Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #26

KETIDAKSENGAJAAN YANG MENGUNTUNGKAN

BINTANG turun dari motornya, dia berjalan masuk dengan tas ransel bertumpu di bahu kanannya. Bertepatan sewaktu dia ingin masuk, matanya menangkap Gina juga yang baru datang. Tapi perempuan itu buru-buru melengos pergi, menghindar begitu bertatapan dengan Bintang. Laki-laki itu mendengus, menatap punggung Gina yang berjalan menjauh.

Langkah kaki Bintang berhenti dan pandangannya tertuju pada papan pengumuman yang terlihat ramai. Seluruh murid berkumpul di sana. “Eh, ada apaan?” Bintang bertanya pada salah satu laki-laki yang baru saja melihat.

“Itu pengumuman nilai tertinggi Ujian Nasional kelas sembilan sekaligus siswa-siswi berprestasi.”

“Oh, ya? Nilainya udah keluar?”

“Udah.”

“Ok, thanks.” Bintang menepuk bahu laki-laki itu dan mendekati papan pengumuman. Tubuhnya yang tinggi, Bintang bisa leluasa untuk bergerak maju menerobos kerumunan dan akhirnya dia bisa berdiri di jajaran paling depan dan melihat beberapa kertas yang ditempel oleh Guru dengan nama-nama siswa-siswi yang berhasil mendapat nilai tertinggi Ujian Nasional dan siswa-siswi berprestasi.

Bola mata Bintang menjelajah nama-nama anak berprestasi, barangkali ada namanya tertera di sana. Namun nihil, sama sekali tidak ada. Bahkan Bintang memicingkan mata, takutnya tidak terlihat, dengan telunjuk menyusuri setiap nama yang tertera, ada nama Gina di sana namun tetap tidak tertera namanya.

Dia mendengus sebal, jantungnya berdebar kencang. Dia merasa gagal, padahal dia sudah menyita banyak waktu untuk belajar, les setiap hari bahkan menghabiskan uang jajan hanya untuk membeli buku pelajaran, tapi ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa, sama saja seperti dulu, ketika dia malas-malasan belajar.

Pandangannya berpaling melihat nama-nama siswa-siswi yang mendapat nilai Ujian Nasional terbesar, dia hanya iseng dan tahu akan mustahil kalau namanya tercantum di sana. Jari telunjuk kanannya mulai bergerak, menyusuri nama dari jajaran atas dan perlahan ke bawah. Namun, jari itu berhenti tepat di urutan nomor lima. Bintang terbelalak, bahkan dia tidak percaya kalau namanya justru tertera di sana. Bintang melompat kegirangan. Perasaannya campur aduk antara sedih, bahagia dan bangga dengan segala perjuangannya ternyata tidak sia-sia.

Dulu, Bintang akan selalu menyembunyikan nilainya karena selalu mendapat merah, bahkan kalau pengambilan rapor, selalu saja jadi bulan-bulanan Mama karena semua nilai rapornya merah. Nilai terbesar yang pernah dia dapat adalah delapan, itu pun hanya di pelajaran olahraga. Hingga Mama selalu memberi hukuman dengan tidak memberi Bintang uang jajan selama satu Minggu.

Tapi hari ini, dia bisa membuktikan pada Mama kalau Bintang bisa memenuhi keinginan Mama. Sore hari setelah pulang, Bintang langsung ke makam Mama dan Oma. Dia menaburkan bunga dan air di atas dua gundukan tanah seseorang yang sangat Bintang cintai.

“Mama, Oma ... apa kabar?” Bintang duduk di tengah-tengah antara makam Mirna dan Oma. Sambil meletakkan dua buket bunga di depan batu nisan Oma dan Mirna pualam nan dingin “Bintang ada kabar baik. Minggu lalu Bintang selesai ujian dan sekarang nilainya udah keluar. Mama sama Oma mau tahu, nggak? Coba tebak nilai Bintang berapa?”

Sepi. Hanya semilir angin dan cicit burung yang menjawab.

“Bisa tebak, nggak? Awas, ya, Mama sama Oma malah tebak nilai Bintang lima,” katanya sambil tertawa geli. “Ok, deh, sekarang Bintang kasih tahu, nilai Ujian Nasional Bintang masuk ke jajaran nilai terbesar di sekolah—iya, meskipun nggak sebesar nilai Abang tahun lalu, bisa tembus terbesar se-DKI Jakarta. Tapi Bintang bangga sama diri Bintang karena selama ini Bintang berjuang dan turutin kemauan Mama kalau Bintang harus giat belajar. Dan alhamdulillah, hasilnya memuaskan, Ma.”

Air mata Bintang jatuh tepat di gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan hijau. Bintang memeluk batu nisan Mirna, menenggelamkan wajahnya di sana. Isak tangisnya terdengar jelas. Semilir angin seolah mengelus lembut rambut Bintang. “Bintang kangen banget sama Mama, sama Oma. Selama ini Bintang ngerasa Mama sama Oma masih ada di sini—di dekat Bintang—tapi Bintang sadar ... Mama sama Oma udah sangat jauh, nggak nyata, udah hilang. Bintang kangen pengen peluk Mama sama Oma, tapi nggak bisa.”

Pelukannya semakin erat, isak tangisnya semakin sesak. Impian terbesar Bintang adalah ingin membahagiakan Mama meski tidak bisa seperti Lintang, memberikan seluruh dunianya untuk Mama, sama seperti yang pernah dia tulis di tembok rumah kalau Bintang mencintai Mama sedunia alam semesta. Tapi dia sadar, sekarang dunianya sudah hancur, gelap dan senyap. Dunia yang mendadak sunyi dan sepi. Meredup, menghilangkan suara, terkubur bersama dalam dunia antah-berantah.

Kenyataan yang mencambuk Bintang akan sadisnya realita. Kehidupan yang hampa kini mengungkung kuat seluruh perasaan. Terjebak dalam dunia yang disebut kesepian.

***

Fuji merasakan tubuhnya lelah luar biasa, selama seharian dia nyaris belum istirahat. Dia harus berkutat di depan komputer untuk membuat desain, belum lagi dia harus turun langsung ke lapangan untuk mengecek proyek, terlebih lagi tempat proyek itu ada di daerah Tangerang. Fuji baru sampai apartemen ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam tepat.

Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, lapar dan harus berjibaku dengan kemacetan kota Jakarta adalah perpaduan yang sudah seharusnya dihindari. Kepala Fuji kini terasa kunang-kunang, bahkan dia sempoyongan ketika berjalan ke dapur untuk mengambil minum.

Suara pintu terdengar diketuk beberapa kali, Fuji yang sedang meneguk gelasnya mendadak berhenti. Dia berjalan lunglai menuju pintu dan membukanya. Fuji mengernyit ketika menyadari kalau tamu itu adalah Gina.

“Ngapain kamu ke sini malam-malam begini?” Fuji celingak-celinguk menatap koridor. “Sendirian?”

Gina mengangguk. “Iya.” Gina terpaksa datang dengan perasaan bersalah.

“Ngapain, sih? Kenapa nggak sama Ibu? Kalau ada yang copet kamu lagi di jalan, gimana?”

Ish! Ya udah, sih, ajak aku masuk dulu, napa!”

Fuji menarik tubuhnya ke samping, mempersilakan Gina masuk ke dalam. Pintu ditutup, pandangannya menatap Gina yang sudah duduk di sofa. Fuji duduk di seberang Gina. “Ada apa?”

“Aku ke sini mau bilang, kalau aku udah selesai ujian dan hasilnya udah keluar.”

“Ooh, bagus, deh.” Fuji mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa, memijat dahinya yang terasa pusing.

“Aku masuk daftar anak berprestasi di sekolah.”

Good job, girl.” Fuji merespons dengan suara parau, matanya terpejam dan tangannya masih memijat kepalanya.

“Aku ... niat aku ke sini ... buat itu ... apa—”

“Kasih tahu kakak soal nilai kamu?”

“Iya, tapi bukan soal itu.”

“Terus?”

“Itu ... soal ... itu ... tawaran Kakak buat aku kerja di rumah Oma Sarni.”

Refleks Fuji membuka matanya dan menarik tubuhnya duduk tegak. “Kenapa?”

Gina menghela napas panjang. “Setelah aku pikir-pikir ... ok, aku mau kerja di rumah Oma Sarni tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Kakak harus bisa jamin kalau aku nggak bakalan ketinggalan sekolah. Aku nggak mau kalau harus telat sekolah. Aku pengen kayak kakak juga, sekolah tinggi dan bisa gapai cita-cita aku.”

Fuji menyungging senyum lebar. Semula rasa pusing, lemas dan tidak bertenaga kini mendadak lenyap dan digantikan dengan perasaan bahagia dan antusias. Seolah energinya kembali terisi penuh ketika melihat Gina akhirnya menyerahkan diri.

Bukan semata-mata Gina mau menyerahkan diri seperti ini kalau bukan karena peringatan sekaligus ancaman Fuji yang membuat Ibunya ikut turun tangan untuk membujuk Gina. Meski Ibunya tidak tahu juga dengan alasan apa Fuji bersikeras melakukan itu. Walau tidak masuk akal ketika Gina bercerita semuanya. Sampai ibunya berkata;

Lihat selengkapnya