“BINTANG BUKA WOI!! BUKA!” Suara yang dihasilkan dari tangan Lintang di pagi hari untuk memulai drama karena Bintang seperti biasa, selalu telat tiap kali ingin berangkat sekolah. Bukannya dia belum bangun, suara adiknya bernyanyi bak sedang mengadakan konser dadakan di dalam kamar sudah terdengar berisik, itu artinya Bintang sedang bergaya di depan cermin. Hari ini Bintang akan memulai hari sebagai siswa SMP, bukan lagi bocah SD cengeng yang kekanakan. Dan kebetulan satu sekolah dengan Lintang.
“BINTANG!!”
“Ck ... berisik banget, sih! Nggak tahu apa orang lagi enak-enak nyanyi juga!” Bintang mendengus jengah, mengambil ransel dan membuka pintu. “Bisa nggak, sih, nggak usah berisik!”
“Salah sendiri, siapa suruh bangun kesiangan. Mama dari tadi teriak-teriak nggak didenger.”
“Mau segimana pun telatnya gue, nggak bakalan sampai masuk gerbang sekolah setelah bel.” Jangan heran ke mana perginya sapaan aku-kamu yang biasanya mereka berdua gunakan, semakin besar, semakin mereka mengerti bahwa sapaan aku-kamu sama sekali tidak cocok untuk pergaulan anak Jakarta. Mau tahu siapa yang lebih dulu mengganti panggilan itu?
Yap, Bintang!
“Ya udah, sih, kalau lo mau berangkat sendiri sana. Kecuali kalau mau bareng Ayah, ya, berarti bareng gue juga.” Lintang melengos pergi, dia malas juga kalau harus berdebat dengan Bintang pagi-pagi begini. Dia harus banyak mengalah meskipun Bintang sangat menyebalkan baginya.
Mereka duduk di meja makan, bergabung dengan Ayah yang sedang membolak-balikkan koran dan mengomentari keadaan negara. “Ini berita di mana-mana demo, gimana jalanan nggak macet. Masih mending suara rakyatnya didenger—lah ini—malah jadi rusuh di mana-mana.” Ayah ternyata jengah juga dengan berita yang itu-itu saja dan memilih melipat korannya untuk menyerah. Perhatiannya tertuju ke anak-anaknya. “Wih ... cakep-cakep banget nih anak-anak Ayah.”
Mirna tersenyum, menyimpan dua piring nasi goreng di meja. Bukan hanya hari pertama untuk Bintang sekolah, tetapi juga ini hari pertama untuk Gemilang menjejakkan kakinya di Sekolah Dasar. Mama memilih mengantar Gemilang dan menunggunya sampai pulang. “Nanti abang Lintang temenin Bintang cari kelas, ya, soalnya Mama nggak bisa temenin Bintang.”
“Iya, Ma,” kata Lintang sembari menyuap nasi ke dalam mulut.
“Ini hari pertama Bintang sama Gemilang sekolah, kalian harus rajin. Khususnya buat Bintang, jangan bertingkah aneh-aneh di sekolah. Kalau ada apa-apa, bilang Abang.”
“Kalau Bintang yang buat rusuh, Abang males ikut campur.”
“Yeu kocak! Gua nggak butuh juga bantuan lo!” sanggah Bintang sewot. “Lagian mana mungkin gua buat rusuh. Ngadi-ngadi banget nih anak.”
“Heh, Bintang! apaan sih kasar gitu ngomongnya. Nggak boleh ngomong gitu sama Abang!” Mama mencubit tangan Bintang.
Lintang melemparkan senyum jenaka di sela mengunyahnya, merasa menang karena sudah di bela Mama. Bintang mengernyit, menunjukkan ekspresi kesal. Sementara Ayah hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Tepat jarum jam menunjukkan pukul tujuh, mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Mama sibuk mengunci pintu dan mengecek perlengkapan anak-anaknya apakah ada yang tertinggal atau tidak. Setelah dirasa semua siap, mobil melaju pergi meninggalkan rumah.
***
Baru beberapa hari menjadi murid baru di sekolah, sudah terlihat bagaimana Bintang bertingkah. Dari mulai tidak menaati aturan sekolah yang seharusnya memakai dasi, tetapi Bintang tidak, harusnya memakai kaos kaki berwarna putih namun Bintang justru warna hitam, sehingga harus dapat poin dan teguran dari guru, pun tidak luput keluar-masuk ruang BK. Anomali dengan Lintang yang taat aturan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tentunya menjadi buah bibir guru-guru untuk membandingkan antara Lintang dan Bintang.
Sayangnya, Bintang tidak mengindahkan itu. Justru Bintang mempunyai julukan “Bad boy and gentleman”. Meski begitu, tidak sedikit—justru terbilang banyak—perempuan di sekolah dari mulai seangkatan hingga kakak kelas yang mengagumi Bintang. Tiada hari tanpa perbincangan hangat dari kaum hawa karena ada saja tingkah laku Bintang yang membuat kaum hawa terpesona.
Siang ini adalah jadwal kelas Bintang olahraga, lapangan sudah dipenuhi siswa-siswi yang bersorak-sorai ketika para perempuan bermain bola sepak, sementara para laki-laki menonton di tepi lapang. Seorang perempuan dengan perawakan tinggi besar sedang menggiring bola ke gawang lawan, lawan-lawan yang berusaha menjegal malah jatuh terpental gara-gara terkena dorongan tangannya yang besar. Di gawang lawan, ada seorang perempuan yang bersiap menggagalkan aksi heroik yang ada di depan mata, dengan tangan terlentang dan kaki sudah posisi kuda-kuda, siap untuk menerjang bola.
“Gin, cegat, Gin! Awas jangan sampai lolos!” teriak salah satu perempuan yang satu tim dengan sang kiper.
“Berisik ih! Gue nggak bisa konsentrasi kalau kayak gini!” teriak kiper itu. Namanya Gina, teman sebangku Bintang di kelas. Meski sebangku, tapi mereka tidak akrab sama sekali. Masalahnya, sebangku dengan Bintang sama saja sebangku dengan cacing yang kepanasan alias tidak bisa diam dan juga berisik. Belum lagi tingkah usilnya yang bikin naik darah. Sering kali Gina pindah posisi duduk dengan teman perempuannya yang lain, tapi besoknya temannya itu malah minta pindah seperti semula karena tidak tahan juga dengan keusilan Bintang.
Bola sudah mulai mendekat, Gina mengambil ancang-ancang untuk menerjang. Ketika Gina berlari untuk menangkap bola, kakinya justru terkilir dan sepersekian detik tubuhnya ambruk. Semua orang terkejut, termasuk Bintang. Cewek-cewek langsung berkerumun mengelilingi Gina.
“Gina ... kamu baik-baik aja?” tanya Pak Sueb, guru olahraga.
“Kaki saya sakit, Pak. Aduh!” Gina meringis sembari memegangi kakinya yang terkilir. Ternyata bukan hanya pergelangan kakinya yang sakit, tapi juga lututnya yang terasa perih dan celana olahraganya sobek.
Bintang berlari menghampiri Gina dan tersentak melihat kondisi teman sebangkunya itu. Tanpa berkata apa pun, Bintang langsung berlutut di hadapan Gina, melingkarkan tangan gadis itu di lehernya, Bintang dengan cekat meletakkan satu tangannya di bawah lutut Gina dan satu tangannya lagi di punggungnya.
Bak pahlawan kesiangan yang datang tak disangka-sangka, tindakan refleks Bintang mengundang decak kagum terutama dari kaum hawa yang diam-diam menutup mulut dengan tangan sementara tatapannya melekat ke Bintang.
“Pegangan,” Bintang menginstruksi namun Gina malah melongo melihat tindakan Bintang yang tiba-tiba membopongnya.
Bintang membawa Gina ke UKS, dengan tatapan teman-temannya yang masih melekat pada mereka berdua. Sementara di lantai dua, ternyata ada kakak kelas yang juga menonton aksi heroik Bintang yang menolong Gina—termasuk Lintang—Abangnya sendiri.