Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #19

KECAMUK DALAM DIAM

Memulai semuanya dari awal memang terasa berat, seperti Lintang kali pertama kembali menginjakkan kakinya di rumah ini. Rumah di mana kehangatan serta canda tawa selalu menyelimuti setiap relung perasaan. Rumah di mana satu-satunya tempat pulang untuk beristirahat dari kerasnya dunia yang menikam kuat kehidupan.

Namun, sekarang keadaannya justru sangat berbeda. Bukan suka cita yang menyelimuti atmosfer tiap sudut rumah, tetapi duka lara yang sekarang justru hinggap sepenuhnya. Kenangan manis justru berubah menjadi kenangan kelam. Rasanya seperti mimpi buruk.

Lintang berdiri di depan pagar, menatap lekat rumah itu. Dia menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk melangkah jauh lebih dalam. Tangannya perlahan membuka pagar, langkah kakinya perlahan menjejak tanah seolah kenangan setiap kenangan kembali merasuki kepalanya berseliweran seperti embusan angin yang menerjang, sampai kakinya tepat berhenti di depan pintu utama.

Tangannya bergerak membuka knop pintu, aroma apak menguar menerobos masuk indera penciuman Lintang. Dia melangkah masuk ke dalam dan seperti berjalan menuju lorong waktu yang mengingatkannya ke detik-detik masa dulu.

Di tembok ruang tamu, masih banyak figura foto yang tertempel di sana. Posisinya masih sama, tidak berpindah sedikit pun. Foto sekeluarga dan yang paling banyak foto Lintang dan Bintang.

Kakinya kembali melangkah ke ruang tengah, di mana banyak sekali kenangan yang terukir di sana. Dia ingat sering kali begadang sampai subuh dengan Ayah untuk menonton sepak bola. Ruangan itu sekarang sangat berantakan, kotor dan sangat lembap. Mata Lintang tertuju pada tembok dekat dapur—tembok yang sengaja Ayah berikan untuk anak-anaknya berkreasi di sana—dari mulai menggambar imajinasi sampai menulis isi hati.

Lintang berdiri, menatap tembok itu dan membaca tulisan ceker ayam di tulis dengan spidol permanen;

Lintang tertawa geli. Tulisannya dengan Bintang. Lintang ingat betul ketika Ayah merajuk karena yang Bintang tulis hanya cinta Mama tanpa ada nama Ayah di sana, namun dengan polosnya Bintang menjawab; “Ayah kan cowok, masa Bintang cinta cowok. Bintang cinta cewek dan Mama cewek.” Pecah gelak tawa Ayah dan Mama mendengar celetukan Bintang.

Tanpa sadar, air mata yang sedari tadi Lintang tahan mati-matian hingga tenggorokannya tercekat akhirnya luruh juga bersama kenangan yang kembali menghantam keras ingatannya. Mungkin tidak ada yang menyadari bagaimana dahsyatnya efek rumah itu untuk Lintang.

Kakinya kembali melangkah menuju dapur. Lintang ditikam rasa bersalah saat melihat kondisi dapur yang berhasil membuat hatinya patah, ketika beberapa piring tersaji di atas meja makan lengkap dengan makanan yang sudah basi dan berjamur di sana. Aromanya sangat menyengat. Lintang terduduk lemas di kursi meja makan, tangisnya semakin pecah dan perasaannya semakin ditikam kuat dalam belenggu yang mengikat dadanya hingga terasa sesak.

Lintang memekik, tangannya yang terkepal memukul keras meja makan, meluapkan segala amarahnya yang tertahan semenjak kepergian Mirna dan Oma.

Lintang beranjak, bergegas pergi dari dapur namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Perlahan dia melangkah ke sana, dibukanya pintu kamar itu. Kamar Beni dan Mirna. Masih sama. Kamar bercat putih dengan bingkai foto yang tertempel di tembok, foto Mirna dan Beni, Bintang, Lintang dan Gemilang.

Kamar itu masih bersih, hanya ada debu di lantai dan meja rias Mirna.

Lintang duduk di tepi ranjang, tangisnya kembali pecah memenuhi sudut ruangan dengan wajah yang ditutup telapak tangan hingga kedua bahunya berguncang.

“Mama ... Ayah ... maafin Lintang.”

***

Aroma rokok menguar di udara, asap tipis membumbung bergabung dengan udara dingin dan embusan angin yang perlahan menyapu rambut. Bintang duduk di tepi kolam renang bersama Aris dan Teguh, menikmati secangkir kopi dan lintingan rokok—perpaduan yang serasi.

Malam itu Bintang memilih untuk bersenang-senang di rumah Aris, melupakan segala masalah yang seperti benang kusut di kepala, rumit, hingga sulit untuk di uraikan.

“Eh, Tang, jadi sekarang lo sama Gemilang tinggal sama Om Deni?”

Bintang menjawab pertanyaan Teguh dengan menggerakkan kedua alis, bibirnya menyesap lintingannya dan mengembuskan asapnya ke udara perlahan.

Btw, Lintang pulang, nggak?”

Bintang mengangguk. “Pulang,” dia menyesap cangkir kopinya perlahan. “Tapi udah sekitar dua—mau tiga hari—dia tidurnya di rumah.”

“Rumah bokap nyokap?”

Bintang mengangguk.

“Gila, berani banget tuh anak,” Teguh geleng-geleng kepala sambil berdecak. “Kalau gua sih ogah.”

“Eh, Tang, sorry nih sebelumnya ... tapi semenjak rekontruksi, lo ada ke sana lagi, nggak? Ya ... ambil barang atau baju gitu.”

Bintang menggeleng. “Nggak. Sampai kapan pun gua nggak bakalan pernah mau nginjek tuh rumah lagi. Ngeri. Bisa gila gua.”

Aris dan Teguh saling melirik, menyadari situasi terasa mulai canggung. Aris berdeham, mematikan puntung rokoknya. Aris berdiri, berjalan menuju tepi kolam renang dengan kedua tangannya dilipat di depan dada. “Lo pada gabut banget nggak, sih?” Aris berusaha mengalihkan.

Teguh meregangkan tubuhnya. “Banget.”

“Gua pengen lakuin sesuatu yang menantang, gitu.”

Teguh mengernyit heran, menatap punggung Aris. “Contohnya?”

“Maling? Begal?” tanya Bintang asal dan langsung mendapat toyoran dari Teguh.

Yeu si kocak! Kriminal aje tuh otak!”

“Kan, itu menantang? Salahnya di mana?”

Aris menjentikkan jarinya, berbalik menatap Bintang dan Teguh yang sedang duduk di belakangnya. “Gua ada ide.”

“Apa?” tanya Teguh dan Bintang serentak.

“Semacam uji nyali atau balap liar?”

Teguh dan Bintang terdiam, saling memandang satu sama lain dan kembali berpaling. Seolah berpikir karena kedua bola mata mereka menengadah sekitar.

“Ah!” Bintang menjentikkan jarinya. “Gua tahu tempatnya.”

“Apa?”

***

Mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat di bawah rindangnya pohon Cemara dengan jalanan sepi dan gelap, hanya pancaran lampu mobil yang semakin memperjelas bahwa mereka berhenti di sebuah pemakaman umum.

Tiga laki-laki itu turun. Pandangan mereka menyapu sekitar, dengan penuh rasa penasaran dan saling bertatapan, seolah bertanya dalam diam dan kedua bola mata sebagai opsi isyarat sebuah pertanyaan besar.

Lihat selengkapnya