Langit gelap sehitam jelaga membentang luas di Cakrawala. Sang rembulan mengintip di sela awan hitam yang nyaris menutupi semua bagian. Sudah hampir seharian Bintang mengelilingi kota Jakarta tanpa tujuan. Memandangi pejalan kaki di pinggir jalan, menatap keagungan Monas. Menikmati dari definisi keheningan di tengah keramaian.
Jalanan yang semula padat kini menyepi, hanya menyisakan beberapa kendaraan berlalu-lalang tepat di pukul dua belas malam. Motor Bintang tanpa sadar berhenti tepat di jembatan Kali Ciliwung. Mendadak rintik hujan mulai turun, melebur dengan air mata di pipi Bintang yang sedari tadi bergulir. Jalanan semakin sepi, orang-orang memilih berlindung karena rintik semakin deras.
Bintang mendongak, air matanya kini tersamar, membiarkan dirinya diguyur hujan yang perlahan membasahi sekujur tubuhnya. Dia berpaling menatap lurus ke depan. Gelap gulita. Pekat. Tanpa cahaya. Tangannya meremas keras besi pembatas, bibirnya mengerucut kesal. Dia memekik keras, sampai urat di leher dan pelipisnya menonjol jelas. Suara teriakannya terdengar sayup-sayup, tersamar oleh kendaraan yang berlalu-lalang dan derasnya hujan turun menabrak permukaan jalan.
“BANGSAT!!!” pekiknya—kepalan tangan kanannya meninju besi pembatas jembatan. “INI SEMUA NGGAK ADIL!! KENAPA TUHAN AMBIL MAMA SAMA OMA!!”
Sedari pulang dari pengadilan sidang putusan Beni, Bintang tidak langsung pulang, dia berusaha mencari ketenangan di balik hiruk-pikuk dunia yang tiada habisnya. Mencari kesibukan meski hanya berkendara tanpa arah. Dia tidak terima dengan vonis yang Hakim jatuhkan pada Beni.
“Kenapa, Tuhan?! Kenapa cobaanmu sangat berat! Kenapa, Tuhan?! Gua nggak sanggup jalani hidup tanpa Mama! Tanpa Oma! Dan gua nggak ikhlas bayaran dua nyawa hanya seharga dua belas tahun penjara!!!”
Cowok itu kembali memekik. Kepalan tangannya berkali-kali memukul keras pembatas jembatan, rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, luka itu terlalu sangat basah dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya.
Bintang melonggokkan kepalanya ke bawah, memandang aliran sungai yang sangat deras. Dia meneguk ludah, kedua tangannya mengepal kuat, ada desiran aneh yang memburu dalam dadanya.
***
“Bang, Abang! Bangun!” Lintang terkesiap, matanya spontan terbuka ketika mendengar suara seseorang mengetuk pintunya dengan keras. Dia mengerang, duduk di ranjang sembari mengucek kelopak mata. Matanya melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit tengah malam. Kedua alis Lintang menekuk, bergegas membuka pintu. “Abang!”
Itu suara Om Deni dan ada Tante Heni juga di sana.
“Kenapa Om, Tan?”
“Adik kamu—Bintang—belum pulang, udah tengah malam. Ditambah lagi hujan deras. Om udah coba hubungin nomornya dari tadi nggak aktif. Barangkali Abang punya nomor temennya yang bisa dihubungi, nggak? Om sama Tante Heni khawatir.”
Lintang terenyak, kedua bola matanya melebar. “Lintang nggak punya nomor temen Bintang, Om.”
“Aduh, gimana, ya?” Om Deni berdecak, menyugar rambutnya. Seraut wajahnya terlihat cemas sekaligus kebingungan. “ Ya udah, Om cari aja. Kali aja ketemu daerah deket-deket sini.”
“Eh ... Om—” Lintang menahan, tangannya memegang tangan Om Deni. “—biar Lintang aja yang cari.”
“Ya udah ayo sama Om.”
Lintang menggeleng. “Nggak usah, Om. Biar Lintang aja sendiri. Lintang tahu beberapa tempat yang biasa Bintang nongkrong.”
“Bang ... di luar lagi hujan. Udah, kita pakai mobil aja.”
“Nggak apa-apa, Om. Lintang sendiri aja, biar cepet juga pakai motor. Soalnya jalannya masuk-masuk gang. Ribet kalau pakai mobil.”
Om Deni terdiam, memandang Tante Heni yang terlihat kebingungan juga.
“Tapi Abang pakai jas hujan, ya?” timpal Tante Heni. “Bawa dua buat Bintang juga.”
“Iya.”
Lintang kembali masuk ke dalam kamar, menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu. Memakai jaket itu. Tante Heni memberi jas hujan pada Lintang dan langsung dipakai. Lintang mengambil satu jas hujan lagi untuk Bintang.
“Ya udah, aku berangkat dulu.”
Lintang berjalan menuju pintu utama, diikuti Om Deni dan Tante Heni mengekor di belakang.
“Hati-hati, Bang, jangan ngebut!”
“Iya.”
“Kabarin Om kalau ada apa-apa, ya?”
“Iya, Om.”
Lintang mengeluarkan motor di garasi, menyalakan mesin dan melaju pergi.