Panas. Pengap. Berkeringat.
Kira-kira itulah tiga kata yang mewakili kondisi Lintang saat ini. Sudah dua jam Lintang berlatih sepak bola di bawah teriknya matahari. Berkali-kali mengulang formasi dan latihan fisik sesuai instruksi.
Lintang membuka lokernya, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan keringat di wajah, leher dan rambutnya. Dia duduk di lantai sambil mengusap keringat.
“Tang!” Lintang mendongak, melihat Bobi—teman satu kelas sekaligus satu kamar di asrama—menghampiri sambil membawa dua botol air mineral. Dia duduk di samping Lintang. “Nih.”
“Makasih.” Lintang mengambil botol itu, langsung meneguknya hingga habis setengah botol.
“Tadi aku ke kamar, aku dengar hp kamu bunyi terus. Tadinya aku diemin, wedi nek ana sing penting. Jadi aku bawa ke sini. Nggak apa-apa, toh?” Bobi bertanya ragu dengan logat Jawa yang kental. Dia merogoh saku celananya, dikeluarkan ponsel itu di dalam sana.
Lintang menyungging senyum, mengambil ponselnya. “Nggak apa-apa, makasih, ya.”
“Iya.” Bobi tersenyum, menepuk bahu Lintang.
Lintang mengotak-atik benda tipis itu, alisnya menekuk melihat panggilan tidak terjawab dari Bintang sampai lima kali. Aneh. Tidak seperti biasanya.
Dia menempelkan ponsel itu ke telinga. Mencoba kembali menghubungi Bintang, takut ada apa-apa. Nada sambung terdengar di balik ponsel sana beberapa kali, namun tidak ada jawaban.
Lintang mengernyit, jemarinya kembali menekan tombol panggil lagi. Tetap tidak ada jawaban. Telepon tidak tersambung. Lintang berdecak kesal, dia kembali berusaha menghubungi Bintang.
Panggilan kedua. Tidak ada jawaban.
Panggilan ketiga. Tetap sama.
Cemas, penasaran dan segala pemikiran buruk mulai berdesakan dalam kepalanya. Kedua netra coklat milik Lintang terus menatap layar, berharap nama adiknya tiba-tiba muncul.
Namun nihil.
“Kenapa toh, Tang?” Bobi menatap Lintang penasaran.
Lintang menggeleng. “Nggak apa-apa. Adikku yang telepon tadi.”
“Oh.”
Lintang mendongak, kedua matanya terpejam. Tiba-tiba ponselnya bergetar, refleks pandangannya tertuju ke layar yang menampilkan nama Bintang, Lintang langsung menggulir tombol hijau ke atas dan menempelkan benda tipis itu ke telinga.
“Iya, halo? Sorry tadi hp gua di kamar, gua lagi latihan. Ada apa? Tumben telepon gua?” belum terdengar sahutan Bintang di seberang sana, Lintang sudah klarifikasi duluan.
“Iya nggak apa-apa, Bang.”
“Ada apa, Tang? Gimana kabar di rumah? Baik?”
“Ada yang mau gua bicarain soal Mama sama Ayah.”
“Kenapa?” Lintang meneguk ludah, keningnya berkerut dengan degup jantung yang tiba-tiba berdetak kencang tanpa aba-aba.
“Lo balik kapan?”
“Lusa paling. Soalnya udah mulai libur.”
“Dijemput Ayah?”
“Kemarin Om Deni ke sini, katanya nanti pulang bareng Om Deni. Udah bilang Mama juga.”
“Oh.”
“Kenapa?” Lintang berdiri dari posisi duduknya, berjalan menjauh dari teman-temannya termasuk Bobi. Dia tidak mau ada yang mendengar percakapannya dengan Bintang. “Ada apa sama Mama Ayah?”
“Gu—gua curiga ... kayaknya Ayah selingkuh.”
Kelopak mata Lintang melebar ketika mendengar perkataan Bintang. “Mana ada, orang Ayah cinta banget sama Mama.”
“Gua juga awalnya nggak percaya, tapi lo harus lihat ini.”
Panggilan terputus, tidak ada lagi suara Bintang di balik telepon. Lintang menjauhkan ponselnya, menatap layar itu dengan bertanya-tanya. Satu menit berikutnya, ponselnya bergetar dan pesan masuk dari Bintang muncul, mengirim sebuah foto. Tanpa berlama-lama, jemari Lintang membuka pesan sekaligus foto yang Bintang kirim.
Astaga. Refleks kelopak matanya melebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika melihat foto yang Bintang kirim. Foto Beni sedang bermesraan dengan perempuan lain. Foto yang Teguh perlihatkan tempo lalu pada Bintang.
Tubuh Lintang beku, serasa dirinya berada di gurun Gobi dengan suhu minus nol derajat. Lintang ingin menepis pikiran buruk soal foto itu dan menganggap, mungkin saja itu hanya teman Ayah, tapi nyatanya terlalu dekat untuk sekadar teman.
Lintang menatap wajah ayahnya di foto itu, wajah yang selama ini selalu dia hormati. Wajah yang selalu menjadi panutan yang sangat layak untuk ditiru, tetapi semua luruh seketika oleh sebuah foto yang menjadi mimpi buruk bagi Lintang.
***
Aksen warna kelabu pada langit menandakan sebentar lagi akan turun hujan, gemuruh sudah terdengar. Sudah hampir tiga jam Fuji bersemayam dalam kamar apartemennya yang bernuansa remang dengan kesan hangat yang kuat. Selain suhu AC yang kecil, lampu-lampu kuning dengan aksen oranye yang agak temaram ini mampu mengusir dingin akibat ventilasi kecil di sudut kamar.
Apalagi kalau mau hujan begini, kerjaan tidak ada, aktivitas malas-malasan pun tiba, sedari tadi tubuhnya bergelayut dengan kasur dan enggan berpaling sedikit pun, seolah ada lem perekat yang melekat kuat tubuh mungilnya.
Belum lagi alunan musik dari Chrisye yang berjudul Cintaku mengalun indah, mengisyaratkan isi hati Fuji saat ini. Gadis itu mengangguk-angguk mengikuti irama, bersenandung mengikuti lirik dengan jari-jemari sibuk menari lihai di atas permukaan benda digital yang sekarang dia genggam. Ponsel. Membalas pesan dari seseorang yang diberi nama Mas Ben dengan tanda love berwarna putih dan merah sebagai embel-embel.
Lusa kamu ulang tahun, ya?