Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #21

MENGIKIS RAHASIA

Sudah satu jam Lintang bergelut di ruang tengah dengan radio yang dia temukan di kamar Mama. Radio kesayangan Ayah yang dulu sering kali Ayah nyalakan memutar lagu lawas untuk menemani Ayah ketika memerlukan waktu sendirian, hanya untuk beristirahat dari hiruk-pikuk dunia. Tanpa gangguan dan tanpa diganggu.

Radio tua itu sudah mati total, tidak lagi bisa dinyalakan sejak Lintang duduk di bangku kelas empat. Sudah bertahun-tahun menjadi barang antik yang terbengkalai dan sekarang Lintang berusaha untuk memperbaikinya. Sedikit banyaknya dia mengerti memperbaiki barang elektronik karena hampir setiap hari di asrama sering kali melihat Bobi memperbaiki alat elektronik seperti ponsel, radio bahkan laptop. Kata Bobi, dia belajar dari Bapaknya yang mempunyai toko servis elektronik terbesar di Malang.

Lintang terlihat sibuk mengutak-atik radio di ruang tengah, keringat terlihat berjatuhan dari pelipis dan alisnya yang tebal. Tatapannya sangat fokus meneliti kerusakan setiap kerusakan. Dia menyatukan kabel setiap kabel di dalamnya dan kembali memasang komponen yang terlepas. Dia berjalan menuju lemari samping televisi, tempat Beni menyimpan barang-barang antiknya, membuka pintunya dan mengambil pita kaset. Memasukkan kaset itu ke dalam radio, menekan tombol ON dan terdengar suara lagu lawas dari balik radio itu.

Lintang menyeringai puas, akhirnya eksperimen selama satu jam memperbaiki radio itu tidak sia-sia. Radionya kembali menyala lagi. Lintang bersenandung mengikuti lantunan lagu yang dinyanyikan Nike Ardila di balik radio itu, sembari mengangguk-anggukan kepala. Kalau soal selera musik, Lintang sama persis seperti Beni yang menyukai lagu-lagu lawas. Berbeda dengan Bintang yang menyukai lagu dangdut sama seperti Mirna.

Lintang merapikan barang-barang dan perkakas yang berserakan, sambil bibirnya bersenandung samar. Namun, dia berhenti dari aktivitasnya ketika mendengar sayup-sayup suara yang memanggilnya. Suara Mirna.

Lintang mematikan radionya.

Lintang...

Lintang...

“Mama?” Refleks Lintang melempar kembali barang yang sudah dia genggam ke lantai. Lelaki itu bergegas lari mencari sumber suara. Masih terdengar sayup-sayup. Lintang terdiam, mengedarkan pandangannya dengan tubuh berputar.

Dia meneguk ludahnya berkali-kali dan kakinya kembali melangkah lari ke kamar Mirna. Bersamaan dengan pintu dibuka dan suara itu pun lenyap seketika.

Seraut wajah Lintang pucat pasi, tubuhnya bergetar. Tanpa sadar, air matanya menetes membasahi pipinya bercampur dengan keringat yang masih mengucur di pelipisnya. Lintang berjalan perlahan, duduk lemas di tepi kasur Mirna. Tangisnya kini pecah terdengar pilu.

“Ma ... Mama ada di sini? Mama temenin Lintang? Mama ... Mama ... Lintang minta maaf, Mama, Oma ...,” Kedua tangannya bertumpu di atas paha, berusaha menyangga tubuh yang terasa kehilangan tenaga. Namun, tangan kanannya perlahan mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan napas yang tersengal dan dada yang naik turun menahan sesak, kepalan itu berulang kali menghantam dahinya sendiri, seakan menyalahkan diri atas segala sesuatu yang telah terjadi. “A ... Ayah, Lintang minta maaf.”

***

Sorot lampu temaram mengisi setiap sudut ruangan, dengan suara kicau burung dan binatang malam silih bersahutan dari arah luar rumah panggung yang jauh dari pemukiman sekitar. Rumah itu terlihat sederhana, di dalamnya terdapat barang-barang antik dan kursi serta lemari yang semuanya terbuat dari kayu jati. Di dindingnya ada beberapa bingkai foto dan sama sekali tidak menandakan bahwa Mbah Darmo adalah seorang guru spiritual karena tidak ada embel-embel yang mencolok di rumah itu.

Suasana begitu sangat mencekam ketika Mbah Darmo duduk di hadapan Fuji dan Mutia. Tatapannya dingin sekaligus tajam.

Fuji meneguk ludah, kepalanya menunduk namun matanya curi-curi pandang ke arah Mbah Darmo dan Mutia.

“Silakan diminum dulu. Pasti capek, ya, perjalanan jauh dari Jakarta. Gimana, macet?” Mbok Ijah—istri Mbah Darmo—menyimpan nampan di atas meja dengan dua cangkir teh hangat dan beberapa makanan yang disajikan di sana.

“Lumayan macet, Mbok,” kata Mutia. “Tadi sempet istirahat dulu di rest area.”

Mbok Ijah mengangguk-angguk, duduk di samping Mbah Darmo.

“Sudah lama sekali kamu tidak berkunjung ke sini, Mutia,” Mbah Darmo menatap dingin selaras dengan nada bicaranya yang sama dingin, berpaling menatap Fuji. “Kamu bawa siapa ini?”

Mutia cengengesan. “Iya, nih, Mbah, saya sibuk,” Mutia memegang bahu Fuji. “Eh, iya, ini Fuji, Mbah, teman saya.”

“Apa tujuannya ke sini?”

Fuji tidak menjawab, dia justru menatap Mutia. Kakinya menyenggol kaki Mutia, berharap Mutia yang mewakili dirinya untuk menjawab karena Fuji sama sekali tidak suka dengan situasi yang terlewat canggung seperti ini.

“Tuh ... ditanyain.” Mutia mengedikkan bahu pada Fuji. “Lo jelasin aja sama Mbah Darmo apa yang sebenarnya terjadi.”

Fuji menghela napas panjang, dia menatap Mbah Darmo dan Mbok Ijah bergantian. “Jadi gini, Mbah, saya ke sini mau tanya dan memastikan bahwa apa yang saya curigai soal kematian pacar saya ini benar atau salah.”

“Kenapa?” tatapan Mbah Darmo melekat pada Fuji.

“Jadi ...,” Fuji menceritakan kronologi kematian Beni di sel penjara sesuai dengan apa yang dia curigai dari mulai cerita Rudi, autopsi, hingga kecurigaan yang mengungkung kuat perasaannya selama ini. “Saya cuma takut aja, Mbah, kalau dugaan saya ini salah. Makanya tujuan saya ke sini, saya mau memastikan. Soalnya saya benar-benar gelisah.”

Mbah Darmo mengangguk-angguk. “Ada foto pacar kamu?”

“Ada, Mbah,” Fuji merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah foto Beni. Ditatapnya sekejap sebelum akhirnya diberikan pada Mbah Darmo. “Ini, Mbah.”

Mbah Darmo mengambil foto itu, dilihatnya dengan saksama. Kedua alisnya menekuk dan gestur tubuhnya terlihat aneh ketika melihat foto Beni—sesekali Mbah Darmo menggeleng, mengangguk dan mengelus jenggotnya yang sudah memutih. Mbah Darmo menatap Fuji.

Lihat selengkapnya