Ternyata tawaran Beni tidak main-main, satu Minggu setelah perkataannya di dalam mobil malam itu, akhirnya apa yang Beni katakan menjadi kenyataan.
Sebuah apartemen mewah dengan jarak yang terbilang cukup dekat dengan kantor adalah pilihan Beni untuk memberikannya pada Fuji. Bukan tanpa alasan karena Beni tidak mau sampai Fuji harus berjuang melawan macet dan kesibukan kota Jakarta yang tiada hentinya.
“Mas Ben ... ini terlalu mewah.” Air mata di kelopak mata Fuji sudah berlinang tak terbendung, dia tidak sanggup untuk terus menahannya begitu lama.
Sejak menginjakkan kaki di gedung apartemen itu, hingga melangkahkan kaki masuk ke dalam unit di lantai tiga, hatinya berdebar kencang tak karuan, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa antara senang atau sedih. Perasaannya begitu sangat kalut dan ini jelas sangat mendadak. Fuji pikir omongan Beni hanya bualan semata yang biasa menjadi senjata laki-laki hidung belang untuk mendekati mangsa. Namun, ternyata dugaan Fuji salah. Justru Beni dengan gantle membuktikan bahwa perkataannya tidaklah main-main.
Meski hati dan pikirannya sempat beradu argumen untuk mengakhiri semua ini karena mengingat semua karyawan sudah mengetahui hubungan mereka yang bisa dibilang hubungan terlarang karena Beni sudah berkeluarga. Sementara Fuji tidak pernah memberi tahu soal gosip yang sudah menyebar luas itu pada Beni, entah Beni sudah tahu dan berlagak tak peduli atau memang tidak tahu sama sekali. Fuji tidak mau memulai kalau tidak Beni yang duluan membahas masalah yang bisa dibilang sensitif itu, dia juga tidak mau memperkeruh keadaan karena perasaannya pada Beni sudah terlalu sangat dalam.
Dia memilih untuk diam karena pikirnya, setiap masalah pasti akan menemukan jalan keluar. Terdengar sangat egois untuk sebuah masalah yang sedang dia hadapi.
Beni menyungging senyum lebar. “Aku pengen kamu nyaman, jadi aku pilih yang terbaik. Kamu suka?”
Fuji mengangguk antusias, bibirnya mengerucut, kedua ujung bibirnya turun dan tanpa dia sadari, air mata yang semula menggenang kini lepas landas membasahi pipi. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang terlewat bahagia.
“Hei ... kenapa nangis?” Beni menghapus air mata di pipi Fuji dengan lembut. “Ada yang salah, ya? Atau kamu nggak suka?”
Fuji menggeleng. “Aku seneng banget, tapi kamu nggak perlu kasih apartemen semewah ini buat aku. Aku nggak masalah kalau harus bolak-balik desak-desakan sama orang-orang di kereta atau jalan jauh, karena itu jadi rutinitas aku setiap hari.”
“Justru itu ... aku pengen ubah rutinitas kamu itu jadi lebih baik—menurutku—dan aku harap kamu ngerti maksud aku.”
Beni mengusap lembut kepala Fuji dan turun ke pipi, kembali menghapus air mata yang mengalir terus tanpa henti. Manik mata milik Beni menatap lekat perempuan yang ada di hadapannya ini. Seolah tatapan itu memberi isyarat sebagai pelindung yang tidak akan pernah meninggalkan dalam kondisi apa pun.
Tanpa permisi, Fuji memeluk erat tubuh tegap Beni. Air matanya semakin mengalir deras dan suara isak tangis yang semula dia tahan untuk tidak keluar kini sudah tak tertahan. Seperti anak kecil yang kelewat bahagia dibelikan mainan oleh ayahnya.
Beni membalas pelukan Fuji dengan lembut, mengelus rambut hitamnya yang terurai indah. Tubuh mungil Fuji kini masuk sepenuhnya dalam dekapan Beni.
“Udah ... jangan nangis kayak gini. Aku nggak mau lihat kamu nangis.”
Fuji melepaskan pelukannya, menatap Beni dengan sorot mata berbinar. “Aku harus balas apa?”
“Balas?” Beni mengernyit heran. “Balas apa?”
“Kebaikan kamu.”
Beni terkekeh geli, menggelengkan kepala. “Nggak usah. Anggap aja ini sebagai bukti aku sayang sama kamu.”
Fuji menghapus air mata yang tersisa di pipi. Tanpa aba-aba dan permisi, dia berjinjit lalu mengecup bibir Beni, memegang kedua pipinya hingga memupus jarak di antara keduanya. Sementara Beni tertegun, dia diam beberapa saat untuk kemudian membalas ciuman Fuji. Tanpa Beni sadari, dia terus melangkah maju, membuat Fuji mau tak mau melangkah mundur sampai kaki belakangnya menabrak ujung ranjang dan tubuh mungilnya langsung ambruk ke atas kasur.
Di satu sisi, sebuah ponsel di atas meja berdering, kontak yang diberi nama “My Luvly” muncul di layar dengan foto Mirna yang terpampang jelas. Namun, tidak ada yang mengindahkan suara dering ponsel itu. Mereka hanyut tenggelam dalam dekapan dengan dunia di sekitar mereka terasa menghilang.
***
Suasana SMP Buana Bangsa—tepatnya sekolah Lintang dan Bintang—pagi hari itu tidak seperti hari Senin biasanya. Pemandangan sekolah pagi itu terlihat ramai—lebih ramai dari hari-hari sebelumnya—karena hari ini adalah hari perpisahan murid kelas 9. Mereka mengenakan pakaian dengan tema warna army, katanya sih supaya semuanya seragam jadi sewaktu mengambil foto perpisahan antar kelas, warnanya terlihat estetik dan teduh untuk dilihat. Tidak banyak warna yang mencolok, apalagi kalau perempuan yang selalu memakai kebaya dengan macam-macam warna.
Beni, Mirna, dan Gemilang duduk di barisan paling depan orang tua siswa-siswi, sementara Lintang duduk di barisan siswa-siswi kelas 9 sedangkan Bintang memilih untuk bergabung dengan gerombolan anak-anak nakal kelas 9 yang duduk berpisah dari sekumpulan anak lainnya. Yaitu di dekat gerbang.
Pembukaan acara diawali dengan penampilan dari marching band SMP Buana Bangsa, selanjutnya acara disambung dengan sambutan kepala sekolah, lalu berlanjut ke sambutan dari mantan ketua OSIS tahun lalu sebagai perwakilan ucapan perpisahan dan terima kasih dari kelas 9. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengumuman nilai ujian terbesar di sekolah dan memecahkan rekor nilai tertinggi se-DKI Jakarta yang diraih oleh salah satu siswa dari SMP Buana Bangsa.
Di atas panggung sudah berdiri kepala sekolah bersama para guru, membawa beberapa nampan dengan medali, piagam serta piala di atasnya.
Ketika nama-nama siswa berprestasi mulai disebut satu per satu, semua mata tertuju ke depan. Beberapa siswa-siswi naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan dari kepala sekolah dan guru, lalu berbaris di samping guru dengan senyuman merekah ruah.
“Baik, ini adalah siswa dan siswi berprestasi dan memperoleh nilai yang cukup tinggi di SMP Buana Bangsa. Namun ada satu siswa yang memperoleh nilai ujian nasional tertinggi tahun ini se-DKI Jakarta.” Suasana sekolah langsung ramai dengan tepuk tangan meriah dan desas-desus orang-orang, siswa-siswi maupun orang tua saling melempar tatapan satu sama lain, bertanya-tanya siapa siswa beruntung yang mendapat nilai tertinggi itu.
“Untuk itu, dengan bangga kami mengumumkan bahwa peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolah kita, sekaligus salah satu nilai tertinggi di DKI Jakarta, diraih oleh ... Lintang Pratama Santoso!”
Seluruh orang di sana langsung bertepuk tangan heboh, ada yang bersiul dan berteriak girang ketika nama Lintang baru saja disebutkan.
Lintang yang duduk di antara teman-temannya sempat membeku karena tidak menyangka namanya yang justru disebut. Teman-temannya menepuk bahu Lintang, sedangkan Huda dan Gugun memeluk tubuh temannya itu dengan bangga sambil mengucapkan selamat.
Dengan langkah pelan dan gugup, Lintang berjalan menuju panggung.
Sementara itu Beni dan Mirna terdiam sejenak. Mereka saling memandang dengan mata yang mulai berkaca-kaca, seolah tidak percaya bahwa perjuangan panjang dan ketekunan Lintang belajar akhirnya membuahkan hasil.
Mirna menutup mulutnya dengan tangan, menahan rasa haru yang begitu besar. Senyum bangga terpancar di wajahnya, sementara matanya dipenuhi air mata kebahagiaan.
Beni berdiri dengan wajah penuh kebanggaan. Tatapannya mengikuti langkah puteranya yang berjalan menuju panggung menerima penghargaan. Beni tersenyum bangga sambil bertepuk tangan, perasaan bahagia tidak bisa dia pungkiri ketika menyadari Lintang yang selama ini pendiam justru mendapat pencapaian yang luar biasa tanpa disangka.
Disisi lain, justru Bintang berusaha menenangkan diri. Semua teman-teman Bintang dari gerombolan kelas sembilan justru mengejek Bintang kalau kakaknya lebih berguna dibanding dirinya.