Katanya orang yang tidak menangis di pemakaman adalah orang yang merasa sangat kehilangan. Masih merasa denial dengan apa yang baru saja terjadi. Sama seperti Bintang yang hanya tertegun dengan tatapan kosong, menatap tubuh Beni yang terbujur kaku perlahan dicurahi tanah. Hingga sepenuhnya tidak terlihat. Tidak ada air mata, tidak ada tangisan. Hanya seraut wajah datar yang dia perlihatkan pada orang-orang.
Berbeda dengan Gemilang yang menjerit memanggil Ayahnya berkali-kali sampai harus diamankan oleh Om Deni.
Banyak yang melayat, dari sanak saudara, kerabat, teman-teman Beni dan juga sebagian guru Bintang.
“Belum juga satu tahun Mirna pergi, sekarang Beni nyusul.” Rendi berdiri di sana bersama Hendra, memandang liang Lahat Beni.
“Iya, kasihan anak-anaknya. Masih pada kecil pula. Apalagi Gemilang. Jadi inget anak gue di rumah.”
“Kalau kata gua nih, ya, coba kalau Beni sama Fuji akhiri hubungannya pas Mirna tahu. Pasti nggak bakalan kejadian begini.”
“Namanya takdir nggak ada yang tahu.”
“Tapi kita bisa ubah takdir. Ini biang keladinya Fuji kalau kata gua,” Rendi berpaling menatap Hendra, nada suaranya terdengar menggebu emosi. “Gua dengar-dengar katanya Mirna sempet samperin Fuji ke apartemennya, pasti udah dilabrak tuh. Bukannya tahu diri itu si Fuji, malah lanjut aja. Agak kurang tuh cewek.”
“Hush! Ngegosip di kuburan, nggak baik!” Hendra dan Rendi berpaling ketika menyadari Muslih menghampiri. “Tapi ngomong-ngomong, gue nggak lihat Fuji. Masa sih nggak datang?”
“Yeu ... sama aja lo ngegosip!” Rendi menoyor kepala Muslih.
Muslih cekikikan.
“Noh, ada di barisan belakang deket pohon Kepuh,” Hendra berpaling ke arah kiri, menggerakkan dagunya sebagai isyarat menunjuk.
Pandangan Muslih dan Rendi mengikuti arah pandang Hendra dan mendapati seorang perempuan memakai pakaian serba hitam dengan kacamata hitam dan masker menutupi seluruh wajahnya. Dia terlihat menyendiri, jauh dari kerumunan.
“Lama-lama jadi penghuni pohon itu tuh dia. Udah cocok, sih.”
“Lo ngapa sih bawaannya emosi begitu tiap lihat Fuji?” Muslih menarik senyum jahil. “Ah—atau jangan-jangan, lo kesel sama Pak Beni, ya, perkara keduluan embat Fuji? Ngaku lo!”
“Dih, ogah! Mending gua jomblo dari pada harus sama cewek begitu. Cantik doang, tapi kalau otak kagak dipake, ya, percuma.”
“Congor lo ngelebihin cewek!” Hendra mencomot bibir Rendi gemas. “Pantes cewek di kantor banyak ngegosip bareng lo.”
Rendi mengusap bibirnya. “Sialan! Gua cuma bicara fakta.”
Pemakaman berlangsung khidmat dan penuh air mata sampai acara penutupan. Para pelayat bergegas berbalik dan meninggalkan area pemakaman hanya menyisakan Bintang, Gemilang, Om Deni, Tante Heni dan keluarga lainnya sedang menabur bunga. Tidak lama, mereka meninggalkan pemakaman.
“Yok ah, balik!” Hendra mengajak Muslih dan Rendi untuk pergi. Namun, Rendi menahan.
“Bentar!” Rendi melihat Fuji mendekat ke pusara Beni, menaburkan bunga dan mengusap papan nisan. “Tuh lihat.”
“Ya udahlah biarin. Maklum juga dia ngerasa kehilangan, toh, pernah menjalin asmara. Udah ayo buruan balik sebelum bos sadar kita kagak ada. Jangan jadi lambe turah lo, Ren!”
“Yeu sialan!” Rendi menoyor kepala Hendra.
Akhirnya, mereka berbalik meninggalkan Fuji yang bahkan masih setia duduk di depan pusara Beni. Tanpa menyadari kehadiran mereka sedikit pun.
***
Gina berlari tunggang langgang, sesekali kakinya menjejak beberapa makam dan hampir saja tersandung. Pandangannya menengadah sekitar mencari pusara yang dipenuhi para pelayat, berharap dia bisa bertemu Bintang di sana dan memberi suplemen kekuatan untuk tidak bersedih.
Bukannya menemukan sekumpulan orang, justru matanya tertuju pada satu orang yang masih setia terduduk di salah satu makam yang masih terlihat sangat baru dengan gundukan tanah yang masih basah dan taburan bunga. Gina mengernyit heran, dia kenal dengan orang itu.
“Kak Fuji?” kakinya bergegas menghampiri Fuji. Berdiri tepat di belakangnya. “Kak ... ngapain di sini?”