Sudah empat bulan lebih Lintang menyibukkan diri untuk mengikuti kompetisi domestik Timnas U-15, berusaha keluar dari zona menyakitkan yang selalu saja menghantui kepalanya. Itu artinya, waktunya semakin padat, yang biasanya hanya seminggu tiga kali latihan kini menjadi setiap hari tanpa henti. Belum lagi setiap harinya ada tugas-tugas dari sekolah yang menuntut untuk dikerjakan.
Karena waktu semakin padat, Lintang jarang memberi kabar ke Bintang mau pun Om Deni.
Hari ini adalah hari di mana Lintang mengikut turnamen piala Gubernur. Lintang berdiri di lapangan, melihat ke tribune para orang tua datang untuk memberi semangat kepada putera-putera mereka. Lintang menundukkan kepala, ada rasa sesak dalam dadanya yang tiba-tiba muncul. Di mana memori bersama Mama dan Ayah kembali menjadi visualisasi menyakitkan dalam kepala.
Kedua tangan Lintang mengepal kuat, kelopak matanya terpejam sampai menimbulkan garis-garis di sekitarnya. Tiba-tiba ingatan itu kembali menguasai ruang ingatannya, ingatan di mana saat-saat dia dan Beni begadang sampai pagi demi menonton pertandingan sepak bola bersama. Teringat jelas dalam ingatannya perkataan Beni yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ayah minta sama Lintang, jadilah pribadi yang punya ambisi, yang punya tekad kuat untuk mencapai apa yang Lintang inginkan. Orang lain nggak perlu tahu perjuangan yang Lintang lalui, cukup Lintang buktiin kalau Lintang bisa.
Perkataan itu terus terngiang-ngiang bersama ingatan yang memperlihatkan sebuah tayangan masa lalu dari gerakan lambat dan tiba-tiba menjadi sangat cepat berputar seperti tayangan time-lapse. Lintang refleks membuka mata, dadanya naik turun dengan irama jantung berdebar kencang. Matanya mengitari sekitar, dia berusaha mengatur napasnya perlahan, menyugar rambutnya.
“Lintang!” Refleks Lintang menoleh dan melihat Bobi melambaikan tangan di tepi lapang. “Pemanasan dulu sebentar!”
Lintang bergegas lari menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul untuk melakukan pemanasan.
***
Lintang turun dari angkutan umum dan duduk di halte bus yang sepi dan jauh dari keramaian. Dia duduk di halte sambil menatap lurus ke depan. Cowok itu menelan ludahnya yang terasa memahit, lalu mendongak, melihat langit yang tampak gelap tanpa bintang.
Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket, melihat galeri. Ada foto dia di sana, bersama keluarganya yang masih lengkap dan utuh. Terlihat penuh tawa, bahagia, tanpa masalah. Sebuah keluarga harmonis yang menikmati momen hangat yang diciptakan di setiap detiknya.
Lintang tanpa sadar menarik ujung bibirnya, tersenyum. Hingga senyum itu perlahan hilang dan digantikan dengan isak tangis bersamaan tetesan air mata yang tiba-tiba bergulir jatuh ke atas layar ponselnya. Dipaksa menyadari kenyataan kalau situasinya sekarang jauh sangat berbeda.
Dia membuka resleting jaketnya, ada sebuah medali yang menggantung di lehernya. Dia menatap medali itu dengan saksama, air matanya semakin deras bergulir membasahi pipi.
“Ayah ... Mama ... Oma ... Lintang berhasil.”
Dia menundukkan kepala dalam-dalam, hanyut dalam isak tangis yang semakin pilu. Rasa sesak mengungkung kuat dadanya. Bahkan, dia menuruti perkataan Beni kalau orang lain tidak perlu tahu perjuangan Lintang, cukup Lintang buktiin kalau Lintang bisa.
Alhasil, tidak ada yang tahu kalau hari ini dia mengikuti turnamen dan berhasil juara.
***
Sebelum waktu menunjukkan pukul delapan pagi, Bintang sudah terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik dari balik pintu kamarnya. Dia menggeliat seperti ulat, dengan mata setengah terbuka, dia bangkit dan duduk di ranjang. Mengucek matanya dan menguap.
Kakinya turun menjejak lantai yang dingin, dia beranjak dan berjalan menuju keluar kamar. Dilihatnya Angga sedang menonton televisi, sementara Om Deni sedang memanaskan mobil di halaman rumah. Aroma harum masakan menguar di udara.
“Eh, Tang,” sapa Angga ketika menyadari Bintang berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. “Udah bangun?”
“Menurut lo aja,” Bintang menguap. “Gemilang mana?”
“Noh, di dapur bantuin nyokap masak.”
“Oh.”
“Bang Lintang tadi telepon, katanya Minggu lalu dia habis ikut turnamen piala Gubernur dan juara. Jadi, bokap sama nyokap masakin—hitung-hitung perayaan kecil-kecilan aja.”
Mendengar itu, Bintang mengernyit heran. “Turnamen? Kok nggak bilang gua?”
Angga mengedikkan bahu, tidak tahu. “I don’t know. Nggak ada yang Bang Lintang kasih tahu katanya. Terus pagi tadi ada paket.”
“Dari?”
“Bang Lintang, isinya makanan. Terus Bang Lintang minta sebagian kirim ke Om Beni.”
Kedua alis Bintang menekuk. “Ngapain?”
“Kok malah tanya ngapain?”
“Ya ngapain ngasih makan buat pembunuh kayak dia—”
“Tang—”
“Apa?” suara Bintang naik seoktaf. Jantungnya tiba-tiba berderu kencang, amarahnya kembali meluap. Dia beranjak dengan tergesa berjalan menuju halaman depan untuk menemui Om Deni.
“Om.” Terlihat Om Deni sedang mengelap kap mobil dan langsung mendongak ketika mendengar suara Bintang.
“Eh ... kenapa, Bintang?” Om Deni mengernyit, menyadari ada yang aneh dari ekspresi keponakannya itu. “Kenapa?”
“Abang ada telepon?”
Om Deni mengangguk. Melangkah menghampiri Bintang. “Iya, ada tadi. Sini duduk dulu.” Om Deni duduk di kursi teras, samping pintu masuk, diikuti Bintang duduk di sampingnya. “Abang bilang katanya juara turnamen piala Gubernur. Om kaget sekaligus bangga. Terus Om tanya, kan, kenapa nggak bilang? Terus katanya sengaja, biar suprise aja.”
Bintang terdiam namun seraut wajahnya masih kentara jelas, ada amarah yang sedang dia pendam.
“Bintang marah gara-gara Abang nggak kasih tahu Bintang?”
Bintang menatap Om Deni, dia menggeleng. “Ngga. Tapi kata Angga, Abang ada kirim paket makanan?”
Om Deni mengangguk. “Ada.”
“Buat Ayah?”
Om Deni terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Iya, tadi ada makanan yang dipisah sama Abang. Katanya titip buat Ayah dan tolong sampaikan kalau Abang berhasil juara turnamen. Makanya Tante Heni, kan, masak tuh, jadi nanti sekalian besuk kirim ke Ayah. Katanya Gemilang pengen ketemu sama Ayah juga.”