Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #23

GUNUNG ES

Bel istirahat baru saja berbunyi, semua siswa-siswi yang masih sibuk menulis dengan refleks menyelesaikan tugasnya dan langsung menyeringai. Buru-buru mereka menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas padahal guru di depan kelas belum selesai bicara, tapi mereka tidak peduli dan tindakannya seolah mengusir guru secara halus tanpa diminta.

Begitu guru beranjak dari singgasananya, siswa-siswi di dalam kelas langsung berhamburan keluar seperti kacang tumpah ruah dalam karung, berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi amunisi yang sudah terkuras habis.

Gina sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas, sementara Bintang sudah melengos pergi keluar hingga berhasil menarik perhatian Gina menatap pergerakan Bintang sampai punggung laki-laki itu lenyap tak terlihat. Gadis itu diam beberapa menit, sampai akhirnya bahunya ditepuk dari belakang oleh Yuni sampai Gina berjengit kaget. “Gin.”

“Eh—” Gina menengadah, menoleh ke belakang. “Iya, kenapa?”

“Ayo ih! Gue udah lapar banget.”

“Iya, iya, ayo.” Gina berdiri, diikuti Yuni dan mereka keluar kelas.

Dari kejauhan, Gina melihat Bintang sedang mengobrol dengan beberapa temannya dari kelas lain di samping perpustakaan. Tiba-tiba langkahnya melambat dengan pandangan tidak lepas menatap laki-laki itu dan tidak mengindahkan Yuni yang nyerocos sedari tadi, sampai Yuni memukul keras bahu Gina.

“Ngelamun mulu lo! Lo denger nggak, apa yang gue omongin?”

“Hah?” kedua alis Gina terangkat, menatap Yuni yang berjalan di sampingnya, refleks tangan kanannya menggaruk kepala. “Apa?”

“Ah, tahu ah, males banget!”

Gina cengengesan, berusaha merayu Yuni. “Jangan ngambek dong. Itu ... anu ... tadi gue lihat itu ... apa—” atensi Gina kembali menatap Bintang yang tiba-tiba masuk ke perpustakaan, tanpa disadari, alisnya menekuk tak percaya melihat laki-laki itu masuk ke ruangan yang menurut Bintang sendiri kalau ruangan itu paling sakral untuk dikunjungi. Sebuah keajaiban Dunia ke delapan kalau murid macam Bintang mau menginjakkan kakinya di sana. Kalau tidak kepepet amat atau disuruh guru mengambil buku untuk sebuah tugas, paling banter dapat hukuman untuk membersihkan semua debu.

Makanya tidak heran beberapa orang termasuk Gina mengernyit heran ketika melihat laki-laki itu masuk ke dalam sana. “Gue ke perpus dulu—” Gina berpaling menatap Yuni. “—nanti gue nyusul. Gue lupa ada buku yang harus gue pinjem.” Gina cengengesan sementara Yuni mendelik jengkel.

“Ih, nyebelin banget! Bilang dong dari tadi.”

“Serius gue lupa.”

“Ya udah kalau gitu, gue tunggu di kantin. Awas lo jangan lama.”

“Iya. Ya udah, bye!” Gina melengos pergi meninggalkan Yuni dengan langkah kaki cepat nyaris berlari sampai langkahnya berhenti tepat di pintu masuk perpustakaan. Dia menatap papan nama di bagian atas. “Ini beneran perpustakaan—” pandangannya kembali menatap ke arah dalam. “—mau ngapain itu anak ke sini? Tumbenan banget.”

Gadis itu melangkah masuk ke dalam, celingak-celinguk menatap lorong setiap lorong yang dia lewati. Sampai akhirnya, orang yang dia cari ada di ujung lorong sedang sibuk membaca sambil berdiri. Gina memicingkan mata, berusaha meneliti kalau itu benar-benar Bintang.

Gina menengadah, dia tidak mau Bintang memergokinya dan ketahuan kalau Gina sudah membuntutinya. Alhasil, Gina memilih bersembunyi di lorong samping Bintang, sambil pura-pura memilih buku tetapi pandangan tetap menatap ke arah laki-laki itu yang terlihat sedang fokus. Gina mengintip di sela-sela buku.

Bintang berjalan perlahan dengan pandangan masih tetap fokus pada buku yang sedang dia baca seolah apa pun yang ada di sekitar tidak mampu menarik perhatian. Pasalnya, menarik kursi saja pandangannya tetap pada buku sampai dia duduk.

Gina mengernyit melihat Bintang seserius itu, dia penasaran buku apa yang sedang Bintang baca sampai berhasil merenggut semua atensinya. Gina menengadah melihat rak dan buku-buku di sekitarnya, matanya tertuju pada buku tebal di hadapannya,  dia mengambil buku itu. Gadis itu menghela napas, merapikan pakaian serta rambutnya, sebelum akhirnya melangkah perlahan mendekati Bintang yang masih fokus.

Gina berdeham. “Gue boleh duduk di sini?”

Bintang melirik Gina sekejap yang berdiri di depannya dan kembali fokus pada buku yang sedang dia baca. “Nggak di mana-mana ketemu lo mulu.” Intonasinya terdengar sangat dingin seolah tidak mau diganggu, tapi Gina tidak pedulikan itu, tanpa jawaban yang jelas dari Bintang, Gina menarik kursi di hadapan Bintang.

Thanks, ya!” Gina menyungging senyum. Jemarinya membuka buku namun pandangannya tertuju pada Bintang, lalu melirik bagian depan buku yang Bintang genggam. Ternyata buku biologi. Gina mengangguk-angguk samar. “Tumben banget baca buku pelajaran, biasanya alergi banget.”

Bintang melirik, sorot matanya dingin namun tajam. “Kalau mau duduk di sini, nggak usah berisik.” Lelaki itu kembali fokus pada buku.

Gina mengesah panjang. Terpaksa dia terdiam. Jari-jemarinya membolak-balikkan lembaran buku namun sesekali curi-curi pandang ke arah Bintang.

“Tang ...,” bisiknya—Gina mencondongkan tubuhnya, mendekat ke Bintang. “Ujian Nasional, kan, sebentar lagi, ya? Lo ada niat buat cari buku modul, nggak?”

“Ada.”

“Udah?”

“Belum.”

“Mau cari kapan?”

Bintang mengedikkan bahu.

“Pulang sekolah aja, yuk?”

Bintang melirik Gina. “Ngapain ngajak gua? Sendiri aja sana.”

Gina mendengus. “Biar sekalian. Gue tahu modul yang bagus buat latihan ujian nanti.”

Bintang terdiam, tidak menjawab. Kembali fokus pada tulisan-tulisan yang ada di buku tebal di hadapannya.

“Ok?”

Bintang tetap diam.

Gina mengerucutkan bibirnya kesal. Jengkel juga melihat Bintang yang sok misterius seperti ini. Padahal dulu Bintang tidak begini, justru dia sering menggoda Gina sampai Gina jengkel setengah mati, selepas itu pasti menertawainya sampai terbahak-bahak. Namun sekarang, perubahan itu sangat pesat. Seperti diputar seratus delapan puluh derajat, seperti langit dan bumi dan Bintang yang di hadapannya sekarang, bukan Bintang yang selama ini Gina kenal.

Dingin. Beku. Misterius.

Ponsel Gina di dalam saku roknya bergetar. Tangannya merogoh saku itu dan melihat pesan masuk dari Yuni terpampang di layar;

Lo di mana, Gin? Awas aja lo malah baca di perpus.

Gina meringis, dia membalas;

Sabar napa.

Gina melirik Bintang, ponsel itu kembali dimasukkan ke dalam sakunya. “Ya udah, Tang, diemnya lo gue anggap jawaban iya. Kalau gitu, gue pergi dulu. Bye!”

Gina beranjak, melengos pergi meninggalkan Bintang tanpa membawa buku yang semula dia bawa. Bintang melirik buku itu, berbalik menoleh ke belakang melihat punggung Gina yang menjauh hingga tidak terlihat.

“Cewek aneh!” kembali Bintang melirik buku itu. “Nggak disiplin banget! Buku bukannya di balikin ke tempatnya, malah ditaro di sini.” Tangan Bintang terulur mengambil buku itu. Alisnya menekuk ketika membaca judul yang tertera di sampul.

Cara Jitu Menjadi Pelawak.

Seringai senyuman tertarik di ujung bibirnya. “Pantesan lawak tuh anak.”

***

Bintang berjalan menuju pelataran parkir dan melihat tempat itu terlihat kosong, hanya tersisa beberapa motor dari guru-guru dan motor miliknya. Bintang mengeluarkan kunci dari dalam tas, memasukkan kunci itu ke dalam stopkontak dan duduk di atas motornya.

Lihat selengkapnya