Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #24

PERTEMUAN MENGGALI LUKA

Di luar hujan deras. Aroma hujan menyeruak masuk lewat celah jendela dan ventilasi kamar Gina dengan penerangan yang temaram. Udara malam, aroma hujan, suara rintik ketika jatuh menghantam tanah adalah perpaduan komplit untuk tertidur lelap sambil mengurung diri dengan selimut adalah perpaduan yang nikmat.

Namun sayangnya, Gina tidak bisa tidur.

Akhir-akhir ini dia susah memejamkan mata padahal Gina bukan tipikal orang yang sering begadang apalagi insomnia. Mungkin karena memikirkan Ujian Nasional yang akan datang atau bisa jadi memikirkan perasaan aneh yang belakangan ini justru hinggap dalam dirinya.

Dia berusaha memejamkan mata, namun entah kenapa matanya menolak untuk terpejam dan berkali-kali kembali terbuka sampai membuat Gina frustrasi dibuatnya. Dia menyambar ponselnya di atas nakas, melihat layar dengan bosan, lalu matanya berpindah melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan malam tepat.

Suara knop pintu terdengar dibuka dari luar, Gina tersentak, perhatiannya teralihkan dari layar ponsel ke wajah seorang perempuan yang bergerak mendekat sambil menggenggam ponsel di tangannya dan memakai kacamata minus yang melorot sampai pangkal hidung. Ibunya berdiri di samping ranjang. “Ini, loh, kakak kamu kirim pesan ke Ibu katanya kenapa nomor kamu nggak aktif?”

Gina mengernyit heran. “Aktif kok.”

“Coba, nih, kamu balas aja. Atau kamu chat kakak kamu.”

Gina mendesis. “Di handphone ibu aja deh. Mau apa katanya?”

“Kan nanti malam Minggu ulang tahun Nenek, jadi kita ke sana. Terus kata Kakak, kamu bawa temen kamu ... siapa itu namanya? Yang cucu Oma Sarni.”

Gina memutar bola matanya malas. Bangkit dari tidurnya dan duduk di atas kasur. “Iya nanti aku chat Bintang.”

“Siapa?”

“Bintang.”

“Itu siapa? Pacar kamu?”

Gina mengernyit, menggeleng cepat. “Bukan ih. Temen sekelas aku itu, kebetulan sebangku juga. Terus itu katanya anak dari temen kerja kakak.”

“Oh. Anaknya siapa, sih? Deni?”

“Bukan. Anaknya Om Beni—almarhum.”

Ibunya tiba-tiba terbelalak. “Oh! Yang masuk penjara itu? Yang udah bunuh Oma Sarni sama istrinya?”

Gina mengangguk.

Ibunya geleng-geleng kepala. “Kasihan, ya, anak-anaknya. Ya udah nanti kamu ajak Bintang, ya, sekalian Ibu pengen kenalan.”

Gina mendelik. “Hm.”

“Ya udah kalau gitu, kamu chat kakak aja sekarang.” Lalu ibunya berbalik, kembali keluar dan menutup pintu kamar Gina.

Gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Dia menatap layar ponselnya lama, dengan nama kontak Bintang 9c yang tertera di sana. Kedua jempolnya menggantung di atas layar. Gina menghela napas panjang, tanpa sadar jarinya meng-klik tombol pesan dan mengetik sesuatu di sana.

***

Bintang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan telanjang dada, rambutnya terlihat basah dengan handuk yang bertengger di lehernya. Dia duduk di tepi ranjangnya ketika menyadari ponselnya di atas meja bergetar, dia mengernyit ketika melihat nomor tidak dikenal mengirim pesan padanya.

Tang, besok malam lo sibuk nggak? Temenin gue, yuk?

Bintang mengernyit heran sampai menarik wajahnya ke belakang. “Siapa ini? Sok akrab banget.” Jari-jemarinya menari lihai di atas permukaan layar dan membalas pesan.

Siapa lo?

Beberapa detik berikutnya, balasan masuk.

Regina cewek paling cantik di kelas! Jahat banget nomor gue nggak lo save.

Kernyitan di dahinya semakin kentara jelas. “Idih! Pede gila!”

Tau nomor gue dari mana?

Lima detik berikutnya, muncul sebuah balasan.

Minuman gosok di warung.

Bintang menggeleng, dengan cepat dia menekan tombol panggil, penasaran siapa yang sudah mengirimnya pesan. Takutnya bukan Gina dan justru orang yang jahil sedang mengerjainya. Tiga kali terdengar dering dari seberang telepon sana dan kemudian suara perempuan menyahut di balik ponsel. “Kenapa malah telepon?” suara perempuan yang dia kenal dan benar itu suara Gina.

“Ada apaan?” tanya Bintang dingin, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang menggantung di leher.

“Malam Minggu temenin gue.”

“Ke mana?”

“Pokoknya ada. Kalau gue kasih tahu, pasti lo nggak mau.”

“Seyakin itu?”

“Iya.”

“Kalau gua tetep nggak mau, gimana?”

“Please.” Terdengar suara Gina seperti memohon di balik telepon sana, tanpa sadar membuat senyuman tipis di bibir Bintang terukir dengan sendirinya. Lima detik berikutnya, dia menepuk pipinya, berusaha kembali tersadar.

“Habisnya lo kagak jelas.”

“Iya nanti gue jelasin. Udah, ya, gue ngantuk, nih. Bye! Sampai ketemu lagi, Bintang Dwi Santoso. Cowok paling tengil.”  Sambungan terputus. Tidak ada lagi suara Gina terdengar dari balik teleponnya, hanya bunyi tut-tut-tut yang menyahut, namun Bintang masih setia menempelkan ponselnya di telinga. Membeku di tempat.

***

Sesuai janji. Gina sudah rapi mengenakan dress selutut berwarna Navy dan dengan ragu mengetuk pintu rumah Oma Sarni yang terlihat rumah itu seperti kosong tidak ada orang. Gadis itu menggigit bibir, menduga-duga kalau Bintang lupa dengan ajakan Gina kemarin.

“Ck! Mana, sih?” Gina celingak-celinguk menatap jendela yang tertutup gorden dari dalam. “Assalamualaikum.”

Beberapa menit berikutnya, suara knop pintu terdengar dari arah dalam dan diiringi pintu yang terbuka, menampakkan Bintang berdiri di sana. Bintang mengamati penampilan Gina dari atas hingga bawah dengan heran. “Mau ngapain lo ke sini?”

Lihat selengkapnya