Sore itu, Lintang baru saja pulang bermain futsal di salah satu gelanggang olahraga. Dia pulang dalam ekspresi yang tak biasa, dalam keadaan marah dan emosi yang tidak bisa dia kendalikan karena sudah dijahili lawannya.
Saat makan malam pun, Lintang memilih berdiam diri di kamar dan tidak ikut bergabung dengan yang lain di meja makan. Alasannya simpel; tidak lapar dan ingin mengerjakan PR.
Mirna curiga kalau ada yang Lintang sembunyikan. Pasalnya, Lintang tidak pernah sampai tidak makan seperti ini. Mirna menekuk alis, bingung. Tak biasa melihat putranya begini.
Mirna mengetuk kamar Lintang. “Nak ... ini Mama ... Mama boleh masuk?”
“Boleh,” sahut Lintang dari dalam kamar.
Mirna membuka knop pintu perlahan, melongokkan kepalanya ke dalam sebelum akhirnya perlahan melangkah masuk, tangannya membawa nampan yang di atasnya terdapat semangkuk soto dan satu piring nasi.
Meja belajar Lintang penuh dengan kertas-kertas dengan coretan abstrak hanya untuk menggambarkan perasaannya yang sedang berantakan, diacak-acak oleh keadaan dan keberanian yang masih dipertanyakan.
Mirna meletakkan nampan itu di atas nakas, terlihat jari-jemari Lintang sibuk menari-nari di atas buku diary-nya. Mirna mengambil kertas yang berserakan di lantai, membuangnya ke tempat sampah yang ada di samping meja belajar. Menyadari Mirna mendekat, Lintang menutup buku diary miliknya.
Mirna mengelus lembut kepala Lintang. “Makan dulu, sayang.”
“Nggak laper, Ma.”
Mirna menyadari sesuatu dari sikap aneh Lintang, dia menyadari kalau perasaan putra sulungnya sedang tidak baik-baik saja. “Siapa yang bikin Abang kesel kayak gini?”
Lintang terdiam, enggan menjawab. Namun seraut wajahnya berekspresi kesal, tangannya pun mengepal menahan amarah yang tidak bisa dia luapkan.
Sementara Mirna berpindah untuk duduk di tepi ranjang di samping Lintang. “Perasaan seorang Ibu itu nggak bakalan pernah salah, Nak. Mama tahu ada yang bikin Abang kesel sampai Abang nggak mau makan. Kenapa, Nak?”
“Tadi ban sepeda Lintang di boncos sama lawan futsal Lintang dari kelas sebelah. Lintang marah, Lintang nggak suka. Tadi Lintang dorong sepeda dari gelanggang sampai rumah. Mana capek banget.”
“Terus, apa yang Abang lakuin waktu temen Abang kempesin ban sepeda?”
“Diem aja.”
“Kenapa nggak Abang lawan?” Suara itu terdengar dari arah pintu masuk kamar. Suara Beni. Entah sejak kapan Beni berdiri di sana, sepertinya Ayahnya itu mendengar percakapan antara istri dan putranya itu. Beni melangkah masuk, duduk di samping Mirna.
“Abang takut, Abang nggak berani.”
“Kalau kita benar, kenapa harus takut? Selagi perbuatan dia salah dan merugikan kita ... ya, kita harus lawan. Bukan karena kita sok jagoan, tapi itulah pertahanan diri supaya nggak diinjak terus sama orang. Supaya kita nggak dianggap lemah. Lain kali, kalau Abang diperlakukan kayak gitu lagi atau lihat orang lain yang dijahili, jangan takut buat lawan apa yang Abang yakini, ya?”
Lintang mengangguk paham. “Iya, Ayah. Maaf Abang masih banyak takutnya.”
Beni mengulas senyum. “Iya, nggak apa-apa. Namanya kehidupan, harus ada pelajaran supaya kita bisa terus berkembang. Jangan ragu buat membela kebenaran, meski dalam situasi yang tidak memungkinkan sekalipun.”
Mirna tersenyum penuh, mengambil sepiring nasi dan semangkuk soto yang ada di atas nakas, mencampurkan sedikit kuah soto ke dalam sepiring nasi. “Ya udah, sekarang Abang makan dulu, ya? Nggak baik kosongin perut lama-lama.” Mirna menyuapi Lintang yang akhirnya mau membuka mulutnya untuk dimasuki sesendok makanan.
Lintang sudah merasa tenang, emosi yang semula membungkam dan melilit dadanya kuat-kuat seolah perlahan melonggar hingga bisa bernapas lega.
Lagi dan lagi, wejangan Beni berhasil menjadi obat kepercayaan diri Lintang meningkat. Seolah perkataan Beni adalah sebuah suplemen kuat yang berhasil membuat Lintang merasa hidup kembali. Kalau ada yang bertanya; Siapa role model dalam hidup Lintang? Lintang akan menjawab dengan tegas, lugas dan lantang ... AYAH.
***
Suasana kantin sangat ramai, jam istirahat adalah surga bagi anak-anak sekolahan bagai oase di tengah gurun, memberi mereka jeda dari kepala yang nyaris kering-kerontang. Ketika bel berbunyi, semua murid berlari seperti sekelompok ayam yang baru dikeluarkan dari kandang.
Di kantin, sudah terlihat jelas dari posisi duduk anak-anak bahwa ada beberapa macam kubu terbentuk di lingkungan sekolah. Ada yang mejanya hanya terdiri dari dua orang, ada yang mejanya berkelompok sangat ramai seperti membawa pasukan, misalnya meja yang diduduki Bintang. Menaiki kelas delapan, justru dia lebih sering bergabung dengan kakak kelas ketimbang sama teman sekelas, tapi bukan dengan kubu Lintang melainkan dengan kubu anak-anak nakal yang selalu buat onar.
“Tang ... adik lo gacor juga, ya?” sahut Huda. “Bisa gabung sama Aris dan kawan-kawan.”
“Bukan gacor kocak! Itu namanya masuk lingkaran setan,” timpal Gugun. “Komplotan mereka itu udah di cap anak-anak nakal, yang ada bawa pengaruh buruk buat Bintang ...,” Gugun melirik Lintang yang fokus pada satu objek. Piring batagor. “Ya ... nggak kayak Abangnya ... cupu.”
Refleks Lintang melempar tatapan nyalang pada Gugun yang duduk di sampingnya. “Kurang ajar!”
“Tapi enak juga, ya, temenan sama si Aris, populer, tajir lagi, apalagi cewek-cewek cantik pada ngumpul di situ,” Huda setia memanasi sampai membuat Lintang geram. “Gue juga mau kalau diajak gabung.”