“MIRNA!!!”
Suara Beni menggelegar memenuhi seisi rumah. Gemilang dan Bintang yang sedang menonton televisi terlonjak kaget, tidak pernah mendengar suara Beni sekencang itu. Sementara Oma yang masih ada di dalam kamar terpontang-panting keluar dengan seraut wajah panik.
“Ada apa ini?” pandangan Oma menengadah sekitar. Sementara Gemilang berlari menghampiri Oma dan bersembunyi di balik punggungnya. “Beni!”
Bintang meneguk ludah. Dia bingung apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Beni yang penuh emosi berusaha menangkap Mirna yang terus berjalan tunggang-langgang sambil mengacungkan amplop di tangannya. Pemandangan yang tidak pernah Bintang lihat seumur hidupnya.
Sekujur tubuhnya bergetar, wajahnya perlahan pucat. Dia melirik Gemilang yang kentara ketakutan, gadis kecil itu menangis histeris.
“Bintang ... bawa adiknya ke kamar dulu!” perintah Oma yang langsung dituruti Bintang.
Bintang segera menarik paksa Gemilang dengan kasar, membawa ke dalam kamarnya. “Adek diem dulu di sini, ya? Jangan ke mana-mana. Jangan keluar. Abang mau telepon Abang Lintang dulu.”
“Abang ...,” Suara Gemilang bergetar. Bibir mungilnya memucat. Tangannya mencengkeram keras tangan Bintang, terasa dingin dan basah. Seolah sebagai isyarat untuk tetap tinggal. “Gemi ... Gemi takut, Bang.”
Bintang meneguk ludah. Dia menatap sorot mata Adiknya yang berbinar. Air mata itu terus mengalir membasahi pipinya. Bintang menghapus air mata Gemilang, mengelus lembut kepalanya. “Sebentar, ya?”
Sementara di luar masih terdengar suara keributan, teriakan Beni dan Mirna saling beradu. Bintang berlari keluar kamar meninggalkan Gemilang yang menjerit ketakutan. Mata Gemilang dipenuhi ketakutan saat menyaksikan kedua orang tua yang selama ini dia cintai saling berteriak. Gemilang ingin menghentikan semuanya, tetapi tubuh kecilnya membeku oleh rasa takut.
Gadis kecil itu tetap di sana, berdiri di balik daun pintu yang sedikit terbuka, menyaksikan keributan kedua orang tuanya untuk pertama kalinya.
***
Jalanan dipenuhi lautan kendaraan yang padat merayap. Deretan mobil mengular sejauh mata memandang, sementara sepeda motor berusaha mencari celah sempit di antara barisan yang padat.
Lintang baru saja memejamkan matanya, ponselnya yang ada di saku sweater berwarna maroon itu bergetar, dia mengambil ponsel itu, melihat nomor Bintang menelepon. Lintang yang semula berniat memejamkan mata sekejap, mengurungkan niat dan menggulir tombol hijau itu ke atas, menempelkan ponsel itu di telinga.
“Bang!! Bang!!! Lo sama Om Deni di mana, Bang?!”
Suara Bintang yang bergetar dan panik itu membuat jantung Lintang yang biasa-biasa saja, berubah menjadi debaran yang tidak menyenangkan. Dia langsung duduk tegak. “Ada apa? Kenapa?!”
“Ayah sama Mama berantem hebat! Gua mohon lo sama Om Deni cepet ke sini!”
Lintang tercekat, meneguk ludah dan merasakan sesuatu yang menyakitkan seperti menikam tenggorokannya saat mendengar perkataan Bintang. Tidak ada jawaban, sambungan telepon terputus.
“Kenapa, Bang?”
“Om ... cepet! Mama sama Ayah berantem hebat!”
Om Deni terbelalak. Tidak menjawab apa-apa, Om Deni langsung menancap gas, melonggokkan kepalanya keluar jendela, menyalip kendaraan di depan.
Pikiran Lintang hanya satu, segera sampai ke rumah sekarang juga dan menghentikan semuanya.
***
Ketakutan Bintang semakin beralasan ketika untuk pertama kalinya melihat Beni menampar Mirna sampai ibunya itu tersungkur jatuh. Mirna menangis sejadi-jadinya sementara Beni terlihat begitu sangat marah. Wajahnya memerah dengan kedua tangan mengepal dan kedua bola mata memelotot tajam. Terlihat begitu sangat mengerikan seperti monster yang bersiap menikam mangsa.
Sementara Oma berteriak histeris. “BENI! SUDAH GILA YA KAMU! INI ISTRI KAMU!”
“Ibu diam! Ini urusan rumah tangga saya sama Mirna!”
“Bicarakan baik-baik apa pun masalahnya! Ibu sudah peringati beberapa kali sama kamu!”
“Beni selingkuh, Bu! Dia kasih apartemen seharga 750 juta buat perempuan—”
“Diam kamu!” satu tamparan kembali mendarat di pipi Mirna, untuk kali ini lebih keras dari yang pertama sampai merobek ujung bibirnya. Darah segar mulai mengalir.
Refleks Bintang berlari menghampiri, mendorong Beni sekuat tenaga sampai Ayahnya itu melangkah mundur. “Apa yang dibilang Mama itu bener! Ayah emang selingkuh dan aku punya buktinya!”
“Diam kamu!” Beni mendorong Bintang sampai anak laki-laki itu terjerembap jatuh, punggungnya menabrak ujung sofa. “Anak kecil kayak kamu nggak usah ikut campur!”