Fuji duduk di kursi dengan meja panjang di sebuah ruangan yang terkesan sangat mengintimidasi. Dia terlihat gugup, meski ini bukan kali pertama dia berkunjung ke tempat itu. Fuji selalu takut sekaligus sedih tiap kali mengunjungi tempat ini. Ada kenangan pahit di dalamnya yang terus mengejar Fuji ke mana pun dia pergi.
Seorang laki-laki paruh baya muncul. Fuji menengadah dan sorot matanya bertatapan dengan laki-laki itu. Hingga lelaki itu duduk di seberang Fuji.
“Hai ... ada apa kamu menemui saya?” laki-laki itu menatap Fuji penuh tanda tanya.
Fuji menghela napas panjang, sorot matanya tertuju dalam satu orbit lurus menatap bola mata laki-laki itu. “Ada beberapa pertanyaan yang mau saya tanyakan.”
“Soal apa?”
“Soal ... soal Mas Beni.”
Laki-laki itu mengernyitkan dahi, mengempas punggungnya ke sandaran kursi besi yang sedang dia duduki. Tangannya mengelus dagu, menatap lekat Fuji. “Apa yang mau kamu tanyakan?”
Sosok laki-laki itu adalah Rudi—salah satu tahanan yang dekat sekali dengan Beni—Fuji mengenalinya, karena tiap kali Fuji membesuk Beni, selalu bersamaan dengan Rudi dibesuk oleh keluarganya. Jadi, sedikit banyaknya mereka lumayan saling kenal.
“Begini, Pak, saya mau tanya sebelum Mas Beni meninggal, apa ada hal janggal yang Mas Beni alami?” Fuji bertanya dengan ragu, kedua tangannya di atas meja dengan jari-jarinya saling bertautan, menandakan perasaan gugup mendominasi.
“Hm ... seingat saya, sebelum Beni meninggal, dia sakit kurang lebih dua Minggu atau lebih.”
“Iya, tapi apa bapak tahu, kalau ternyata dari hasil autopsi kemarin, Mas Beni dinyatakan tidak teridentifikasi penyakit apa pun. Saya merasa ada yang janggal dengan kasus kematian Mas Beni.”
Rudi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Dia memajukan tubuhnya, kedua tangannya di atas meja. “Saya tahu, saya dapat bocoran dari salah satu sipir di sini. Memang nggak masuk akal logika kalau dilihat dari kondisi Beni dan hasil autopsi.”
“Justru itu, Pak, tujuan saya ke sini untuk bertanya sama bapak. Apakah Mas Beni sebelum meninggal terlihat aneh atau semacamnya? Maksud saya ... seperti orang ketakutan atau kesakitan?”
Rudi mengangguk. “Betul ...,” Rudi menghela napas panjang, dia menatap lekat Fuji sebelum akhirnya bercerita di mana tiga hari sebelum Beni meninggal dunia, ada sesuatu yang aneh terjadi pada Beni. Bahkan bukan hanya Beni, tetapi para napi yang satu sel dengan Beni ikut merasakan kejanggalan demi kejanggalan.
Suatu malam di malam Jumat, satu sel Beni mendadak dikejutkan dengan suara dentuman keras hingga membangunkan seluruh napi di sel itu.
“Apa itu?” salah satu napi bertanya.
“Nggak tahu.”
“Coba intip keluar.”
Salah satu napi mengintip ke arah luar namun tidak ada apa-apa di sana, hanya kesunyian tanpa adanya aktivitas orang-orang. “Nggak ada apa-apa.”
“Terus tadi suara apa? Ada sipir yang jaga, nggak?”
“Nggak ada.”
“Udah tidur. Mungkin itu suara kucing mau kawin,” Rudi berusaha mencairkan suasana yang sudah mulai menegang.
Di tengah keributan, justru Beni hanya terduduk dipojok ruangan, memeluk lututnya dengan tubuh bergetar, wajahnya tenggelam di sela-sela lututnya. Rudi yang menyadari perilaku aneh Beni, mendekatinya, mengusap bahu Beni, berharap itu berhasil menenangkannya.
Keanehan tidak sampai di situ, kondisi Beni persis seperti zombie. Sesekali dia berteriak histeris dan berlari tunggang-langgang sampai membuat para napi geram. Beni sempat mau dipukuli, tetapi Rudi dengan sigap melerai perkelahian. Kondisi Beni semakin hari jauh dari kata sehat. Hingga sipir membawa Beni ke klinik lapas untuk diperiksa kondisinya, namun dokter mengatakan tidak ada penyakit apa pun. Beni hanya mengalami panik akut, yang membuatnya merasa ketakutan.
Hingga hari itu tiba, hari di mana sebelum Beni meninggal dunia, Beni izin ke toilet di temani sipir. Sudah dua puluh menit Beni tidak keluar. Sipir menggedor bilik toilet itu, namun tidak ada jawaban. Hingga sudah lebih dari tiga puluh menit Beni masih tetap tidak bersuara. Sipir itu kesal dan akhirnya mendobrak pintu toilet itu. Dilihatnya Beni sedang terkapar di lantai dengan mulut dan telinga mengeluarkan banyak sekali darah. Sipir langsung membawa Beni ke klinik untuk segera mendapat pertolongan dan memberi kabar kepada keluarga Beni kalau Beni sedang kritis.
Fuji terbelalak mendengar cerita dari Rudi. Dia menutup bibirnya dengan telapak tangan, air matanya sudah menggumpal di kelopak mata dan siap untuk keluar.
“Nggak ada yang tahu Mas Beni kenapa, Pak?”
Rudi menggeleng. “Nggak ada. Tapi kata dokter, bisa saja Beni mengalami skizofrenia atau paranoid akut. Jadi segala bayangan yang nggak nyata justru menghantui pikirannya. Bahkan Beni pernah disangka gila ketika Beni ketakutan melihat baju yang dijemur, Beni bilang itu hantu. Makanya seluruh napi di sel menganggap Beni ada gangguan jiwa.”
Fuji menelan ludah, dia terdiam.
Tidak lama, seorang petugas datang dan memberi informasi bahwa waktu kunjungan telah habis. Rudi dan Fuji berdiri. “Saya tahu dan yakin kalau Beni sama sekali nggak ada gangguan kejiwaan. Justru yang saya takutkan, ada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.”
Setelah mengatakan itu, Rudi berlalu pergi, membuat Fuji tersadar apa yang dikatakan Rudi sesuai dengan apa dugaan yang mengganjal di hatinya.
***
Sang raja langit sudah tenggelam ke peraduan, meninggalkan cakrawala yang gelap gulita. Kendaraan mulai memadati setiap sisi jalan, dengan suara dering klakson dan macet mulai merajalela. Entah sudah berapa lama Bintang berada di atas kendaraan roda dua miliknya itu. Hingga motor memasuki jalanan sepi dengan pencahayaan minim dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Dari kejauhan, Bintang melihat seorang perempuan seperti sedang berusaha mengambil sesuatu dari tangan laki-laki berjaket jeans yang terus mengangkat tangannya diikuti tawa seperti meledek tersirat dari seraut wajahnya, sementara perempuan itu melompat-lompat. Semakin dekat motor Bintang, semakin terdengar suara teriakan perempuan itu.
“TOLOOONGG!! MALIINGG!! Balikin nggak, dompet gue!!!”
Laki-laki itu hanya tertawa geli. “Nih! Gua balikin.” Laki-laki itu melempar dompet perempuan itu dan terjatuh tepat di bawah kursi halte. Perempuan itu membungkuk, mengambil dompetnya. Namun, justru laki-laki itu berdiri di belakangnya sambil tangannya sibuk membuka kancing celana jeans-nya.
Bintang segera mendekat, dia menjatuhkan motornya sia-sia hingga terjungkal di bahu jalan. Perempuan itu menoleh ketika mendengar suara motor Bintang yang dibanting dan terbelalak ketika melihat Bintang tiba-tiba menumpas rahang laki-laki itu dengan bogeman keras, lutut kanannya menendang alat vital laki-laki itu sampai terjerembap jatuh.