Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #22

VISI MISI

Biasanya rutinitas Gina tiap malam Minggu yaitu baca buku di kamar di temani secangkir susu hangat rasa vanila dan beberapa camilan. Namun, sekarang rutinitas itu harus terinterupsi oleh gedoran pintu yang tidak manusiawi berhasil mengganggu ketenteraman yang sudah Gina ciptakan sedari tadi.

Gina memutar bola matanya malas, dia mendengus kasar. “Masuk.”

Begitu pintu dibuka, Fuji muncul sambil tersenyum. “Dek, sibuk, nggak?”

“Kelihatannya?”

“Nggak, sih.”

Gina berdecak. Dia sedang duduk di meja belajar terpaksa memutar tubuhnya menghadap Fuji ketika kakaknya itu duduk di tepi ranjang. “Mau apa?”

“Dek ... kamu pernah bilang katanya cucu Oma Sarni yang bapaknya meninggal—temen kakak itu—anaknya temen kamu?”

“Bintang?”

“Iya itu.”

“Kenapa?”

“Bantuin kakak, yuk, Dek.”

 “Bantuin apa?”

Fuji menyungging senyum. “Jadi gini ... bapaknya Bintang itu namanya Beni. Nah, Mas Beni ini temen satu kantor sama kakak, kan, terus kemarin beliau meninggal itu katanya kena guna-guna.”

Gina mengernyit. “Guna-guna?”

Fuji mengangguk.

“Zaman modern begini percaya begituan. Emangnya guna-guna bisa bikin orang mati?”

“Ya ... bisa aja—” Fuji garuk-garuk kepala. “—soalnya ini dikirim sama pelaku dengan cara supaya korban ini tersiksa ... kayak misalkan sakit keras tapi setelah dicek malah nggak ada penyakit. Jadi, kan, kalau nggak terdeteksi gitu bikin dokter bingung mau kasih obat apa.”

“Terus ... urusannya sama aku apa?”

Fuji bergeser, lebih dekat dengan Gina. Menarik senyum samar dengan tatapan lekat. “Kakak minta bantuan kamu buat deketin Bintang—”

“Ih, ogah!! Apaan, sih?!” Gina langsung memotong—tidak terima.

“Ih, kebiasaan banget, deh. Dengerin dulu napa kalau kakak ngomong itu sampai selesai.”

Gina menghela napas jengah. “Ya udah, apa?”

“Temen di kantor Kakak, kan, ada yang bisa—dalam artian kayak paranormal gitu—terus dia lihat katanya Mas Beni kena guna-guna dan yang kirimnya itu dari keluarganya sendiri. Terus kakak dikasih tugas ... bukan cuma kakak doang, sih, sebenernya, tapi Mutia juga ... kita itu semua harus usut tuntas masalah ini karena kita prihatin banget sama Mas Beni.”

Fuji terpaksa harus berbohong karena untuk menutupi kalau dirinya dan Beni punya hubungan spesial. Tidak mungkin Fuji berterus-terang pada Gina kalau dirinya jadi selingkuhan Ayah dari temannya. Bisa jadi rujak tumbuk Ibunya kalau tahu Fuji perusak rumah tangga orang. Belum lagi Oma Sarni tetangga mereka dan sangat kenal dengan Ibunya, bisa-bisa jadi buah bibir orang-orang kalau tahu Fuji yang jadi sebab akibat tragedi yang terjadi di dalam keluarga Oma Sarni. Terlebih, Oma Sarni terkenal sangat baik ke semua orang apalagi ke keluarga Fuji.

“Ikut campur banget, sih, sama urusan orang apalagi orangnya udah nggak ada.”

Fuji mengesah. “Bukan masalah gitu—tapi masalahnya Mas Beni ini benar-benar baik banget dan kontribusi di perusahaan itu besar banget. Makanya kita semua setuju buat usut tuntas, supaya hal-hal kayak gini nggak terjadi lagi ke orang lain. Bahaya juga kalau di diemin.”

“Tapi lebih bahaya kalau Om Beni itu berkeliaran. Nyawa orang tua sama istrinya aja dibantai, apalagi nyawa orang?”

Hush!” Fuji membelalak mendengar celetukan Gina yang menampar realitanya dengan telak. Dia tidak menyangka kalau Gina akan mengatakan itu, terlebih ada rasa sakit di dada yang tiba-tiba menyayat ketika sadar yang sudah Beni lakukan. “Nggak boleh ngatain begitu sama orang yang udah meninggal.”

Gina mengedikkan bahu, tidak peduli. “Terus urusannya sama aku, apa?”

“Nah, gini—temen-temen kantor Kakak, kan, pada tahu kalau rumah Kakak sama Oma Sarni itu tetanggaan, jadi mereka kasih kakak tugas supaya bisa masuk dan geledah rumah Oma Sarni. Soalnya ... katanya ada salah satu benda dari kotak kayu gitu yang disimpan sama yang udah kirim guna-guna ke Mas Beni di salah satu kamar di sana.

“Nggak mungkin dong, kalau Kakak tiba-tiba nyelonong aja, gitu? Jadi kakak minta bantuan kamu buat deketin Bintang dan tanya-tanya soal ini ... atau kalau bisa kamu yang cari—”

Wait ...,” Gina memotong—menempelkan telunjuknya di bibir Fuji. “Jadi maksud Kakak, aku harus yang nyelonong masuk ke rumah Oma Sarni dan geledah semuanya? Gila aja kalau iya!”

“Ya nggak dong, cantik,” Fuji mencubit gemas pipi Gina sampai Gina meringis. “Maksud Kakak itu ... kamu deketin Bintang, tanya-tanya soal siapa yang paling benci sama Ayahnya. Entah itu saudara, sepupu atau—”

“Aku yakin Bintang, sih.”

Lihat selengkapnya