Sebuah gedung lima lantai yang menjulang tinggi terlihat sangat gagah dan mewah berdiri kokoh di tengah pusat kota Jakarta, dengan plang ‘Himalaya Architect” terpampang jelas di bagian depan. Fuji berjalan menyusuri lorong yang sisi kanan dan kirinya ruang kerja operasional dengan orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Langkah kaki Fuji berhenti di sebuah ruangan di ujung lantai tiga, dengan daun pintu menjulang tinggi sangat mengintimidasi. Dia membuka pintu itu perlahan dan terlihat seorang laki-laki duduk di balik mejanya.
“Permisi, Pak,” dia menyapa ramah.
Laki-laki itu mendongak, menatap Fuji yang masih berdiri di depan pintu yang sudah kembali tertutup. Dia Beni. “Silakan duduk, Fuji.”
Fuji duduk di salah satu sofa sambil menyimpan macbook-nya di atas meja. Beni sengaja memanggil Fuji ke ruangannya karena konsep desain yang sudah Beni buat telah rampung dan kini gambar tersebut Beni serahkan pada Fuji untuk diterjemahkan menjadi gambar teknis yang detail.
Beni beranjak dari kursi kerjanya, di tangannya sudah banyak lembaran kertas desain. Beni melangkah mendekati Fuji dan duduk di hadapan Fuji. “Kita mulai mengerjakan proyek hotel bintang tiga ini. Konsep desain yang disetujui klien yaitu modern tropis dengan enam lantai. Total kamar yang ditargetkan ada 80.”
“Baik, Pak,” Fuji mengangguk paham, tatapannya fokus pada kertas hasil desain Beni yang sekarang digenggamnya. “Untuk tipe kamar apakah standar atau ada tipe lain?”
“Mayoritas kamar standar ukuran 24 meter persegi dan ukuran kamar deluxe 34 meter persegi. Jangan lupa juga koridor utama minimal dua meter agar sirkulasi tamu nyaman. Saya ingin kesan setiap ruangannya luas dan mewah meskipun ini kategori hotel bintang tiga.”
“Baik, Pak, saya akan mulai mengerjakan hari ini sesuai zoning yang bapak buat.”
“Kalau ada spesifikasi yang kurang jelas, langsung tanya saya, ya? Jangan mengambil asumsi sendiri.”
“Baik, Pak, saya akan koordinasi terlebih dahulu dengan bapak sebelum merevisi atau menambahkan detail.”
“Bagus, setelah selesai, kita review bersama sebelum di kirim ke tim struktur dan MEP.”
Fuji mengangguk, menyungging senyum menatap Beni. “Baik, Pak.”
Mereka terdiam. Hening menyelimuti ruangan hanya terdengar suara dari sirkulasi AC yang keluar masuk. Beni kembali sibuk dengan lembaran kertas desain miliknya sementara Fuji justru menatap Beni dengan sorot mata yang sulit untuk dideskripsikan. Dia tidak percaya bahwa dirinya sekarang bisa bekerja bersama dengan seorang Beni Santoso yang menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa arsitek ketika Fuji masih duduk di bangku perkuliahan. Sekarang senior arsitek yang dikenal sebagai “The King of Architects” itu sudah ada di depan mata. Banyak bangunan mewah dari hasil desain tangan Beni yang begitu memukau.
Fuji pernah bermimpi, suatu saat dia ingin menjadi arsitek hebat seperti Beni dan menjadikan Beni panutan untuk mencapai mimpinya.
Impian itu akhirnya mulai terlihat, di depan mata—dia bisa langsung melihat seorang Beni Santoso yang sering dibicarakan banyak orang. Panutan dirinya untuk menggapai semua mimpi.
***
Tindak buntut memukuli Dendi sampai kena skors tiga hari ternyata membuat Bintang kapok sendiri. Dia memilih menginap di rumah Oma dari pada di rumah sendiri yang sejatinya tempat perlindungan teraman dan ternyaman penuh ketenangan namun justru menjadi tempat yang paling berisik di telinga Bintang karena Mama setiap waktu selalu saja ceramah dengan sejuta kalimat marah-marah yang tak hentinya diulang-ulang.
Dia berjalan keluar dan melihat Oma sedang duduk di teras bersama om-nya yaitu Kakaknya Ayah yang sedang berkunjung—namanya Om Deni—sedang mengupas Mangga dari pohon di taman yang sudah berbuah. “Hei, sini makan Mangga dulu.”
“Nanti aja, Om, Bintang mau main dulu.” Bocah lelaki itu mengambil sepedanya yang disandarkan di dekat tembok.
“Main ke mana? Ini loh ada Mangga, makan dulu sini. Bentar lagi juga Angga datang sama Tante Heni, pasti pengen main sama kamu tuh.” Angga yang disebut Deni itu anaknya, usianya beda satu tahun lebih muda dari Bintang sementara Heni itu istri dari Om Deni.
“Kenapa om nggak datang bareng sama Angga dan Tante Heni?” tanya Bintang yang sudah duduk di atas sepedanya.
“Angga masih di sekolah, bentar lagi juga pulang, mau langsung kesini sama Tante Heni.”
“Oh,” Bintang mengangguk-angguk. “Ya udah kalau gitu aku main dulu sebentar, mau ambil layangan yang putus.”
“Ya udah, jangan sore pulangnya,” sahut Oma memperingati. “Jangan kotor-kotoran juga.”
“Siap, Oma, dah!” Bocah lelaki itu bergegas pergi sambil mengayuh sepedanya menuju lapangan. Dia mengayuh rodanya dengan semangat apalagi ketika melihat layang-layang yang ramai di langit bagai burung tak bernyawa beterbangan dikendalikan manusia.
Suara teriakan anak-anak beradu dengan suara kendaraan yang berlalu-lalang dan langkah kaki berlari saling menyatu menjadi satu, menciptakan suasana ramai yang tidak pernah Bintang rasakan di kawasan kompleks rumahnya yang sepi dan lebih mengintimidasi.
Bintang yang sedang mengayuh sepedanya mendadak berhenti dan menekan pedal rem kemudian menjatuhkan sepedanya sia-sia, berlari kencang ketika melihat layangan yang baru saja putus melayang-layang di udara tanpa arah yang semakin lama semakin rendah.
Dari situ anak-anak mendadak menjelma menjadi atlet pelari maraton profesional dengan langkah kaki lebar lagi cepat bak seperti cheetah yang mengejar mangsa, bahkan tidak peduli ada apa di sekitar karena seluruh atensi dan pandangan hanya tertuju ke langit—ke satu layangan yang terombang-ambing tertiup angin—tanpa tahu di mana layangan itu akan menepi.
Tidak sedikit anak-anak itu ada yang terjerembap jatuh ke selokan karena satu kakinya masuk ke dalam, ada yang meluncur ke dalam sawah karena kena senggol temannya sementara Bintang tidak sengaja menabrak seorang perempuan seusianya yang sedang berjalan sampai mereka berdua saling adu banteng dan akhirnya terjatuh.
“Awwww—” perempuan itu menutup wajahnya yang terasa perih karena menabrak dada Bintang. Sementara Bintang meringis karena bokongnya jatuh tanpa aba-aba ke atas aspal. “Lihat-lihat dong! Punya mata itu di pakai buat lihat jalan, bukan malah fokus lihat ke atas!”
“Lo yang nggak lihat jalan!” sanggah Bintang—tidak mau kalah. “Udah tahu banyak orang yang lari kejar layangan, harusnya lo minggir kasih jalan!”
Perempuan itu membuka tangannya yang menelungkup wajah dan ternyata itu Gina, teman sebangkunya di sekolah. “Oh lo yang tabrak gua! Lo ini ... nggak di mana-mana pasti buat onar! Eh! Gua udah di jalan yang bener, ya! Lo-nya aja yang nggak punya mata!”
“Yeu nenek lampir nyerocos mulu kayak beo! Nih, mata gua, nih!” Bintang membuka kelopak matanya lebar-lebar dengan jarinya sampai terlihat bola matanya menonjol keluar. “Lagian lo ngapain di sini?”
“Ya gua mau balik—gue sekolah—nggak kayak lo!”
“Yeu kurang ajar!” Bintang bangkit dan menepuk-nepuk celananya karena kotor. Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Gina. Niatnya ingin membantu Gina berdiri, tetapi reaksi Gina justru di luar ekspektasi.
“Apaan?!” tanya Gina sewot, kenyitan di dahinya sangat kentara kalau dia benar-benar kesal pada Bintang.
“Ya sini ... bangun. Ya kali lo mau duduk di situ mulu.”
“Ogah! Gua bisa bangun sendiri!” Gina hendak bangkit untuk berdiri namun entah kenapa tubuhnya justru mendadak lemas dan kembali ambruk. “Aww!”
“Kan ... ngeyel!” tangan Bintang masih setia terulur. “Di bilang pegang sini gua bantu.”
Gina berdecak jengkel, mau tidak mau akhirnya dia mengapit tangan Bintang untuk membantunya berdiri. Gadis itu membersihkan bulir kotoran yang ada di baju dan tangannya sambil menggerutu kesal.
“Emang rumah lo di mana?” tanya Bintang penasaran sambil kepalanya menoleh kanan kiri mengamati sekitar yang tidak ada rumah sama sekali di sana, hanya ada kebun, sawah dan lapangan yang dipenuhi anak-anak bermain.
“Kepo!” Gina mendelik sinis.
Bintang menekuk alis, kembali menatap Gina. “Ayo gua anter pulang.”
“Nggak usah!”