Garis polisi membentang di area pagar dan pekarangan. Di luar pagar, dipenuhi dengan mobil aparat yang terparkir bersama puluhan pasang mata mengawasi dengan suasana riuh bisik-bisik dari kerumunan orang. Ada kamera wartawan yang memenuhi setiap sudut.
Sementara Lintang, Bintang dan Gemilang bersama Om Deni dan Tante Heni berdiri di teras rumah. Sudah satu Minggu setelah kepergian Mirna dan Oma, pihak penyidik melakukan rekonstruksi di tempat kejadian.
Dengan rompi tahanan dan kedua tangan diborgol, Beni turun dari mobil tahanan. Bunyi kamera beberapa wartawan memotret memenuhi indera pendengaran. Suasana begitu sunyi, pekat, tanpa suara, hanya terdengar langkah kaki.
Pintu utama dibuka, seluruh atensi terpusat ke dalam rumah yang sangat berantakan, pemandangan yang terakhir kali ditinggalkan.
Bintang membeku. Jantungnya berdetak kencang tak karuan, melihat keadaan rumah yang menarik ingatannya pada kilas balik di mana tiba-tiba muncul bayangan di depannya, Mirna sedang memasak sambil tertawa karena bercanda-gurau dengan Oma. Oma yang sibuk menata makanan di atas meja dan sesekali berlalu-lalang keluar masuk dapur dan kamar. Gemilang yang bernyanyi riang sambil bergoyang mengikuti irama dangdut yang mengalun dari pengeras suara. Beni yang mondar-mandir sambil menyapu lantai.
Lalu ingatannya kembali ditarik ke adegan di mana suasana yang merenggut paksa kebahagiaannya itu muncul. Kepalanya berdengung ketika tiba-tiba suara teriakan Beni meneriaki Mirna terdengar jelas, pertengkaran dengan umpatan kata kasar, pukulan, suara tangisan dan yang paling mengerikan sekaligus menyakitkan adalah bayangan Beni membabi-buta menghabisi nyawa dua orang yang sangat penting dalam hidup Bintang. Menghabisi nyawa seorang Ibu yang menjadi satu-satunya tempat pulang.
Jantung Bintang seolah ditikam dari dalam. Seolah ada benda tumpul yang menimpa kepalanya. Dia mendadak berlutut. Jatuh. Lunglai. Kenangan itu membanjiri kepalanya tanpa ampun.
Rumah itu bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi ada jutaan kenangan yang dirajut bersama-sama di dalamnya. Ada ribuan canda dan tawa yang pernah dilalui bersama, ada kepingan luka dan ada harapan yang pernah mereka bina.
“Bintang!” Lintang terbelalak, dia terkejut dan ikut berlutut di samping adiknya itu. “Lo kenapa?” lelaki itu bukan hanya terjatuh, tapi juga berdarah. Ada luka yang tidak bisa dilihat oleh mata tapi bisa dirasakan oleh Lintang.
“Hei!” Om Deni ikut berlutut, memegang kedua bahu Bintang. “Kenapa?”
“Mau istirahat dulu?”
Bintang menutup mata, begitu mendengar suara tawa Mama dan Oma menggema di dalam rumah itu. Beberapa detik berikutnya digantikan dengan suara teriakan dan tangis pilu yang tidak kalah menggema. Teriakan itu terasa terngiang—terus terngiang—hingga akhirnya pecah. Pecah sampai klimaks ... hingga perlahan-lahan hilang.
“AAARRGGHHH!” Bintang menjambak rambutnya keras. Beberapa pasang mata tertuju ke arahnya. Hingga akhirnya Bintang bangkit, berlari dan memilih pergi dari tempat itu.
Rekonstruksi hari itu mungkin akan berakhir dalam hitungan jam, tetapi luka yang tersisa di hati ketiga anak itu akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dipulihkan.
***
Bintang berhenti di gang sepi samping rumahnya. Memutar kembali memori yang ada dalam kepalanya.
“Bangsat!” Bintang menggeram marah sambil meninjukan kepalan tangannya ke tembok sampai tulang jarinya berderak keras.
“Bintang ...,” suara lembut seseorang membuat Bintang mengendalikan emosinya dan terkejut ketika melihat Gina berada di sana.
“Ngapain lo di sini?!”
“Gu—gue ke sini bareng nyokap sama Kakak gue. Gue, kan, deket juga sama Oma Sarni. Gue sering temenin Oma Sarni kalau lo lupa. Jadi gue ke sini, sangat berbelasungkawa. Gue bukan penasaran sama apa yang terjadi, tapi gue sangat sakit hati kehilangan Oma Sarni.”
“Gue nggak nyangka aja punya bokap kelakuan kayak iblis. Malah lebih dari iblis.”
Gina terdiam, menatap lekat Bintang dengan sendu.
“Kayak yang bener aja ceramahin gue, ceramahin Abang sama adik gue kalau jangan pernah sakitin makhluk hidup. Harus punya hati nurani dan rasa empati. Tapi nyatanya?” Bintang menggelengkan kepala. “Bullshit! Kelakuannya melebihi iblis!”
“Mungkin bokap lo lagi emosi—”
“Emosi apaan yang begitu? Dia nggak inget kalau yang dia rampas nyawanya itu dua perempuan yang punya peran penting banget. Oma itu yang udah lahirin dia, kalau nggak ada Oma, mana ada dia di dunia. Terus nyokap gue, itu ibu dari anak-anaknya, yang temenin proses dia dari nggak punya apa-apa sampai kaya kayak sekarang. Setelah kaya, malah berlagak selingkuh. Setelah ketahuan bukannya ngaku salah malah ngelakuin hal keji!”
Gina tidak menjawab apa-apa. Dia hanya terdiam dengan air mata yang menggenang di kelopaknya. Baru kali ini Gina melihat seorang Bintang Dwi Santoso berada di titik terendahnya. Bintang yang penuh tawa, canda dan keusilannya, untuk saat ini berubah. Sisi dari Bintang yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun. Sisi paling rapuh, sisi paling gelap dan rasa sakit yang dia pendam.
“Tang ... gue paham nggak ada yang bisa ngerti dan nggak ada yang bakal sadar sama kondisi lo sekarang. Gimana traumanya lo, gimana rasa sakit dan beban yang harus lo pikul.
“Tapi lo harus inget, kita nggak bisa terus terjebak dalam kesedihan apalagi masa lalu. Apa pun yang terjadi kemarin-kemarin dan hari ini, itu bakalan jadi sebuah kenangan. Hidup terus berlanjut, Tang. Apa yang lo tangisi sekarang, nggak bakalan pernah bisa mengubah apa pun.”
Bintang menyandarkan punggungnya di tembok. Melemas dalam dunia yang memendamkan seribu satu rasa. Menyesak dalam sengketa, sakit, pilu, bahagia, air mata, rindu yang mengungkung hebat.
“Lambat Laun, lo pasti mau maafin kejadian yang udah—”
“Sampai mati gua nggak bakalan pernah mau maafin si pembunuh itu!”