Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #14

ORANG-ORANG YANG TERLUKA

Fuji berdiri di balkon apartemennya, menatap ke arah jalanan lalu lintas yang lengang, berpaling menatap langit yang dipenuhi awan kelabu. Jam di layar ponselnya terus berganti angka. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan masuk. Sudah berkali-kali Fuji mengirim pesan dan sudah berkali-kali pula melakukan panggilan tetapi nomor Beni masih belum juga aktif.

Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan perasaan yang mulai gelisah.

“Mas Beni ke mana, sih? Kenapa nomornya malah nggak aktif sekarang. Tumben banget dia ingkar janji.”

Fuji memejamkan mata, menarik napas panjang yang terasa berat. Menunggu sebuah kepastian adalah hal yang menyebalkan. Berbagai kemungkinan tak berhenti berputar di kepalanya.

Suara dering ponsel memecahkan keheningan. Buru-buru jemarinya meraih ponsel dan menggulir tombol hijau, tanpa melihat nama sang penelepon.

“Halo, Mas? Di mana, sih? Lama banget! Jamuran nih aku nungguin kamu—”

“Kak ... ini aku.”

Fuji mengernyit heran, menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap sebuah nama di layar ponselnya. Rere. Fuji mendengus sebal, ternyata bukan Beni yang menghubunginya.

“Ada apa?”

“Pulang sekarang, kak. Kita ngelayat.”

“Ngelayat?” kedua alis Fuji menekuk heran. “Ngelayat siapa?”

“Oma Sarni ... Oma Sarni meninggal.”

***

Kaki Bintang melangkah ke teras rumah Oma. Tidak ada lagi sambutan dan pelukan hangat tiap kali Bintang berkunjung ke sana. Lalu Bintang melangkah masuk, memorinya seolah ditarik kembali ke masa di mana Oma memanggil Bintang berkali-kali dengan suaranya yang hampir habis. Saat Oma berkacak pinggang di depan rumah karena menunggu Bintang pulang larut malam dengan pakaian kotor dan membawa katak sampai jeweran di telinga yang sering dilakukan Oma karena Bintang tidak mau mendengar.

Dan yang paling menusuk hati Bintang, bukan hanya kehilangan Oma tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa dia juga kehilangan sosok Mama. Sosok yang sangat penting dalam hidupnya, sosok yang bahkan tidak bisa Bintang gantikan dengan siapa pun.

Bintang tidak keberatan kalau harus dimarahi setiap hari oleh Mama dan Oma. Dia juga tidak masalah kalau harus pulang larut malam, belajar setiap hari hanya demi menuruti keinginan Mama supaya nilai Bintang tidak jauh dari nilai Lintang. Bahkan Bintang rela untuk menukar posisinya sekarang dengan posisi Mama dan Oma.

Pandangan yang pertama Bintang temui adalah dua orang yang terbujur kaku di ruang tengah di selimut kain batik. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Para tetangga, termasuk Gina ada di sana, sanak dan kerabat berdatangan, bendera kuning di pagar, kursi-kursi disusun di halaman, karangan bunga yang tidak hentinya berdatangan adalah penanda bahwa semua ini nyata.

Suara bacaan Yasin mengalun menjadi pengiring suara bersamaan dengan isak tangis sesenggukan.

“Mama ... bangun, Ma! Oma juga bangun!” Gemilang tertidur di samping jenazah Mirna, suaranya parau dan matanya sembab.

“Sayang ... sini, Nak,” Om Deni menarik Gemilang, dipeluknya keponakannya itu dengan erat. “Mama sama Oma udah tenang. Gemilang nggak usah takut. Ada Om Deni, Tante Heni, Abang Angga, Abang Lintang, Abang Bintang. Semua sayang sama Gemilang.”

“Tapi ... tapi ... aku pengen ... pengen sama Mama, Om. Aku ... aku—”

Beberapa Pasang mata saling melirik, Om Deni memeluk erat tubuh Gemilang. Tanpa sadar, air mata Om Deni kembali luruh, terlebih melihat jenazah yang ada di hadapannya. Jenazah Oma Sarni, Ibu yang sangat dia cintai.

“Maaf, jenazahnya mau dimandikan. Semua sudah siap?”

“Disegerakan saja pemakamannya, kasihan kalau terlalu lama ditahan-tahan.” Perkataan salah satu keluarga membuat hati Bintang kian berdenyut perih. Menyadari waktunya bersama Mama dan Oma tinggal sedikit lagi.

“Mama sama Oma, kan, bisa mandi sendiri.” Gemilang berkata sambil menangis.

Bintang langsung mendekat, mengambil alih suasana. Dia mengajak Gemilang keluar rumah.

Lihat selengkapnya