Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #11

INDIKASI PRADUGA

Kesetiaan bukan tentang lautan yang selalu tenang, tetapi tentang Nakhoda yang mengenali setiap gelombang, tetap bertahan mengarungi lautan bahkan ketika badai berusaha menenggelamkan kapal.

***************************

Di pelataran rumah, mobil Beni sudah terparkir dengan beberapa tas dan koper tersusun rapi di bagasi. Beni memeriksa kembali barang-barang Lintang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

Sementara Lintang menatap seluruh penjuru kamarnya. Berat rasanya meninggalkan kamar pribadinya, terlebih banyak sekali kenangan indah di dalam sana yang tidak mungkin bisa Lintang lupakan.

Mirna berdiri di depan pintu kamar Lintang, memandangi anaknya dengan mata berkaca-kaca, perlahan kamar itu mulai kosong. Tanpa disadari, air matanya menetes dan dengan sigap Mirna menghapusnya. Lintang berbalik, menatap Mirna lalu tersenyum tipis.

“Ada yang ketinggalan?”

Lintang menggeleng. “Nggak ada, Ma.”

Mirna menyungging senyum sumir, menarik Lintang masuk ke dalam pelukannya. Ada perasaan bangga bercampur haru, karena hari itu mereka akan mengantar anak sulungnya berangkat ke Malang untuk memulai menggapai sebuah mimpi besar.

“Ma, Abang ... ayo.” Suara Beni sudah terdengar. Mirna melepaskan pelukannya lalu mengusap wajah anaknya, ditatapnya dengan teduh dan tanpa bisa menahan, air matanya kembali luruh.

Lintang terenyuh, alisnya menekuk. “Ma ... udah. Doain Lintang sukses, ya, Ma. Lintang janji, Lintang bakalan banggain Mama sama Ayah.” Lintang menghapus air mata di pipi Mirna meski tidak bisa dipungkiri kalau dadanya juga ikut terasa sesak, tapi Lintang harus terlihat kuat di hadapan Mirna meski mata sudah berkaca-kaca.

Tidak mau berlarut dalam situasi yang cukup menguras emosi, Lintang menarik tangan Mirna untuk memenuhi panggilan Beni.

Beni, Oma, Bintang dan Gemilang sudah masuk ke dalam mobil sedangkan Lintang memeriksa kembali perlengkapan di dalam tasnya. Mirna mengunci pintu rumah.

Setelah dirasa sudah siap, mereka masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan rumah.

Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Malang dimulai.

Pagi itu, Jakarta masih diselimuti kesibukan seperti biasanya. Suara kendaraan berlalu-lalang, klakson dari pengemudi tidak sabaran saling bersahutan, pedagang yang mulai membuka dagangan dan orang-orang yang bergegas mengejar aktivitas masing-masing begitu terkesan ramai. Namun, bagi keluarga kecil Beni, hari tersebut terasa berbeda.

Hari di mana sebuah langkah pertama Lintang meninggalkan rumah untuk mengejar cita-cita dan melanjutkan pendidikan. Di dalam mobil, suasana awalnya terasa hangat. Mereka berbincang tentang banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil, cerita sekolah, hingga melempar canda.

Mirna beberapa kali menoleh ke kursi belakang, melihat Lintang yang sedang menikmati pemandangan dari jendela dan sesekali menggelitiki Gemilang sampai adiknya itu tertawa geli.

Kota demi kota dilewati, perubahan pemandangan dari gedung-gedung tinggi Jakarta menjadi hamparan sawah, pegunungan, dan udara yang semakin sejuk ketika mendekati Jawa Timur. Sesekali Beni menepikan mobilnya di rest area untuk beristirahat dan makan bersama, mengambil sebuah potret sederhana dari kamera ponsel untuk menciptakan sebuah momen yang akan menjadi kenangan manis di kemudian hari.

Mobil mulai memasuki wilayah Malang yang terlihat tenang dengan aktivitas orang-orang yang tidak begitu ramai, berbeda dengan Jakarta yang sangat kontras dengan kehidupan hiruk-pikuk orang-orang yang tiada habisnya. Beni melirik kaca spion tengah, menatap wajah Lintang yang terlihat antusias.

“Betah di sini, ya, Bang. Nanti kabarin Oma, cerita-cerita sama Oma.”

Lintang menyungging senyum. “Iya, Oma.”

Oma mengelus punggung Lintang.

“Rasanya baru kemarin Mama ajarin Abang jalan dan sekarang Mama harus lepas Abang buat jalan sendiri.” Mirna tertunduk, setetes air mata mulai turun dan langsung dihapusnya dengan telunjuk.

“Dulu, setiap hari Ayah anterin Abang sama Bintang ke sekolah, sekarang Ayah anterin Abang ke kota lain buat ngejar mimpi Abang.”

Lintang terenyuh. Kepalanya menunduk dalam, ada perasaan aneh mengungkung kuat dadanya hingga tak urung membuat Lintang dirundung kesedihan, seolah ada awan mendung menggantung di atas kepalanya. Lintang mengerjapkan matanya berkali-kali karena sudah berkaca-kaca, tidak mau akhirnya keluar jadi air mata.

Mereka semua sampai di sebuah gedung sekolah dengan plang nama ‘Ganesha Internasional Football Academy’ yang terpampang jelas di atas gerbang yang menjulang tinggi. Ada beberapa gedung besar. Salah satu sekolah berasrama terbesar di kota Malang. Ada banyak kendaraan yang terparkir di sana.

Semua turun dari dalam mobil. Seluruh atensi terpusat pada gedung sekolah sekaligus asrama yang terlihat gagah dan kokoh.

“Waw ...,” Bintang berdecak kagum, menggeleng tidak percaya menatap sekitar. “Mewah juga sekolahnya.”

“Ntar lo sekolah di sini juga, temenin gua.”

Bintang mengernyit, menoleh ke arah Bintang yang tepat berdiri di sampingnya. “Ogah! Tambah bego gua di sini.”

Lintang mendengus. “Makanya bego jangan dipelihara.”

Yeu ... kurang ajar!” refleks Bintang mendorong pelan bahu Lintang, mereka tertawa bersama.

“Gua titip semua, ya? Kalau ada apa-apa, kabarin gua.”

“Iya.”

Semua barang-barang sudah diturunkan dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam gedung dan bertemu dengan kepala sekolah, berbincang singkat dan langsung diantar ke dalam asrama. Lintang ditempatkan di asrama lantai tiga. Pengurus asrama memberikan kunci kamar, semua barang-barang Lintang di masukkan ke dalam.

Beni menyungging senyum, memegang kedua bahu Lintang. “Jaga diri baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri, bilang sama Ayah atau Mama, ya?”

Lintang menarik ujung bibirnya hingga mengukir senyum, mengangguk. “Iya siap, Ayah.”

Lihat selengkapnya