Udara Bandung terasa sangat sejuk, langit membentang luas berwarna biru muda dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih yang berarak perlahan seolah mengikuti arah angin dengan lembut. Pagi ini matahari belum sepenuhnya muncul, suara kicau burung beradu dengan suara alat berat terdengar bersahutan menciptakan perasaan tenang sekaligus tegang karena pembangunan hotel bintang tiga itu baru saja dimulai.
Setelah bergelut beberapa Minggu dengan desain dan beberapa revisi kecil dari klien, akhirnya Beni dan Fuji berhasil berdiri di sini, di tempat di mana desain yang semula hanya dibuat dengan coretan pena di atas kertas kini terealisasikan dengan sebuah bangunan nyata yang dapat dihuni banyak orang.
Beni berjalan menyusuri area pembangunan, helm proyek berwarna putih itu membungkus sebagian kepalanya, rompi reflektif membalut tubuhnya yang tegap. Setumpuk gambar kerja digenggamnya sementara Fuji berjalan di samping Beni sambil membawa tablet dengan gambar kerja dilayarnya.
Beni sesekali berhenti untuk membandingkan kondisi lapangan dengan visual gambar.
“Secara umum, progresnya cukup baik untuk Minggu pertama, tidak ada yang keliru dan semua sesuai dengan dokumen pelaksanaan.”
“Iya, Pak, saya lihat pekerjaan pondasi sudah sesuai dengan gambar yang kita keluarkan.”
“Kita harus melakukan inspeksi rutin. Jadi ketika pembangunan hotel ini selesai, kualitasnya sesuai dengan standar yang kita inginkan.”
Fuji mengangguk dengan senyuman terukir indah di bibir mungilnya. “Baik, Pak. Saya akan menyiapkan laporan kunjungan dan memperbarui gambar bila diperlukan.”
Beni mengangguk puas.
Beni dan Fuji menghabiskan waktu hampir seharian berkeliling area pembangunan, memeriksa pekerjaan dan berdiskusi dengan kontraktor. Ketika menjelang sore hari setelah selesai mengadakan rapat singkat di lapangan, akhirnya Beni dan Fuji pergi bersamaan dengan para pekerja karena waktu bekerja hari ini cukup sampai di pukul lima sore tepat.
Mereka tidak langsung pulang ke Jakarta karena masih ada jadwal untuk kunjungan berikutnya di esok hari dan alhasil, Beni dan Fuji menginap di hotel yang tidak jauh dari area pembangunan.
Setelah beberapa Minggu selalu menghabiskan waktu bersama dan terkadang Beni mengantar Fuji pulang, kini hubungan antara Beni dan Fuji terjalin sangat dekat, tidak ada rasa canggung dan segan di antara keduanya. Hanya gelak tawa dan canda yang sekarang menghiasi hari-hari mereka, memupus jarak yang semula terbentang jauh kini terasa sedekat jantung dan hati.
“Kita ke Braga dulu, yuk?” ajak Beni ketika mobil Beni baru saja keluar dari area pembangunan.”Deket juga dari sini ke Braga.”
“Ngapain, Pak?”
“Ya jalan ... atau keliling Bandung deh, mumpung lagi di Bandung kita. Tapi kamu capek, nggak?”
“Hm ... nggak, sih. Ayo aja saya ikut bapak.”
Bandung sore itu terlihat begitu sangat menawan, langit berwarna jingga membentang luas di atas kota. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu memantulkan cahaya hangat dan menyejukkan. Beni memarkirkan mobilnya di sebuah kafe kopi berlantai dua di sudut Bandung kota, aroma kopi hangat menguar di udara. Mereka duduk di lantai dua dan di area outdoor, mengagumi pemandangan kota yang perlahan berubah menjadi lautan cahaya.
“Bandung cantik banget, ya?” seraut wajah Fuji terkesima tidak lepas mengagumi keindahan yang memanjakan mata.
Alunan musik jazz mengalun lembut menciptakan suasana damai dan romantis.
Beni menatap lekat Fuji, menyungging senyum kagum dengan sorot mata teduh yang begitu dalam. “Orang-orang bilang, kota Bandung diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum.”
Fuji menoleh, mereka bertatapan. “Saya setuju dan Eropa punya Paris sebagai kota romantis, tapi Indonesia punya Bandung.”
Beni mengangguk. “Saya setuju.”
Seorang waiter laki-laki menghampiri, menyimpan beberapa pesanan yang sebelumnya Beni pesan. Ada dua piring nasi goreng seafood dan dua gelas minuman terhidang di atas meja. Waiter itu berlalu sesaat setelah mengucapkan “Selamat menikmati.”
Beni sudah menyuap nasi goreng ke dalam mulut, sementara Fuji masih sibuk mencampurkan beberapa potongan cabai ke nasi, Beni mengernyit melihat porsi cabai yang ditambahkan Fuji. “Itu yakin mau dimakan?”
“Hm?” Fuji menatap Beni. “Iya, saya lupa request pedas tadi. Kalau makan nggak pedas itu nggak nikmat, Pak.”
“Tapi kasihan itu lambung kamu.”
“Jadi kasihan sama lambung saya aja nih—sama saya nggak?” Fuji melempar senyuman genit sebelum akhirnya menyuap sesendok nasi goreng itu ke dalam mulut.
Beni menyungging senyum rikuh, kembali fokus dengan sepiring nasi gorengnya. Tidak ada percakapan apa pun di antara mereka, hanya alunan musik dan desas-desus orang-orang sekitar yang memenuhi indera pendengaran. Sesekali, Beni curi-curi pandang sambil melemparkan senyuman.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk Fuji menghabiskan makanannya sementara Beni sudah habis lebih dulu. Mereka kembali masuk ke dalam mobil, menikmati jalanan kota Bandung yang semakin malam semakin indah. Dari kejauhan, terlihat perbukitan yang mengelilingi Bandung dihiasi gemerlap lampu yang menyerupai bintang-bintang jatuh ke bumi.
Mereka saling bercerita segala hal dan tertawa bersama, saling melempar candaan, tanpa disadari Fuji beberapa kali memukul gemas bahu Beni. Di tengah keindahan kota itu, mereka menyadari bahwa Bandung bukan hanya tentang pemandangan yang indah dan udara sejuk yang menenangkan. Tetapi kota itu istimewa karena mereka menikmatinya bersama.
Di tengah tawa dan canda, tanpa disengaja tangan mereka saling bersentuhan. Keduanya terdiam saling menatap, manik mata Beni yang berwarna cokelat gelap memandang Fuji lebih dalam sampai Fuji seolah bisa hanyut dalam tatapan itu. Beni menggenggam erat tangan Fuji lalu mengecupnya.
Fuji terperangah melihat apa yang sudah Beni lakukan, tapi dia tidak bereaksi sama sekali karena merasa nyaman dan menikmati momen setiap momen yang mungkin tidak bisa diulang kembali. Tapi dia sadar ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Jantung yang berdebar begitu cepat.
***
Sementara di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Mirna refleks melempar pisau yang sedang dia genggam ketika benda tajam itu menggores telunjuknya saat dia sedang memotong Mangga pemberian Oma untuk anak-anaknya.