dirinya.
Seperti kali ini, mereka berlibur ke rumah Oma, seperti biasa kerjaan Bintang selalu saja memanjat pohon Ciremai sambil mengusili orang yang lewat. Dia melempar buah Ciremai dan tepat mengenai mangkuk bakso yang sedang di bawa seorang anak seusianya. Bintang tertawa terbahak-bahak, senang karena tepat sasaran. Sementara anak laki-laki itu meneriaki Bintang dari bawah. “Woi!!! Sialan!!”
“Sukurin!” Bintang tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya karena geli.
“Sini kamu turun!”
“Mau apa? Mau balas dendam?”
“Sini berantem!”
Merasa tertantang, Bintang bergegas turun.