Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #25

TUMBAL KEEGOISAN

FUJI menggigit jari telunjuknya dengan resah dan gelisah di depan sebuah rumah dua lantai dengan pagar hitam menjulang tinggi terkesan mengintimidasi dan mobil sedan terparkir di pelataran, berkali-kali Fuji menekan bel namun tidak ada sahutan atau tanda-tanda adanya manusia di dalam rumah itu. Gadis itu berdecak kesal, dia merogoh tas hitamnya dan mengambil ponsel di dalam, mengutak-atik benda tipis itu dan menempelkannya di telinga.

Suara dering terdengar dari balik telepon. “Angkat napa!! Ck!!” dia menggerutu kesal, tidak ada jawaban dan kembali gadis itu terfokus pada benda digital yang sekarang menjadi pusat perhatian.

Sedang asyik mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar deru mesin motor yang memecah sunyi malam dengan seberkas cahaya putih dari lampu depan motor menyapu aspal, terus mendekat hingga akhirnya tepat mengarah ke wajah Fuji.

Refleks, gadis itu mengangkat telapak tangan untuk menutupi sebagian wajahnya, mencoba menghalau silau yang seolah menikam kedua matanya.

Motor itu akhirnya melambat tepat di depan gerbang. Deru mesinnya menghilang. Perlahan Fuji menurunkan telapak tangannya. “Hei, Ji! Ngapain di sini? “ Fuji berkedip berkali-kali, berusaha mengusir sisa-sisa silau yang masih mengaburkan pandangannya. Saat penglihatannya mulai kembali jelas dan terdengar suara tepat di hadapannya, terlihat Mutia duduk di atas motor lengkap dengan helm menutupi kepalanya.

Fuji mendengus. “Lo ke mana aja, sih, Mut? Gue dari tadi nungguin lo di sini, di telepon kagak di angkat, di chat kagak di bales juga.”

Mutia cengengesan, mengusap tengkuknya. “Sorry, gue habis dari minimarket, hp nggak dibawa. Ya udah ayo masuk, daripada ngedumel di sini.” Mutia turun dari motor, membuka pagar dan kembali menaiki motornya, masuk ke dalam dan memarkirkan motornya tepat di samping mobil sedan. Dia turun dari motor sambil membuka helm, menatap Fuji yang sedang menutup pagar. “Katanya ada acara Nenek lo ulang tahun. Kok malah ke sini? “

Fuji memutar bola matanya, berbalik dan berjalan menghampiri Mutia. “Gue balik duluan. Ada yang mau gue ceritain sama lo.”

“Ya udah, di dalam aja,” Mutia merangkul bahu sahabatnya itu. “Udah kelihatan dari muka lo asem begini. Pasti ada masalah serius.”

Fuji menghela napas. Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.

“Eh, mau minum apa, Ji?”

“Nggak usah, gue nggak haus.”

“Mak—”

“Nggak lapar juga,” Fuji mengesah panjang.

Mutia terdiam, menatap lekat Fuji. Terlihat air wajah sahabatnya itu tertekuk, guratan emosi, sedih dan bingung bercampur jadi satu. “Ok, apa yang mau lo ceritain?”

Fuji menghela napas, akhirnya dia bercerita bagaimana pertemuan pertamanya dengan Bintang di acara ulang tahun neneknya. Bagaimana mengobrol dengan Bintang yang mengalir sampai terasa seperti sedang mengobrol dengan Beni, hingga Fuji bisa mengobati sedikit rasa rindunya dengan melihat senyuman Bintang yang sama persis seperti senyuman Beni. Dia juga cerita pada Mutia kalau sampai akhirnya Bintang memilih pulang karena celetukan Fuji yang mungkin menyinggung perasaan Bintang.

Mutia menghela napas. “Lagian lo ini ... ya, pantes aja si Bintang itu langsung badmood, lo malah bahas hal sensitif ke dia yang jelas-jelas dia lihat kejadian di depan matanya. Terus menurut gue nih, ya, rencana lo yang suruh Rere buat deketin Bintang itu udah buang-buang waktu tahu, nggak!”

Fuji mengernyit. “Maksudnya?”

“Iya, lagian nih, kalau semisal Rere berhasil deket sama Bintang terus lo pikir ... emangnya Rere bisa seenaknya masuk ke kamar Bintang? Bisa leluasa masuk ke kamar lain di rumah itu? Nggak, kan? Yang ada keburu di garebek kali sama orang-orang di rumah itu. Lo itu kebiasaan nggak pernah mikir panjang. Heran banget deh gue.”

Fuji termenung, menyadari bahwa perkataan Mutia ada benarnya dan masuk akal. Gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, tangan kanannya mengusap dagu dengan tatapan tertuju pada Mutia. “Hm ... perkataan lo ada benernya juga, sih.”

“Bukan ada benernya, tapi emang bener,” Mutia mendelik. “Lagian lo, kan, pinter nih, tapi sayang banget otak kagak dipake. Percuma juga kalau cuma buat pajangan doang.”

“Sialan! “ Fuji melempar bantal sofa dan tepat mengenai wajah Mutia yang duduk tepat di seberangnya.

Mutia cekikikan geli, dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Fuji. “Lo itu, nih, ya, terlalu gegabah dan bertindak semau lo, nggak pikir panjang. Coba deh, lo kalau apa-apa itu dipikir dulu atau diskusi dulu sama gue kek atau siapa gitu. Jangan langsung ambil tindakan yang justru malah jadi bumerang buat lo.”

Fuji memejamkan mata, menyugar rambutnya frustrasi. “Ah! Nyesel gue! Sekarang gue bingung harus gimana?”

Mutia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, pandangannya menatap langit-langit, seolah berpikir. Begitu juga dengan Fuji. Mereka terdiam, memutar otak untuk menemukan cara dan sebuah ide, suasana hening mengungkung setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya Mutia menjentikkan jarinya dan refleks membuat Fuji menoleh ke arahnya. “Ah—gue punya ide.”

Fuji mengernyit. “Apa?”

Mutia mencondongkan tubuhnya. “Menurut gue ... ya ... ini emang agak gila, sih, dan mungkin bisa dibilang impossible. Jalan satu-satunya supaya lo punya akses masuk ke rumah itu bahkan ke kamarnya dengan leluasa, yaitu lo harus jadi ART di rumah itu.”

Kedua alis Fuji semakin menekuk. “Ide gila itu namanya. Yakali gue harus korbanin pekerjaan impian gue demi jadi ART? Aduh, Mut, sama aja ternyata otak lo sama gue—sama-sama nggak mikir panjang.” Fuji geleng-geleng kepala, tidak habis pikir.

Mutia menghela napas, mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa dengan kedua tangannya dilipat di depan dada. “Ya, itu, kan, saran dari gue, ya, terserah mau lo lakuin atau nggak. Tapi itu satu-satunya cara yang paling ampuh menurut gue ... eh atau—” Mutia menarik tubuhnya duduk tegak. “—lo minta tolong ke Rere buat jadi ART di rumah itu aja. Bukannya dia dulu sering temenin Oma Sarni?”

“Mana dia mau? Sekarang aja dia ngambek sama gue.”

“Ya ... lo tinggal bujuk aja atau kasih dia sesuatu sampai bikin dia luluh kek.

Fuji terdiam. Tidak merespons.

“Atau, atau—” Fuji melirik Mutia yang terlihat antusias. “—lo ancam dia supaya dia mau turutin apa mau lo.”

“Caranya?”

Mutia menyungging seringai senyum, dia bangun dari sofa dan pindah duduk di samping Fuji. Gadis itu berbisik tepat di telinga Fuji.

Lihat selengkapnya