Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #5

DUA SIKAP BERBEDA

Terkadang, perbuatan sepele yang terlihat hanya sebuah lelucon dari sebuah kebiasaan buruk sedari kecil, bisa membangun sifat seseorang menjadi seorang sosiopat yang akan terus tumbuh hingga dewasa.

~~~~~~

Sorot cahaya dari layar kaca televisi kini lebih dominan ketimbang sorot lampu ruang keluarga. Beni mematikan setengah lampu dan membuat suasana menjadi remang-remang. Beni mengajak Lintang menonton pertandingan sepak bola karena Bintang tidak tertarik sama sekali. Beni duduk di sebelah Lintang. Pertandingan sepak bola dimulai, Beni mengambil remot televisi dan memperbesar volumenya, suara teriakan antara Lintang dan Beni mulai sahut-menyahut ketika klub yang dijagokan mulai bertanding.

“Ayah ... pemain sepakbola andalan Ayah, siapa?”

“Mesut Ozil.”

“Kenapa?”

“Dia itu salah satu playmaker terbaik di dunia sepakbola. Taktik permainannya keren, dia satu-satunya andalan Ayah.”

Lintang menganggukkan kepalanya.

“Kalau Lintang ... siapa pemain andalan Lintang?”

Lintang menyungging senyum lebar, sorot matanya berbinar-binar. “Cristian Ronaldo, Yah. Aku pengen jadi kayak Ronaldo, Yah, dia hebat banget. Ronaldo sampai dijuluki sebagai Raja Liga Champions, berkat gol yang di cetaknya. Aku pengen belajar dari pengalaman Ronaldo, Yah.”

Beni mengangguk. “Iya, dia keren. Lintang di sekolah ikut ekskul apa?”

“Sepak bola, Yah.”

“Nah ... bagus dong. Lintang harus asah kemampuan Lintang, banyakin ikut lomba. Nanti SMA ayah masukin Lintang ke sekolah khusus atlet sepak bola.”

Lintang terdiam, menundukkan kepala. Seraut wajahnya yang semula semringah kini terlihat murung. “Tapi ... Lintang takut, Yah.”

Beni mengernyit heran. “Takut kenapa, sayang?”

“Minggu kemarin, kan, di sekolah ada classmeeting, terus kelas Lintang lawan kelas sebelah—sepak bola—Lintang ikut, tapi kelas Lintang kalah, Yah. Kayaknya bakat Lintang bukan di sepakbola deh, Yah.”

“Baru sekali kalah, udah nyerah, nih?”

“Emang harus kalah berapa kali, Yah?”

“Berkali-kali dong.”

Lintang mengernyit heran, berusaha mencerna perkataan Ayahnya yang menurutnya tidak masuk akal. “Kok berkali-kali?”

 Beni mengangguk, mengelus lembut kepala Lintang. “Karena seorang pemenang tidak pernah ditakdirkan tanpa kegagalan dan nggak dibangun dalam satu malam. Nak, seorang pemenang itu pasti harus melewati proses panjang, lika-liku, air mata, jatuh bangun. Ronaldo itu sebelum jadi pesepakbola hebat, dulunya pesepakbola yang gagal, tapi Ronaldo nggak gampang nyerah. Ronaldo nggak pernah punya pemikiran 'kalau gua gagal, gua mau berhenti.' Ronaldo punya ambisi yang sangat kuat buat jadi seseorang yang hebat seperti saat ini.

“Apalagi Lintang anak hebat Ayah, Lintang harus bisa buktiin kalau Lintang ini bisa, Lintang nggak takut gagal, Lintang harus punya ambisi yang kuat juga seperti Ronaldo. Ayah nggak minta Lintang buat jadi ini-itu, Ayah cuma minta sama Lintang, jadilah pribadi yang punya ambisi, yang punya tekad kuat untuk mencapai apa yang Lintang inginkan. Orang lain nggak usah tahu perjuangan yang Lintang lalui, cukup Lintang buktiin kalau Lintang bisa.”

Lintang menganggukkan kepala, bibirnya menyunggingkan senyum. “Siap, Ayah. Lintang janji sama Ayah, Lintang bakalan kejar mimpi Lintang. Lintang nggak takut gagal dan Lintang bakal terus belajar.”

Beni mengacak lembut rambut Lintang. “Nah, gitu dong. Ini baru anak hebat Ayah. Jagoan Ayah.”

Mendengar ucapan Beni, Lintang tersenyum.

Percakapan itu terhenti, dialihkan dengan suara teriakan saling sahut-menyahut ketika klub yang dijagokan berhasil mencetak gol di gawang lawan.

***

Pagi itu, Mirna masuk rumah sakit dan harus dirawat inap karena Dokter mendiagnosis kalau Mirna terjangkit tifus, akhirnya membuat satu rumah panik dan kelimpungan. Apalagi Beni yang harus menyita waktu istirahatnya untuk menjaga Mirna di rumah sakit dan anak-anak Oma yang menjaganya di rumah.

Sore itu, Beni pulang ke rumah untuk mengambil beberapa perlengkapan Mirna termasuk pakaian. Ketika sampai rumah, pemandangan pertama kali yang Beni lihat yaitu Lintang dan Bintang sedang menyapu halaman rumah yang sudah dipenuhi daun kering yang berserakan di mana-mana, Oma menyiram tanaman dan Gemilang bermain di teras rumah bersama boneka dan alat masak.

Mendengar suara derum mobil mendekat, refleks semua pandangan tertuju pada sumber suara dan Gemilang berlari ketika melihat Beni turun dari mobil. “Ayaaahhh.”

Lintang dan Bintang hanya menoleh dan lanjut fokus pada pekerjaannya masing-masing. Tidak ada lagi sambutan heboh yang biasanya dua jagoannya itu lakukan kalau Beni baru saja tiba, tidak ada lagi saling berebut pelukan Beni sampai terjadi pertengkaran hingga Beni harus menggendong keduanya dalam dekapan, tidak ada lagi rayu-merayu Beni demi mendapatkan posisi duduk terdekat.

Kini yang Beni rasakan justru sikap kedua anaknya lebih cuek, apalagi Lintang yang sudah menginjak bangku SMP terlihat sangat tertutup dan pendiam, kalau Bintang masih terlihat jiwa usilnya apalagi jahilnya yang belum juga berubah, hanya saja sekarang kalau Beni ingin memeluk atau menciumnya, selalu saja Bintang menjawab; “Aku sudah besar, Yah.”

Lihat selengkapnya